Perias Jenazah

Perias Jenazah
Korban Santet (3)


__ADS_3

Maya dan Mita mengenakan mukenah untuk bersiap sholat hajat berjamaah denganku. Rakaat pertama diiringi dengan lolongan anjing yang semakin terdengar cukup keras. Hembusan angin yang cukup kencang masuk diantara sela-sela lubang angin. Gerendel jendela mungkin hampir tercopot dari pakunya hingga menimbulkan bunyi. Aku tetap fokus sebagai imam untuk anakku, hingga tiba dirakaat terakhir saat mengucapkan salam. Aku tertegun barisan belakang penuh dengan shaf lain. Ketika aku menoleh kembali sosok-sosok tersebut sudah menghilang.


Kali ini aku seperti mempertaruhkan hidupku dirumah kontrakkan ini. Lantunan ayat suci yang menggema ke seluruh ruangan menambah kemistisan malam ini. Dua atmosfir berbeda alam sangat begitu terasa. Kedua pundakku dan sisi punggung sebelah tangan mulai terasa berat. Hingga tercium bau dupa didalam kamar ini.


"Astaghfirullah alladzim ibu, bau apa ini bu?" jerit Mita menghentikan bacaannya


Bau dupa terasa menyengat hingga ubun-ubun kami bertiga pun masih bisa merasakannya walaupun sudah menutup hidung.


"Kalian berdua tetap lanjutkan bacaan kalian. Jangan berhenti sebelum ibu bilang berhenti. Mengerti kan?"


"Bismillah, siap bu." jawab mereka berdua


Aku memilih duduk membelakangi Maya dan Mita menghadap ke arah jendela. Fokus utamaku saat ini adalah keluargaku, yang harus aku lindungi terlebih dahulu. Ilmu rogoh sukma aku pakai. Saat ini jiwaku sudah tidak berada didalam ragaku, dengan langkah yang mantap aku keluar rumah menembus dinding. Didepan sana sudah berdiri sesosok leak yang siap untuk melukai aku kapan saja.


"Hei wanita keriput, jangan kau ikut campur dengan masalah yang tak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Aku tidak segan-segan membuatmu seperti lelaki yang aku buat tidak berdaya. Hahaha."

__ADS_1


Giginya yang panjang dan runcing serta bola matanya memerah sama sekali tidak lucu. Ya, dia mengancamku. Mungkin juga hidup anak-anakku akan terancam juga.


"Apa salah lelaki itu hingga kau membuatnya seperti orang sakaratul maut?" tanyaku pada sosok itu


"Hahaha"


"Dia memang tak ada urusannya denganku, tapi seseorang telah membayar tuanku dengan harga yang sangat mahal. Dan aku dijanjikan tumbal yang layak atas kerja kerasku."


"Kalau kau dan anak-anakmu ingin selamat, jangan campuri urusanku. Itu bahkan lebih baik daripada hidup dineraka seperti yang dialami lelaki yang aku sakiti."


Tiba-tiba gulungan angin yang semula kencang berubah tenang. Disusul pergi para anjing penjaga kebun diujung kampung. Tapi sebelum aku masuk kembali ke ragaku, aku berkeliling rumah guna memagar ghaib rumahku.


Pagi harinya


Hari ini cuaca amat cerah, matahari sudah tak bersembunyi diantara awan. Aku yang sedang menjemur pakaian dikejutkan oleh kedatangan bu Risma. Padahal aku yakin ini belum jam 9 dan aku pun masih belum berbenah diri.

__ADS_1


"Selamat pagi bu Lastri, maaf saya kepagian datang ke rumah ibu. Saya ingin minta makan dan minum dirumah ibu."


Aku yang masih fokus menjemur pakaian sontak menoleh ke arah sumber suara. Tidak mungkin seorang bu Risma mengatakan hal janggal seperti itu. Aku memperhatikan sosok yang kini berdiri dihadapanku. Sepertinya ia mengerti apa arti dari tatapanku.


"Aku memperingatkanmu lebih awal sebelum ia benar-benar kemari. Jika kau masih saja bersikeras diri untuk membantunya. Lihat saja apa yang akan kau tuai."


Aku yang masih terperangah dengan kata-kata sosok terbut dikagetkan dengan sosok asli bu Risma yang kini berdiri dihadapanku.


"Ibu Sarti."


"Halo." tangannya dimainkan didepan wajahku


"Ehh, bu Risma. Kok sudah datang bu?" tanyaku


"Iya, saya pikir lebih cepat lebih baik. Tapi apakah saya boleh sarapan dirumah ibu?"

__ADS_1


Sosok leak senyum menyeringai kearahku dibalik pohon rambutan seberang rumah.


"Apakah bu Risma sudah disurupi oleh leak tersebut? Atau aku yang merasa de javu dengan keadaan ini?"


__ADS_2