
Kepergian lastri secara tiba-tiba masih membuatku syok. Apalagi mengingat saat-saat terakhir lastri. Anak-anak lastri pun tidak ada yang bisa dihubungi. Pemakaman hanya dihadiri oleh tetangga dan teman gerejanya saja.
Malam ini pertama kalinya aku sendirian dirumah kontrakkan. Suasana malam ini sungguh mencekam tidak seperti biasanya. Ku dengar suara cicak berkali, tokek dan burung gagak yang bertengger di atas genteng.
Untuk menghilangkan rasa takut aku membaca al-quran khususnya surat al-baqarah dan tak lama dari 3 lembar aku membacanya, tiba-tiba tengkukku terasa dingin dan merinding. Pintu kamar terbuka sedikit demi sedikit dan ketika pintu terbuka setengahnya, kulihat ada sosok wanita berbaju putih melayang membelakangiku yang duduk menghadap pintu.
Jantungku mulai berdebar hebat. Aku hapal dengan gestur punggung wanita itu.
Lastri? Apakah itu kamu lastri? Mengapa kamu tidak tenang lastri?
Lalu tak lama kemudian sosok lastri menghilang.
Ku putuskan untuk segera tidur agar pikiranku tidak membayangkan apa-apa. Keesokan paginya seperti biasa aku bangun dini hari untuk tahajud. Kamar lastri sengaja aku buka agar tak dihuni oleh makhluk gaib.
Segera aku ke belakang mengambil air wudhu. Setelah wudhu aku minum segelas air putih dan duduk dikursi makan. Saat itu aku duduk menghadap kamar lastri. Walaupun tak begitu jelas tapi aku yakin ada yang tidur diranjang lastri. Sosok itu membelakangi menghadap tembok.
Aku pun buru-buru kekamar untuk sholat setelah melihat pemandangan itu. Tak lupa selesai sholat aku berdzikir hingga adzan subuh berkumandang dan aku lanjutkan untuk sholat subuh. Aku berdzikir kembali selesai sholat, tiba-tiba aku merasakan kantuk berat hingga tak sadar aku tidur diatas sajadah.
Aku bermimpi melihat lastri, saat itu aku melihat dia mengenakan baju berwarna putih lusuh compang-camping dengan wajah gelap. Sangat kontras dengan lastri yang semasa hidupnya, kulitnya putih bersih. Seketika aku terbangun, ketika aku melihat jam didinding waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Pagi ini aku berencana mencari alamat rumah anak lastri yang pernah ia ceritakan padaku. Aku hanya mengingat bahwa rumah anaknya di belakang mall kota XX dekat perempatan jalan rumah warna ungu.
Aku pun naik bis kecil dilanjutkan naik kereta lokal. Dengan bantuan abang ojek sampailah aku dirumah anak mendiang lastri.
Ketika aku mengetuk pintu aku disambut ramah oleh wanita muda yang wajahnya mirip sekali dengan lastri. Kulihat disamping wanita itu ada sosok lastri yang berdiri membelakangiku.
"Maaf cari siapa ya bu?" tanya anak lastri
__ADS_1
"Saya rasti teman ibumu. Kamu anaknya lastri bukan?" tanyaku
"Iya betul saya diana bu. Maaf bu mari silahkan masuk" kata diana mempersilahkan aku masuk
"Ada gerangan apa ya bu? Oh ya kok ibu datang sendirian? ibu saya dimana bu?" Tanya diana kembali
"Lastri sudah meninggal kemarin diana. Saya sudah menghubungi kamu dan kakak kamu, tapi tidak ada yang bisa dihubungi" kataku sambil menghela napas
"Ibu... maafin diana bu. Diana dan kak riko udah jahat sama ibu hiks hikss" kata diana terisak
Aku hanya diam mematung dan mengusap punggung diana.
"Bu.. tolong anterin saya ke peristirahatan terakhir ibuku" kata diana kembali
"Baiklah saya akan menunjukkan dimana tempatnya. Lalu bagaimana dengan kakakmu? kamu belum memberitahu dia bukan?" tanyaku ke diana
*****
Kami pun tiba dipusara terakhir lastri, saat itu jam menunjukkan pukul 5 sore. Diana menangis tersedu-sedu memeluk salib nisan ibunya. Penyesalannya karena tak pernah memedulikan ibunya, ia curahkan disana. Aku baru tahu kalau diana dan riko tak pernah setuju kalau lastri menjadi perias jenazah. Aku pun teringat dengan anak-anakku perihal pekerjaan baruku ini. Aku tidak mau anak-anakku membenciku jika mereka tahu mengenai pekerjaan ibunya dari mulut orang lain.
"Apa aku berbicara jujur dengan anakku dulu ya? Lebih baik besok aku pulang kampung dulu. Aku juga kurang yakin apakah ada yang mau memakai jasaku jika lastri sudah tiada" gumamku dalam hati
"Diana ayo kita pulang kerumah kontrakan ibumu. Lagipula hari sudah mulai gelap, kamu pulang besok pagi saja" ucapku sambil memeluk bahu diana
"Iya bu. Aku juga tidak sadar ternyata aku cukup lama menangis sambil memeluk pusara ibu saya" ucap diana menyeka air matanya
****
__ADS_1
"Diana ini kamar ibumu dulu. Kamu bawa baju ganti apa tidak?" tanyaku pada diana
"Saya selalu bawa baju ganti kalau bepergian bu" kata diana
"Baiklah kalau begitu, ibu tinggal kekamar ya diana" kataku kembali
Dikamar aku mendengar diana menangis kembali. Tapi aku mendengar suara tangisan berbeda. Suaranya sumbang melengking dan menggema. Ku coba menepiskan perasaan negatif dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah kupanaskan makanan tadi pagi lalu ku ketuk pintu kamar diana.
"Diana, ayo makan malam dlu"
Tak ada jawaban dari diana. Ketika aku mau mengetuk pintu kembali, diana keluar. Kulihat matanya sembab dan pandangan matanya kosong. Lalu kulihat lastri berada disampingnya.
Lalu kami pun makan malam dimeja makan. Diana tampak seperti mayat hidup yang sedang makan. Tak lama kemudian dia pun masuk kekamar. Aku merasa ada sesuatu yang aneh, diana seperti bukan yang biasanya.
Aku pun sholat isya dilanjutkan dzikir, diakhir aku mendoakan lastri agar dia bisa tenang dialam sana. Karena malam ini adalah malam jumat akupun membaca surat al-kahfi. Dari awal aku mendengar suara seringai dan anjing dari luar pagar depan. Tepat di 10 ayat terakhir tiba-tiba diana membanting keras pintu kamarku.
Brakk
"Hentikan bacaan bodohmu itu, kau ingin aku mati dua kali hahh" teriak diana
Diana langsung mencekik leherku hingga aku susah bernapas, kulihat dari sorot mata diana kalau memang dia sedang kesurupan. Saat itu aku hanya bisa membaca ayat kursi. Semakin kencang dan fasih ku lantunkan semakin kuatlah cengkraman diana. Lalu aku teringat bacaan ampuh untuk mengusir setan dari ustad mamad. Lalu diana mendorongku ke ranjang dan dia berteriak sambil memegang kepalanya.
"Dasar manusia sialan, hahh panas"
"Arghhhh"
Lalu kulemparkan tasbihku yang sudah kubacakan ayat kursi ke arah diana. Diana langsung menjerit dan pingsan.
__ADS_1