Perias Jenazah

Perias Jenazah
Luka Bakar (1)


__ADS_3

Sepulangnya dikontrakkan, aku masih memegang pipiku yang terkadang terasa dingin. Masih tak bisa ku percaya hingga detik ini, seumur hidup aku baru berkomunikasi dengan "mereka yang tak terlihat" sekarang.


*****


Minggu pagi yang cerah, semalam pun aku tidur dengan nyenyak dan bisa terbangun tahajud dengan mudah. Aku menyapu dan berberes rumah sementara lastri pergi ke gereja.


"Uhh.. akhirnya selesai juga" kataku sambil menyeka keringat


"Kurang ada masakan aja dimeja. Dikulkas ada apa ya? Ternyata udah pada kosong, sisa kentang 2 biji"


"Lebih baik aku belanja dulu diujung gang"


Akupun berjalan kaki dengan jalan memutar agak jauh agar bisa sambil berolahraga. Kulihat ada toko yang mengepulkan asap hitam membumbul keudara. Ada garis polisi didepan toko roti itu. Banyak warga dan beberapa polisi didepan toko sedang berbincang, sekilas aku mendengar kalau toko roti itu terbakar karena oven meledak. Pemiliknya tewas ditempat karena tidak sempat menyelamatkan diri.


"Aku tidak menyangka cici baik itu menjadi korban. Al-fatihah, bismillah..."


Aku mendekati pemilik toko sebelah yang tokonya turut terkena dampaknya.


"Maaf pak toto, jam berapa kira-kira kejadian kebakaran itu pak?"


"Kira-kira mah jam 4 subuh, karena saya tahu ci rika kalau ke toko buat roti jam 3an. Kebetulan karyawannya gak ada yang datang subuh, jadi ya begini kejadiannya" wajah pak toto menunjukkan raut kesedihannya


"Ci rika teh orangnya baik, kue-kue basah yang gak habis terjual dari pagi, sore harinya pasti selalu dia bagi-bagiin"


Aku pun manggut-manggut.


"Ci rika memang baik hati, aku pun sering diberi kue dan bonus roti kalau aku sedang mampir ditokonya" gumamku dalam hati

__ADS_1


Sekilas aku melihat ada wanita yang menutupi sebelah kanan wajahnya didalam toko roti itu. Sedangkan wajah kirinya menampakkan air matanya.


"Ci rika?"


Aku pun pamit dengan pak toto dan warga lain. Aku lupa tujuanku untuk berbelanja sayur.


Di warung sayur banyak ibu-ibu yang bergosip tentang ci rika.


"Ehh.. ibu- ibu tahu gak sih, ci rika itu pelit tahu semasa hidupnya. Masa ya karyawannya gak boleh kasbon, padahal kan kasbon itu ya dipotong gaji kan" kata bu rere dengan bibirnya yang "lemes"


Aku pun geleng-geleng, orang udah meninggal masih di ghibahin.


"Udah-udah ibu-ibu ini mau belanja sayur apa cuma mau numpang ngegosip sih? belanjaan saya dianggurin gini" kata bu endang dengan memonyongkan bibir


"Ihh.. bu endang mah gitu, kan kita bisanya ngobrol kalau pas belanja sayur" sahut bu ririn


"Bu, orang yang udah meninggal itu harusnya di doain bukan digosipin. Kalau ci rika itu pelit mana mungkin dia mau memberi sisa kue gratis dengan warga sekitar, di mall aja pasti di diskon 50% kan? kalau masalah kasbon, mungkin dulu ada karyawan yang pernah bermasalah dan kabur jadinya dia gak ngizinin kasbon lagi" kataku dengan tenang


"Ada benarnya juga bu rasti, ya sudah kita gak usah bahas beliau, kasihan" sahut bu lina


Aku pun tersenyum mendengarnya.


"Bu sop-sop an 1, ceker 5 ribu, tempenya 1 papan jadinya berapa bu" kataku sambil menyerahkan belanjaan ke bu endang dan menyerahkan uang 20 ribu


"Jadinya 13 ribu bu, ini kembaliannya 7 ribu"


*****

__ADS_1


Aku mulai meracik sayur dan bumbu. Disaat aku menyalakan kompor terdengar suara jeritan.


"Arghhhh arghh"


Spontan aku melepaskan tanganku dari kompor.


"Tenang sarti, kamu pasti sedang berkhayal"


Jantungku terasa sesak dan denyut nadiku berdegup kencang.


Aku pun segera masak dan bergegas untuk mandi.


"Sudah jam setengah 1, kok lastri belum pulang ya"


Aku menyisir rambut dan solat zuhur. Disaat aku masih berdzikir lastri mengetuk pintu. Aku terkejut melihat lastri setengah bongkok dengan beban yang berada diatasnya.


"Ci rika" gumamku dalam hati


Bibirku kelu ketika mau memberitahukan lastri. Ya lastri sedang menggendong ci rika yang tidak bisa dilihatnya.


"Sar, pinggangku sakit sekali. Padahal ketika keluar dari gereja badanku masih sehat. Tapi ketika aku berjalan dari ujung gang dan menerima telpon dari anaknya ci rika badanku jadi sakit, terutama pinggangku" kata lastri sambil meringis memegang pinggangnya


"Anaknya ci rika minta aku yang merias sore ini jam 3, karena mau dimakamin jam 5, tapi badanku sedang tidak sehat. Kamu gak keberatan kan sar pergi sendirian untuk merias ci rika" kata lastri sambil memegang tanganku


"Apa tri?" kataku teriak kaget


Ku lihat hantu berwujud ci rika masih bergelayut dibelakang badan lastri dengan tangan yang menjuntai kebawah, dia menangis mendengar ucapanku.

__ADS_1


"Tapi aku belum berani merias sendiri tri, aku takut" kataku kembali


__ADS_2