
Udara malam ini terasa sangat panas sampai baju yang aku kenakan sudah basah dengan keringat yang membanjiri. Segera aku berganti baju dan menaruhnya diember baju kotor dalam kamar mandi. Maya dan Mita sepertinya juga sudah tertidur pulas, tak ada suara ponsel yang terdengar.
Jam didinding menunjukkan pukul 23.00 tapi masih saja kedua mata ini tidak bisa dikatupkan. Pintu kamar sengaja aku buka agar ada udara yang masuk dan hawa kamar terasa sejuk. Aku berusaha untuk tertidur dengan memejamkan mata tapi apa daya "mereka" yang sedari tadi hilir mudik dari pintu belakang ke pintu depan serta keluar - masuk kamarku membuatku makin sulit untuk tidur. Suara tapak kaki mereka begitu jelas apalagi ketika bergesekan dengan karpet plastik.
Sret ... Sret ...
Padahal sehabis sholat maghrib tadi aku sudah membaca yasin untuk rumah ini tetapi mereka malah menunjukkan eksistensinya seolah berkata "Kau tak berhak mengusirku, akulah penghuni rumah ini selama tak ditinggali". Bukan cuma aku saja yang membaca surat Yasin tetapi kedua anakku pun aku suruh baca dikamar mereka masing-masing. Bagaimanapun setan akan mengganggu manusia walaupun dalam keadaan tertidur.
Sampai pada akhirnya aku tidur terlelap dan bermimpi. Bermimpi mengenai rumah ini dan memasuki dimensi yang berbeda. Rumah ini begitu gelap dipenuhi dengan tumbuhan merambat dan menggantung. Secercah sinar bahkan hanya bisa menembus sedikit, memberiku penglihatan kesemua sudut ruangan. Sedari tadi kulihat banyak yang hilir mudik menuju ruangan disamping pintu belakang.
"Astaghfirullah, kamar Mita!" pekikku dalam hati
Ya, benar. Kamar Mita itu sebelumnya hanya ruangan yang langsung terbuka dengan dapur tetapi disekat dengan tripleks oleh pemilik rumah menjadi sebuah kamar. Aku masuk kedalam ruangan itu mencari tahu kemana mereka pergi. Tentu saja sama seperti yang kulihat didunia nyata, dinding berjamur membentuk sebongkah pintu kecil yang tak berbentuk nyatanya sama dengan yang kulihat dialam mereka. Pelan-pelan aku dekati sampai tanganku menyentuh dinding tersebut.
__ADS_1
"*Hah, tembus?" tanyaku dalam hati
"Apa ini pintu penghubung antara* ..." .
Belum sempat aku berpikir lebih jauh tiba-tiba muncul seorang nenek dengan rambut lusuh tergerai menunjukkan wajah tak sukanya kepadaku. Dia marah terhadapku atas apa yang aku lakukan dan dia memperingatkan aku satu hal "Jangan halangi pintu masuk ini didunia nyata". Aku akui Mita memang menaruh kipas angin tepat didepan dinding itu. Lagi pula mengapa dia berhak mengatur dan mengancamku. Padahal ia tahu dunia ini sudah ada jalannya masing-masing.
Sepertinya nenek itu mengetahui isi dalam pikiranku saat ini. Bola matanya yang sayu berubah melotot keluar berwarna merah menyeramkan. Detik itu juga si nenek langsung mencekikku dengan satu tangannya menancapkan kukunya ke lenganku. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tangannya sambil melafalkan ayat kursi. Mungkin saja aku mengigau karena ketika tersadar tanganku masih berada dileher. Suara adzan subuh yang menggema berhasil membangunkanku. Masih dengan napas yang terengah-engah aku bangun dan terduduk. Mimpi yang seakan terjadi, bahkan lenganku ikut membiru.
Aku beranjak dari tempat tidur untuk sholat subuh. Tak lupa aku membangunkan Maya dan Mita. Saat aku membuka pintu kamar Mita, aku teringat dengan mimpiku semalam. Terekam dengan jelas setiap inci kejadian. Aku memukul pelan tangan Mita, menggoncang-goncangkan tubuhnya agar ia terbangun.
"Ayo, sholat dulu. Tidurnya nanti dilanjutkan." lanjutku menarik kedua tangan Mita. Tubuhku yang tak beda jauh dari Mita sangat terasa berat untuk menariknya.
Dibalik gorden tersingkap kipas angin berdiri sosok nenek diluar jendela kaca. Dia menatapku dingin sama seperti didalam mimpi. Lama kami terpaku menatap satu sama lain hingga aku dikejutkan oleh Mita.
__ADS_1
"Ibu, sudah sholat?" ucapan Mita mengagetkan aku. Aku beristighfar berulang kali didalam hati.
"Ibu melihat apa sih dari tadi? Mita sudah wudhu tapi ibu masih berdiri terdiam melihat ke arah jendela."
Aku berbalik badan melihat Mita.
"Arghhh."
Sosok itu berdiri dibelakang Mita dan menunjukkan wajahnya yang berubah seram.
"Ya Allah ... Astaghfirullah." Aku memegang dadaku yang saat ini berdegup kencang.
"Ibu, kenapa?" Mita memegang tanganku
__ADS_1
"Tidak apa. Ibu hanya teringat belum sholat subuh." Aku pun berlari menuju dapur tanpa melihat wajah Mita.