
Setelah aku bersih-bersih badan aku mengobrol dengan kedua anakku dikamar mereka. Kami bercerita tentang apa yang tidak bisa kami ceritakan ditelepon termasuk pekerjaanku dikota saat masih bersama lastri.
"Memang ibu tidak takut ya sama setan" tanya anak keduaku
"Itu bukan setan nak, itu jenazah" kataku menjelaskan
"Tetap saja bu, artinya ibu bermain-main dengan setan" kata anak pertamaku
Tiba-tiba listrik padam. Anakku yang sedari tadi membicarakan hal seram langsung berteriak bersamaan.
"Ahhhh.." teriak kedua anakku
Aku mulai merasakan ada yang sedang berdiri diluar jendela. Kucing milik anakku tak henti mencakar pintu depan. Karena ikut merasakan ada roh yang datang.
Aku mencari lampu senter diatas meja tv. Aku melihat ada bayangan yang berdiri diluar pintu depan. Kedua anakku berada disampingku. Memegang sisi samping bajuku.
"Bu aku takut, setannya marah ya sama omongan adek" kata anakku yang kedua
__ADS_1
"Kamu sih dek" kata anakku yang pertama
"Hushhh.. Sudah jangan pada bertengkar. Bantu ibu baca Al-quran" kataku berusaha melerai mereka berdua
Anakku yang paham akan kebiasaanku jika aku melihat ghaib langsung mengikuti aku berwudhu.
"Nak, kita baca surat yasin dulu ya. Setelah itu kita baca surat kahfi" ucapku sambil mengenakan mukenah
Kami bertiga duduk bersampingan ke arah kiblat. Dengan khusyuk kami membaca surat yasin. Dipertengahan ayat mulai ada suara gaduh diatas plafon. Seperti suara tikus yang sedang berlarian walaupun itu bukan tikus yang sebenarnya.
Kami mengencangkan volume suara mengaji kami bertiga. Disaat membaca surat kahfi pun suara lolongan anjing tak henti-hentinya bersahutan. Bahkan ada anjing yang berdiri didepan gerbang rumah dan melolong ke arah pintu depan rumahku.
"Bu, aku mau membawa masuk si meong boleh? Aku tidak ingin dia mati juga bu seperti si ipi" kata anakku yang kedua
Anakku dulu memiliki kucing 4 ekor. Ia asuh sejak kecil yang ia temukan di pasar. Tapi saat gonjang-gonjing sengketa tanah milik suamiku yang ingin aku jual, 3 ekor kucing itu mati mendadak. Disaat ada orang jahat yang ingin mencelakai keluargaku, justru santet itu terpental ke kucing tersebut. Aku bersyukur keluargaku selamat tetapi anakku sedih dengan kematian kucing miliknya.
"Sabar ya nak, kita tutup dulu dengan membaca ayat kursi 10 kali" kataku menenangkan anakku
__ADS_1
Saat membaca ayat kursi, berulang kali pintu tengah ruang tengah dan dapur berderit. Kedua anakku memegang erat kedua tanganku. Perlahan hawa rumah menjadi netral, tidak panas ataupun dingin. Tiba-tiba listrik pun menyala.
"Alhamdulillah" kata kami bersamaan
"Kurang 1 kali lagi baca ayat kursinya" kataku menarik tangan anakku. Dia sudah khawatir dengan kucing yang berada diluar rumah.
*****
Anakku pun membawa kucingnya kedalam rumah.
"Ibu kangen tidak sama meong? Meong sudah lama tidak digendongin ibu" kata anakku dengan bersuara seperti anak kecil
Saat aku melihat si meong, aku melihat matanya merah dan ada yang nangkring dalam tubuh si meong. Lalu aku memegang kepala meong dan membacakan ayat kursi. Meong berontak, penunggunnya marah denganku.
"Dek, lebih baik si meong ditaruh diluar dulu. Ibu tidak mau hawa rumah ini negatif kembali" kataku dengan mengusap tubuh si meong
"Bu, ada yang merasuki meong ya? Nanti kalau meong kabur gimana?" tanya anakku
__ADS_1
"Percaya sama ibu nak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" kataku kembali
Malam ini kami tidur bertiga dikamarku. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Aku mencoba memejamkan mata walau ada yang meniup ubun-ubunku.