Perias Jenazah

Perias Jenazah
Korban Santet (2)


__ADS_3

"Tolong bantu aku..." suara lelaki itu terdengar parau


Aku berusaha menimbang-nimbang permintaan dari ibu Risma. Jujur aku belum pernah berkomunikasi lebih dengan hal-hal ghaib seperti yang diminta bu Risma. Karena makhluk seperti mereka pasti akan bertindak lebih jauh seperti menyakiti bahkan bisa jadi nyawaku bisa terancam. Aku melihat suami bu Risma sudah 70% dibawah pengaruh makhluk itu. Mungkin hanya ada kemungkinan 5% untuk bisa hidup seperti sedia kala.


"Ibu, saya tahu saat ini ibu sedang kalut dan bingung dengan keadaan suami ibu. Tapi maaf ibu, saya tidak bisa bertindak lebih jauh jika itu diluar kemampuan saya." Kataku menatap bu Risma


"Terima kasih bu Sarti."


"Saya tidak tahu lagi harus bagaimana lagi. Saya sudah meminta tolong dengan pastur gereja dan ajengan yang paling terkenal pun, tidak ada yang mampu menyembuhkan."


Bu Risma menitikkan air matanya. Aku bisa merasakan kesedihan seperti apa yang dirasakan bu Risma. Saat kita menua kita tidak butuh pasangan yang romantis, hanya mengobrol dan menikmati senja bersama sudah lebih dari cukup.


"Ehmm ... ibu, besok saya jemput saja ya dirumah." Kata bu Risma memecah hening

__ADS_1


"Boleh ibu, sekitar jam 9 atau 10 pagi." Jawabku


"Terima kasih, bu Sarti. Maaf saya jadi merepotkan ibu." Kata bu Risma menyalami diriku


"Iya, sama-sama bu."


Tak lama kemudian bu Risma berlalu dengan mobilnya. Maya dan Mita yang sedari tadi sudah selesai membersihkan halaman, baru masuk kedalam rumah setelah bu Risma pulang.


"Bu.... Apa ibu yakin akan membantu ibu yang tadi datang?" Tanya Maya


Aku mengangguk pelan tanpa menjawab pertanyaan dari Maya. Aku bahaya apa yang akan mengintaiku nanti. Buktinya sekarang ia tengah berdiri dipojok pintu depan. Makhluk tersebut mungkin tidak bisa masuk kedalam rumah, karena rumah ini sudah aku pagar ghaib semenjak aku melihat penampakan nenek-nenek dikamar Mita.


Aku hanya bisa mengusap bahu Maya seolah berkata “Semua akan berjalan dengan baik nak, Insya Allah”. Ibu hanya ingin sebatas menolong seseorang yang tengah kesulitan sakaratul maut dikarenakan makhluk itu.

__ADS_1


Malam Harinya


Sungguh malam ini aku tidak bisa tertidur dengan baik. Suara lolongan anjing yang wara-wiri didepan gerbang halaman membuatku bergidik takut. Aku mengintip dari jendela kamar ada dua makhluk tinggi besar yang bentuk rupanya seperti leak. Dalam mitologi orang Bali ia adalah simbol kejahatan ilmu hitam. Untuk menghilangkan rasa takutku, aku ambil air wudhu dan membaca Surat Al-Kahfi karena kebetulan malam ini adalah malam jum’at. Sengaja aku perkeras bacaan Qur’an agar bisa menggema ke seluruh ruangan rumah ini. Tiga puluh menit berlalu, tapi aku belum selesai membaca Surat Al-Kahfi. Lidahku terbata-bata seolah aku tidak diizinkan untuk membaca hingga akhir. Aku memberhentikan bacaanku, hingga aku merasa tenang. Disaat bersamaan terdengar bunyi gebrakan dari dinding samping  jendela kamarku. Hingga menyisakan retakan tipis didinding, layaknya rumah yang diguncang oleh gempa.


“Astaghfirullah Alladzim.” Pekikku pelan


Malam ini sengaja aku menyuruh Maya dan Mita untuk ikut tidur bertiga bersamaku. Agar jika ada sesuatu yang ingin mengenai aku tapi terkena oleh anakku, aku bisa dengan segera memberi pertolongan. Bacaan Kahfi tadi terhenti di ayat tujuh puluh lima, berarti masih ada sekitar tiga puluh lima ayat lagi yang harus aku selesaikan. Malam semakin larut, ditengah bacaanku yang hampir selesai terdengar kembali dentuman keras. Kali ini terdengar dari pintu dapur bagian samping. Sampai-sampai Maya dan Mita terbangun karena mendengar suara tersebut.


“Maling … Maling … Ada maling.” Mita yang terbangun tiba-tiba, terkejut mendengar bunyi pintu


Maya yang tidurnya paling kebo, kali ini terbangun karena mendengar suara jeritan adiknya. Aku menyuruh kedua anakku untuk diam.


“Ussttt … Jangan bersuara, cepat ambil wudhu dan ikut membaca Qur’an dengan ibu.” Kataku memberi perintah

__ADS_1


Maya dan Mita saling menatap satu sama lain. Bagaimana tidak, aku menyuruh mereka mengambil wudhu dan itu melewati pintu dapur yang barusan terdengar suara gebrakan. Mereka menatap iba ke arahku dengan alasan mereka merasa takut. Dengan berat hati akhirnya mereka mau dengan sendiri ke arah dapur, setelah aku sugesti.


__ADS_2