
Aku terbangun pukul 3 pagi. Rasanya tulangku seperti mau terlepas dari badanku. Mungkin karena aku terlalu tidur larut malam dan baru pulang dari perjalanan jauh. Kusapukan air wudhu ke wajahku, begitu segar menghapus rasa kantukku.
Aku memilih menunaikan sholat didalam. kamar. Lampu kamar sengaja tidak aku hidupkan karena kami lebih suka tidur dengan lampu yang dimatikan.
"Bismillahhirohmanirrohim. Usholli sunnatan tahajudi rak'ataini lillahi ta'alla. Allahu Akbar.."
Ketika aku sholat dengan raka'at ketiga tiba-tiba ada suara.
"Hussssstttt.."
Suara itu panjang melengking dan terdengar jelas ditelingaku. Aku tidak tahu itu suara lelaki atau perempuan yang jelas suara itu sangat keras hingga membuat telingaku menjadi pengang. Rasa merinding menjalar disekujur tubuhku hingga aku memutuskan untuk menutup dengan sholat witir. Sesudah sholat aku lanjutkan dengan berdzikir. Aku kira dengan aku berdzikir akan membuat perasaanku jadi tenang dan gangguan itu pergi ternyata tidak. Bulu kudukku makin meremang dari pundak hingga punggungku. Sampai pada akhirnya aku merasakan cengkraman kuat dipundakku. Sakit sekali.
Lalu aku memutuskan untuk segera tidur. Posisi tidurku terlentang dengan bantal yang sengaja aku tutup depan muka. Sengaja aku tidak menutupi setengah bagian wajah kananku agar aku bisa bernapas leluasa. Tiba-tiba aku melihat ada pergerakan dari pojok dinding bagian kanan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, itu makhluk apa. Tetapi makhluk itu merangkak dari atas dinding merambat ke lantai seperti laba-laba dengan wujud manusia. Lalu aku menyalakan lampu kamar dan tak bisa tidur hingga pukul 4 pagi.
******
Seperti layaknya ibu-ibu dirumah pada umumnya, membersihkan rumah dan memasak adalah hal utama. Aku berbelanja sayur diwarung sebelah rumah. Hari ini aku ingin memasak rendang jengkol dan ayam goreng kesukaan anakku. Saat aku belok kearah rumahku aku melihat ada dua ekor burung sedang bertengger diatas dua kubah dan bersuara sedih. Kebetulan depan rumahku adalah mushola.
"Siapa yang akan meninggal hari ini? Astaghfirullah apaan sih aku ini. Sudah mau mendahului takdir Allah saja" umpatku dalam hati
Aku mengeluarkan barang belanjaanku dari plastik. Saat aku membersihkan ayam terdengar suara pengumuman dari mushola.
"Innalillahi wa inna illahi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah ibu saidah, ibunda dari pak utat. Insya Allah jenazah akan dikebumikan pukul 10 pagi" suara pak mukmin pengurus mushola kampungku.
"Innalillahi wa inna illahi rojiun. Astaghfirullahalladzim, mengapa bisa pas sekali? Siapa gerangan yang akan menyusul?" kataku sekenanya
Aku pun mempercepat masakku karena harus melayat.
"Masih ada waktu 2 jam lagi untuk memasak" kataku kembali. Aku mulai merebus jengkol dan mengungkep ayam. Disambi dengan membuat bumbu merah untuk rendang jengkol.
*****
"Masih ada waktu setengah jam untuk mandi. Untung masakanku sudah matang semua"
Ku buka air kran untuk memenuhi bak mandi. Lalu kutinggal sebentar untuk mengisi beras dibaskom dan gula untuk dibawa kerumah yang berduka.
******
"Bu nur bareng ya, mau ke rumahnya almh.
__ADS_1
bu saidah kan?" kataku ke bu nur.
Ketika aku keluar rumah dan sedang mengunci pintu depan, aku melihat bu nur juga sedang membawa baskoman.
"Ayok bu, kita sudah hampir terlambat ini" kata bu nur
Sesampainya dirumah duka, kami mengobrol dengan keluarga almarhum. Lalu kami ikut mengantarkan jenazah sampai ke TPU. Kesedihan amat sangat terasa, langit mendung menunjukkan bahwa alam juga ikut bersedih.
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Tak lama setelah adzan dzuhur kembali ada pengumuman di mushola. Kali ini yang meninggal adalah ustadz kondang dikampungku namanya ustadz somad. Umurnya kurang lebih sekitar 58 tahun. Jenazahnya akan dikubur sesudah sholat ashar.
Aku menyiapkan kembali baskoman untuk dibawa nanti dan sholat dzuhur terlebih dahulu. Setelah aku selesai sholat ada yang mengetuk pintu rumahku. Pak andi ingin meminjam meja disamping rumahku untuk memandikan jenazah alm. ustadz somad. Akupun mengiyakan dan membantu memindahkan barang-barang diatas meja.
Perutku sudah keroncongan karena sedari tadi belum diisi. Aku memilih makan sambil menonton televisi. Lalu aku melihat sekelebat bayangan hitam dari ruang makan ke arah kamar gudang. Gorden pembatas ruang televisi dan ruang makan aku tutup agar aku bisa makan dengan enak.
Aku pun makan dengan nikmat hingga habis 2 piring nasi. Sudah lama aku tidak makan dengan jengkol yang sedikit pedas. Lalu aku menonton televisi hingga adzan ashar berkumandang. Buru-buru aku melaksanakan sholat dan bersiap untuk melayat.
Pukul 5 sore kedua anakku sudah pulang dari sekolah. Mereka amat senang karena hari ini aku memasak rendang jengkol.
"Wah.. Hari ini masakan ibu mewah sekali. Ehmm rendang jengkolnya enak sekali bu. Tidak seperti buatan kakak yang gatot. Jengkolnya saja masih keras" Ejek anakku yang kedua
"Kamu ini dek, tidak pernah bersyukur dengan masakan kakak. Yaudah kalau ibu pergi lagi biar kamu saja yang masak" sindir anakku yang pertama
Tak lama dari selesai anakku makan ada yang mengetuk kembali pintu depan.
"Dek, buka pintunya dulu sana. Kakak mau kekamar mandi"
"Iya kak"
Anakku pun membuka pintu, rupanya itu pak andi yang mengembalikan meja yang digunakan tadi sore.
"Bu, memangnya meja itu digunakan untuk apa bu?" tanya anakku
"Ohh itu digunakan untuk memandikan jenazah alm. ustadz somad kak" kataku
"Apa!" kata anakku bersamaan
"Kok ibu mau meminjamkan meja kita bu. Kan sering kita gunakan untuk dalam rumah"
"Yang namanya tolong menolong itu jangan pilah pilih nak" kataku mencoba menjelaskan kepada kedua anakku
__ADS_1
"Kalau misalkan arwahnya dekat-dekat meja gimana bu? kan seram hiii" kata anakku yang kedua
"Tidak ada anak ibu sayang" kataku menepiskan ketakutan anakku
Sebenarnya apa yang dikatakan memang benar. Karena arwah ustadz itu duduk diatas meja itu.
******
Malam ini sama seperti kemaren. Menyeramkan. Suara cicak bolak-balik terdengar ditelinga kami.
"Bu, aku merinding loh. Ada apa sih bu? Ibu lihat sesuatu tidak?" Tanya anakku yang masih sibuk mengerjakan PR sekolah
"Memang nak, tuh ada yang mondar-mandir dijalan sebelah rumah" kataku dengan santai. Tapi tidak dengan reaksi kedua anakku mereka malah memeluk erat tanganku.
"Ibu mah sukanya bercanda. Tahu anaknya pada penakut malah ditakutin terus" cubit anakku dipinggangku
"Makanya kalian jangan su'udzon terus. Kalau kalian berbicara seperti itu malah nanti beneran datang loh" kataku kembali
"Ibuuuu takuttt..." teriak anakku
"Andai saja kalian bisa melihat apa yang ibu lihat nak. Mereka itu tahu kalau kita bicarakan. Makanya ibu saja memilih pura-pura tidak melihat jika ada yang lewat"
"Sudah belajarnya? Ibu sudah mengantuk ini" Kataku sambil menguap
"Kalau ibu mau tidur ya aku juga mau tidur. Aku takut bu belajar disini hanya berdua sama kakak"
"Ya sudah, kita sholat isya bareng-bareng ya" kataku sambil menuju pintu depan. Aku memeriksa apakah pintu sudah terkunci dengan baik. Lalu kami wudhu dan sholat berjamaah.
*****
Tengah malam aku terbangun. Aku terkejut karena suara ketukan jendela. Sosok itu mencoba masuk tapi aku sudah memagar gaib sebelum tidur. Suara ketukan itu semakin keras tapi hanya aku yang bisa mendengar. Kedua anakku masih terlelap dalam tidurnya.
Suara ketukan itu akhirnya berhenti setelah aku bacakan ayat kursi 7 kali dengan menahan napas dan aku hembuskan ke arah jendela. Tapi tak lama dari itu aku melihat didinding samping pintu kamar, dinding itu basah. Dinding itu basah dibagian bawah dekat lantai lalu basahan itu naik menuju atas sampai dekat saklar lampu. Dan aku melihat sosok tinggi besar dengan rambut kribo yang berdiri didepan dinding itu.
Malam itu aku sengaja memakai lampu tidur. Hingga dengan jelas melihat sosok tersebut.
----------------------------------------
Hai teman-teman pembaca setia author, terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Perlu teman-teman tahu sebenarnya novel ini adalah khayalan saya sendiri. Tapi untuk tokoh "Sarti" di novel ini, yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan arwah adalah kisah nyata. Di setiap episodenya makhluk gaib yang mengganggu sarti itu benar terjadi. Author sendiri tidak bisa melihat hal ghaib tetapi ibu dan adik author bisa berkomunikasi. Jadi harap maklum ceritanya kurang terasa horor.
__ADS_1
Bacanya jangan larut malam ya, takut ada yang nemani kamu disebelah. Hiii. Jangan lupa baca novel author yang satunya judulnya "Apa cinta sesakit ini". Dukung terus author ya, like, koment dan vote terus. Biar author tambah semangat nulis ceritanya. Terima kasih 😄😄