
Setelah menutup telepon, aku membuka pintu kamar untuk melihat benda apa yang terjatuh diluar. Ternyata yang jatuh adalah pot kecil yang tergantung didinding. Pot berisi kaktus itu pecah dan tanahnya berserakan. Aku memindahkan sementara pot itu kedalam kantong plastik dan mengikatnya dengan kuat. Sementara sisa tanah yang tersisa aku sapu dan dikumpulkan dipojok didinding.
Aku kembali masuk kekamar, mencoba untuk tidak berpikiran yang aneh. Besok pagi aku harus pergi ke rumah bapak Chris. Lebih tepatnya pukul 9 pagi aku harus sudah dirumahnya karena prosesi pemakaman akan dilakukan pukul 11 siang.
"Astaghfirullah, aku lupa untuk mencuci spons dan brush."
Segera aku buka kotak make up dan mengeluarkan spons dan brush yang biasa aku gunakan untuk merias. Lalu aku cuci menggunakan shampo hingga bersih. Setelahnya aku berdirikan didalam gelas dan aku letakkan dekat kipas angin. Selepas itu aku mencoba untuk tidur sambil membaca sholawat sampai aku benar-benar tertidur.
Pukul 3 pagi alarm handphone berbunyi membangunkan aku untuk sholat tahajud. Aku mengambil air wudhu dan sholat dengan khusyuk. Saat rakaat yang keenam aku merasakan hawa dingin ditengkukku.
Aku berusaha untuk tidak terbawa suasana dan kulanjutkan dengan witir. Aku merasa ada seseorang duduk disampingku. Saat aku mengucapkan salam terakhir tak ada siapa-siapa. Tetapi saat aku berdzikir ia kembali hadir. Ia menirukan dzikir-dzikir apa saja yang aku ucapkan. Suaranya milik seorang kakek tua sekilas dari ujung mataku rambutnya putih dan panjang di sekitar dada.
Aku tak mempedulikan keberadaannya dan berdzikir sampai adzan subuh. Saat adzan subuh aku putuskan untuk berwudhu kembali agar mataku tak lagi mengantuk. Ku awali dengan sholat sunah fajar dilanjutkan sholat subuh.
Aktifitas pagi hariku sama seperti biasa, yang berbeda hanyalah ukuran tempat tinggalku. Aku tak terbiasa meninggalkan rumah dalam keadaan kotor atau berantakan termasuk pot kaktus tadi malam. Aku memindahkan tanaman kaktus mini kedalam polybag serta menyapu halaman depan kamarku. Oh iya, kosanku ini adalah kosan campur dihalamannya banyak terdapat pohon-pohon rindang seperti mangga, rambutan dan belimbing. Bisa dikatakan aku bukan hanya bertetangga dengan manusia tapi juga dengan "mereka". Setiap sehabis maghrib aku selalu melihat terbang dari satu pohon ke pohon yang lain dengan suara cekikikan khas mereka dan kadang mereka nangkring didekat kamar mandiku.
Setelahnya berberes, aku lalu mandi dan sarapan pagi. Tak menampik sarapan itu seperti energi cadangan jika aku mengalami hal seperti kemarin. Dua lembar roti tawar dan teh hangat cukup mengisi perut.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi tetapi sinar mentari sudah menyilaukan pandangan. Polesan make up tipis cukup untuk membawaku pergi hari ini. Kukunci pintu kamar dan siap untuk menghadang angkot. Tak butuh waktu lama untuk sampai didepan gerbang kompleks perumahan pak Chris. Aku memilih naik ojek untuk sampai dirumahnya.
Dari jauh papan karangan bunga terlihat berjejer rapi. Ketika ojekku berhenti didepan gerbang rupanya aku telah ditunggu oleh pak Chris. Setelah membayar ojek aku mengikuti langkah pak Chris masuk kedalam rumah lewat pintu samping.
"Maaf ya bu, kita masuk rumahnya lewat pintu samping. Banyak yang sayang sama beliau, rumah sampai penuh." kata pak Chris
"Tidak apa-apa pak, saya bisa memakluminya." balasku
__ADS_1
Karena rumah mendiang buyut pak Chris ini sangat besar, maka jalan kecil lewat pintu samping ini begitu panjang. Sepertinya memang hanya digunakan sebagai jalan untuk langsung menuju dapur. Didekat tangga ada kursi goyang yang diletakkan disamping kolam renang. Mungkin hal itu dimaksudkan agar bisa memandang langsung ke taman dan kolam renang belakang.
Dikursi goyang itu ada seorang nenek yang mungkin umurnya sudah sangat sepuh. Tertidur pulas dikursi goyang dengan kepala tersandar menunduk kearah kanan.
"Aduh, siapa sih yang memindahkan kursi goyang ini disini. Padahal kan kemarin sudah aku letakkan dalam kamar gudang." kata pak Chris
"Mohon maaf ya bu, saya mau memindahkan kursi goyang ini ke kamar gudang dulu. Ibu tunggu disini sebentar." kata pak Chris kembali. Pak Chris terlihat kesusahan mengangkat kursi goyang itu seolah-olah ada beban yang menaiki.
Benar saja karena sosok nenek itu masih ada dikursi itu. Dia mendelik dan menyeringai ke arah pak Chris karena tidak suka jika kursi itu ia pindahkan.
"Kok saya merasa merinding ya, padahal hanya mengangkat kursi ini saja." kata pak Chris sambil mengangkat kursi ke arah kamar gudang yang letaknya tak jauh dari tangga.
Tak lama kemudian pak Chris kembali dengan memegang satu pundaknya.
"Faktor usia ya bu ... Hanya mengangkat kursi saja sudah pegel tangannya."
"Silahkan bu ... Maaf ya bu agak berbau dupa. Buyut perempuan jika berdoa ya didalam kamar ini." kata pak Chris menyibakkan gorden yang tertutup
"Nah kalau kamarnya terang begini kan bu Sartinya tidak merasa takut."
"Hidup saya saja sudah mistis pak. Apa lagi yang harus saya takutkan." kataku tertawa pelan
"Eh gimana bu maksudnya?" tanya pak Chris
"Tidak apa-apa pak. Saya hanya bicara sembarangan saja" kataku dengan menahan tawa. Akhirnya pak Chris meninggalkan aku sendiri dalam kamar. Bau dupa yang menyengat dan dentang jam dinding yang begitu terdengar menambahkan kesan horor kamar ini. Berulang kali aku mendengar suara orang terbatuk kecil.
__ADS_1
"Sepertinya kata-kataku tadi mendatangkan sesuatu. Astaga mengapa aku bisa keceplosan seperti tadi." gumamku dalam hati
"Bismillahhirohmanirrohim." kataku pelan
Kusapukan pelembab yang sudah aku campur dengan foundation ke wajah nenek. Perlahan kutekan lembut dengan beauty blender sampai area wajah dan leher berwarna putih pucat. Keriput diwajah nenek memang tidak menghilang tetapi cukup untuk memudarkannya. Lalu kuambil primer dan concealer yang ku detailkan diarea mata dan daerah keriput yang masih samar terlihat.
"Sekarang tinggal membuat alis dan fokus ke area mata." kataku senang
Entah mengapa aku begitu senang bermain dengan wajah si nenek ini. Aku begitu bersemangat walaupun aku tahu dia sedang mengawasiku duduk disisi ranjang.
Aku hanya menyisir alis nenek dengan mascara dan eyebrow untuk mengisi kekosongan alis. Mengusapkan eyeshadow dengan kuas lengkap dengan bulu mata palsu satu lapis. Terakhir lipstik warna merah muda terang mengimbangi kulit putih si nenek.
"Cantik sekali nek." pujiku yang tak sadar aku lontarkan
"Terima kasih ya nak. Sudah merias nenek jadi cantik. Sekarang nenek sudah siap untuk menghadap Tuhan." bisik nenek ditelingaku
Ketika suara nenek menghilang, pak Chris masuk kedalam kamar bersama dua orang untuk membantu mengangkat peti keluar dari kamar.
---------------------------------------
Hai pembaca setia author,
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga baik ya. Aamiin.
Jangan lupa kalau sudah membaca budayakan like, komen dan vote agar author nambah semangat nulisnya. Kritik juga tidak apa, biar author bisa perbaiki lagi nulisnya.
__ADS_1
😀😀😀😀😀