
"Maya.. Mita.. Cepat atau lambat ibu harus segera menjalankan profesi itu lagi bukan?"
"Lagi pula kakak-kakak kalian kan mau pulang juga. Jadi ibu pikir tidak ada salahnya jika ibu ikut sekalian. Naik bis kan jauh lebih lama dibanding kendaraan pribadi" kataku lagi. Aku berusaha menjelaskan sebaik-baiknya agar tidak ada pihak yang salah paham. Karena makhluk ghaib pun tahu jika kita membicarakan sesuatu yang menyangkut tentang dirinya.
"Kalau itu keputusan ibu, kami tidak bisa melarang. Asal menurut ibu itu hal baik, kami akan menerimanya" kata mita dengan hati-hati.
Sejujurnya mita tidak ingin ibu pergi lagi. Dia hanya khawatir ibunya yang mulai sepuh akan mudah sakit jika kerja terlalu keras.
"Oh iya.. Aku lupa untuk memberi tahu Diana. Mungkin saja dia bisa langsung mengantar aku ketempat tinggal yang baru" gumamku dalam hati
"Dek.. Tolong ambilkan handphone ibu didalam kamar" kataku pada mita
Mita segera mengambilkan handphone yang aku letakkan dimeja kamar.
"Ibu mau menelpon siapa malam-malam begini?" kata mita sambil memberikan handphone kepadaku
"Ibu mau menelpon diana sebelum ibu lupa memberi tahu, kalau besok ibu mau berangkat ke kota" kataku sambil mencari kontak diana
Tut tut tut
"Halo nak diana.. Sudah tidur?"
"Belum bu.. Ada apa bu? Tidak biasanya ibu menelpon malam hari" kata diana ditelepon
"Ibu mau memberi tahu nak diana kalau besok ibu berangkat ke kota"
"Ya Tuhan.. Terima kasih bu.. Besok ibu kalau sudah sampai terminal telepon saya saja ya. Nanti saya jemput" suara diana terdengar begitu gembira
"Iya nak besok kalau sudah sampai terminal ibu beri tahu" kataku lagi
"Oh ya bu, saya sudah mencari tempat tinggal untuk ibu. Pilihannya ada dua kost atau kontrak, besok kalau ibu sampai sininya tidak terlalu malam bisa dilihat dulu kesana" kata diana memberi tahu. Sejujurnya aku lebih memilih kost, apalagi saat ini aku hanya tinggal sendiri.
__ADS_1
"Iya besok dilihat dulu saja ya. Ya sudah ibu hanya ingin memberi tahu itu saja. Maaf ibu mengganggu ya nak diana. Selamat malam" kataku mengakhiri telepon
"Tidak mengganggu kok bu. Selamat malam juga bu"
"Huft.. Satu masalah selesai" desahku dalam hati
"Bu, besok kami antar ibu langsung kerumah diana ya. Masa ibu turun di terminal, durhaka dong" kata desta mendekatiku
"Tapi apa tidak terlalu lama nanti perjalanan kalian? Mundur dua jam loh kalau kalian mengantar ibu sampai rumah diana" kataku menjelaskan
"Ya ndak apa-apa bu. Lagi pula biar alifah sama yosi bisa jalan-jalan"? kata desta menoleh ke yosi
"Iyak mbah.. Kan jalan-jalannya jadi jauh. Jadi tambah asyik" kata yosi menunjukkan jempolnya tangan kecilnya
"Halahh yosi, memang kamu tahu arti asyik itu apa?" kata maya mencubit pipi yosi
"Ante sakit tahu pipi yosi" kata yosi mengusap pipinya
"Duh duh.. Keponakan tante yang cantik. Maafin tante ya.. Tante gemas sih sama kamu" kata maya menggendong yosi
Maya yang tahu alifah akan menangis langsung menghampiri dan menggendong juga. Kedua tangan maya sudah berat karena ada alifah dan yosi dipelukannya. Aku yang melihat langsung menggelengkan kepala.
"Dah ayo pada tidur, besok jam 7 pagi kita kan mau bepergian jauh" kataku menurunkan yosi dari tangan maya
"Iya nih bu, Yosi sama Alifah kalau sudah dirumah ini pasti manjanya minta ampun" kata ana yang mengambil alifah dari gendongan maya
"Yuk pada tidur, mbah matikan ya lampunya" kataku menuju saklar lampu
"Mbah.. Lampunya jangan dimatikan mbah, nanti kalau yosi mau pipis luangannya jadi gelap" kata yosi melihatku
"Kan ada ibu, jadi yosi tidak perlu takut" kataku tersenyum
__ADS_1
"Ibuk mah penakut mbah.. Olang kalau di lumah ya, yosi pas lihat ada pocong diatas genteng. Ibuk malah langsung lali, lupa sama yosi" kata yosi melihat ibunya. Desta yang tahu jadi topik pembicaraan langsung melotot ke yosi.
"Jangan seperti itu desta lain kali. Kalau raga anakmu tidak kuat dia bisa dibawa pergi, yosi kan masih kecil" kataku setengah marah
"Iya bu, desta tidak akan mengulangi lagi. Desta suka refleks sih bu. Hehehe" kata desta sambil menggendong yosi.
Alifah dan ana sudah masuk dalam kamar, begitu pun yosi dan desta. Tinggal aku dan maya yang belum beranjak dari ruangan ini.
"Bu, ayo kita tidur. Aku ingin tidur dengan ibu malam ini, biarkan saja mita tidur sendirian" kata maya menahan tawa. Maya memang suka menjahili mita, dia tahu kalau mita suka takut dan menjerit kalau dia terbangun disebelahnya tidak ada maya.
"Nanti adekmu marah loh, sudah sana masuk kamar. Ibu juga sudah mengantuk" kataku lagi
Maya menunjukkan ekspresi wajah cemberut lantaran tak aku ijinkan tidur bersamaku. Mungkin pikirnya rencana untuk mengerjai adiknya gagal.
Keesokan paginya
Pagi-pagi setelah sholat subuh aku bergegas masak didapur. Sebelum sholat subuh tadi aku sudah menanak nasi, tinggal memasak sayur dan lauk pauknya. Belum ada yang terbangun selain aku, memang jam masih menunjukkan jam 04.40. Aku segera mengetuk pintu kamar anak-anakku untuk membangunkan mereka sholat.
Tak lama kemudian mereka terbangun dan segera untuk mandi bergantian.
"Ibu kok sudah masak sepagi ini?" kata mita sambil merentangkan tangannya
"Ibu mana tega meninggalkan kalian tanpa ada makanan" kataku sambil mengiris bawang dan cabai
"Ibu so sweet deh, mita jadi terharu" kata mita memelukku dari belakang
"Mita sayang sama ibu?" kataku memancing
"Ya sayang lah bu. Memang ada anak yang tidak sayang sama ibunya?" kata mita mengerucutkan bibirnya
"Kalau sayang bantu ibu menggoreng tahu dan telur dadar" kataku tertawa kecil
__ADS_1
"Iya iya ibu" kata mita mengambil tahu dan telur dari dalam lemari pendingin
Kami pun memasak dengan cepat, seadanya sayuran yang ada.