Perias Jenazah

Perias Jenazah
Jumat Kliwon


__ADS_3

"Bagaimana tidurmu semalam nak? Apakah kamu bermimpi buruk? tanyaku dengan menikmati semangkok bubur ayam hangat


"Tidurku cukup nyenyak bu, tapi aku merasa aneh bu" ucap diana


"Aneh? aneh gimana maksudnya nak" selidikku menatap diana


"Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat aku sebelum tidur. Terakhir ku ingat aku minum air putih jam 7 malam dimeja makan dan saat aku bangun, ternyata aku berada diatas ranjang. Aku semakin bingung bu" ucap diana dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal


Aku tersenyum mendengar ucapan diana.


"Tentu saja kamu tidak ingat diana. Lah wong kamu itu semalam kesurupan arwah ibumu"


******


Diterminal aku berpisah dengan diana. Tak lupa diana memberikan oleh-oleh untuk anakku dikampung.


"Ibu hati-hati ya dijalan. Kalau sudah dirumah jangan lupa menelpon diana" ucap diana memelukku erat


"Iya nak, insya Allah" ucapku menaiki pijakan bis


"Oh ya bu"


Aku menoleh ke diana.


"Kalau ibu main kekota ini dan ingin mencari nafkah disini lagi. Ibu hubungi diana saja, nanti diana carikan kontrakan baru untuk bu rasti"


"Iya diana, pasti ibu akan menghubungi kamu" ucapku tersenyum


"Bu, masih lama tidak mengobrolnya. Bisnya mau jalan ini" sindir kenek bis


"Maaf pak, ini sudah selesai kok" ucapku sambil mencari tempat duduk


Aku duduk dikursi barisan nomor tiga dekat jendela. Diana melambaikan tangannya ke arahku. Tak lupa lastri yang tiba-tiba muncul disamping diana juga melambaikan tangannya padaku.


*****


"Masih 3 jam lagi sampai ke kampung. Lebih baik aku sholat sambil duduk saja"

__ADS_1


Bis terlihat sangat sepi. Hanya tinggal 10 orang termasuk sopir dan kenek busnya. Kursi seberang aku duduk kosong. Hawa dingin mulai menyelimuti dan hujan menemani perjalananku. Padahal Ac tempat duduk sudah aku tutup tapi tidak bisa menyembunyikan hawa dingin yang masuk dari luar.


Tiba-tiba bis berjalan dengan lambat dijalan yang menanjak. Abang sopir pun ikut mengomel karena bisnya sulit untuk menanjak.


"Sialan ini bis rongsok. Kenapa berat banget sih, padahal penumpang juga tinggal dikit" gerutu sopir bis


Seketika aku membuka saat sedang berdzikir mendengar ucapan abang sopir. Ketika aku ingin menoleh kearah kanan tiba-tiba.


Zepp


Ada kuntilanak berwajah seram tepat didepan wajahku. Refleks aku menutup wajahku dengan kedua tangan sambil membaca ayat kursi.


Saat aku membuka mata kuntilanak yang berada disampingku telah pergi. Iya pergi. Pergi ke kursi seberang kursiku. Aku mendongak, celingukan kanan-kiri. Semua penumpang dibis ini adalah makhluk halus. Hanya tinggal beberapa penumpang manusia.


"Wajar saja bis ini berat"


Aku pun tidak berhenti untuk berdzikir. Ketika melewati kuburan tua. Ada beberapa penumpang makhluk halus yang turun dan naik kedalam bis.


"Ya Allah lindungilah aku dalam perjalanan ini. Aamiin"


Bagaimana aku tidak takut, kata buyutku dulu jika ada setan yang numpang dikendaraan kita sebagian besar bisa membawa musibah untuk kita, seperti kecelakaan maut tahun lalu. Tepat dijalur ini juga. Bis mengalami ketidakseimbangan saat melaju. Tentu saja tidak seimbang karena "mereka" duduk hanya dibagian kanan saja.


"Bu sarti pulangnya kemalaman ya. Mari saya antar nggeh bu" kata mang ujang menaruh tas besarku dibagian depan motor


"Untung ketemu mang ujang disini" ucapku sambil naik keatas motor


Perjalanan menuju kampungku masih agak jauh, sekitar 8 km lebih dari jalan besar. Kanan-kiri jalan adalah hutan karet tanpa penerangan lampu jalan. Hanya mengandalkan lampu kendaraan saja.


Dari jauh aku mendengar suara lolongan anjing bersahut-sahutan.


Saat pertama sebelum jalan tadi aku mengucapkan salam.


"Assalamualaikum wahai ahli kubur, kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Al-fatihah..."


Malam itu aku disambut oleh "mereka". Ada yang berbaris dipinggir jalan, duduk diatas pohon dan terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Aku hanya bisa beristighfar dalam hati.


"Bu sarti, malam ini kok seram banget ya. Bulu kuduk saya sampai berdiri" kata mang ujang sambi memegan tengkuk lehernya

__ADS_1


"Tentu saja mang, saya sudah melihat pemandangan menyeramkan dari tadi"


"Memang malam ini malam apa ya mang. Saya juga merinding dari tadi" ucapku setengah teriak karena mang ujang kurang bisa mendengar suaraku yang membias dengan suara motor


"Malam jumat bu, tapi saya kurang tahu malam jumat apa. Tapi kalau dari tanda-tandanya ini mah malam jumat kliwon ya. Hiii seram" ucap mang ujang setengah bergidik


"Bisa jadi ya. Pantas saja sejak dibis tadi banyak makhluk halus lewat" kataku pelan


"Apa.. bu.. saya kurang jelas mendengar ucapan ibu" teriak mang ujang


Tiba-tiba motor yang dikendarai mang ujang hampir masuk parit pinggir kebun karet.


"Ehhh awas mang ujang"


Mang ujang dengan sigap menghentikan motor dan menahan beban motor dengan kaki kanannya.


"Sepertinya "mereka" tahu kita sedang bicarakan mereka mang. Lebih sekarang kita diam saja. Tinggal belokan sedikit kekanan kita sudah sampai" kataku sambil memegang dadaku yang kaget karena motor berhenti mendadak


Mang ujang pun mengangguk dan kembali melajukan motornya.


*****


Akhirnya aku sampai dirumah. Kedua anakku langsung menghambur keluar rumah mendengar suaraku.


"Yeee.. ibu pulang. Aku kangen sekali dengan ibu. Ayo masuk ibu" kata anakku menarik tanganku


"Ongkosnya belum dibayar, udah ditarik saja tangan ibunya" kata mang ujang


"Oh iya saya lupa. Maaf ya mang".


Aku pun mengeluarkan uang pecahan 5o ribu.


"Aduh saya tidak bawa uang hasil ngojek lagi bu. Kurang 20 ribu ini" ucap mang ujang sambil menyerahkan uang 10 ribu padaku


"Tidak usah mang, anggap saja ini rejeki"


Mang ujang pun tersenyum gembira dan mengucapkan terima kasih. Ketika aku masuk kedalam rumah, aku tertarik untuk melihat kalender.

__ADS_1


"Sesuai dugaan, ini malam jumat kliwon"


__ADS_2