
"Tunggu, apakah kau benar-benar menolak? Aku janji akan membuatmu kaya dan tak hidup susah seperti sekarang. Ilmumu cukup lumayan untuk menjadi majikan baruku."
"Maaf aku tidak bisa, dunia kita berbeda dan punya kewajiban dengan Sang Pencipta yang berbeda pula. Carilah orang lain yang sealiran denganmu." balasku cepat
"Apa bu?"
"Apa yang berbeda?" tanya pak Trisno yang tiba-tiba nyeletuk disampingku.
"Ahh.. tidak pak. Saya tadi hanya asal bicara saja." jawabku gugup. Aku lupa bahwa pak Trisno masih menemani diriku didalam kamar ini
"Silahkan, Bu." pak Trisno membukakan pintu untukku dan mempersilahkan aku untuk keluar terlebih dahulu.
Baru saja aku ingin menghampiri Levin, ternyata dia sudah menunggu diriku didepan meja makan.
"Bagaimana semua sudah beres, Bu?" tanya Levin dengan menyerahkan segepok amplop kepadaku
"Mohon diterima ya bu. Terima kasih sudah mau datang kerumah." lanjut Levin
"Sama-sama, Nak."
"Walah, ini kebanyakan nak." kataku menatap mata Levin
"Tidak apa bu. Ibu sudah bekerja keras hari ini dan ibu berhak mendapat imbalan yang sesuai." kata istri Levin yang datang mendekati kami
"Terimalah, bu Sarti. Kau memang pantas mendapatkannya." suara bu Risma menggema di telingaku
__ADS_1
"Baiklah kalau seperti itu. Saya terima dengan baik ya Nak, semoga menjadi amal untuk kedua orang tuamu juga."
"Saya pamit pulang ya, Nak."
"Iya, mari bu. Maaf kami tidak bisa mengantar ibu pulang." kata istri Levin
"Tidak apa-apa, Nak."
Aku pulang masih dengan hati yang merasa bersalah. Walaupun semua masalah ini sudah berakhir.
Dirumah
Hari ini aku merasa lelah sekali. Apalagi aku harus melihat kilas balik kejadian seperti tadi. Ketika aku harus terbawa dari alam dunia nyata, aku merasa sangat kelelahan. Padahal aku belum berbagi jerih payah yang aku dapat hari ini. Rasanya rezeki ini belum berkah sebelum aku sisihkan pada yang membutuhkan. Sesampainya dirumah aku langsung jamak sholat dzuhur dan ashar. Setelahnya aku langsung tertidur diatas sajadah.
Antara sadar dan tidak sadar, aku merasa hawa negatif masuk kerumah ini.
"Waalaikumsalam nak."
Hawa negatif itu semakin lama semakin dekat, seolah menyerap energiku. Aku yang masih menutup mata hanya mampu menyahut salam dari Mita.
"Loh, ibu sedang tidur to?"
"Capek ya bu hari ini?" tanya Mita kembali
Dengan mengumpulkan semua tenaga aku berusaha untuk bangun.
__ADS_1
"Iya nak, kamu bisa memijat kaki ibu sebentar tidak? Sepertinya ibu kelelahan karena terlalu banyak berdiri."
"Iya bu, Mita ganti pakaian dulu ya." Aku mengangguk menanggapi pernyataan Mita
Aku melihat punggung Mita yang keluar dari kamarku. Tapi samar-samar aku melihat ada bayangan hitam disamping kiri tubuh Mita.
"*Astaghfirullah, siapa yang hendak menyakiti anakku?" batinku
"Aku tidak menyakiti anakmu, aku hanya ingin menjadi temannya. Karena anakmu sekarang adalah bagian dariku?" suara itu membalas*
"Apa maksudmu? Hah.." tanyaku tegas
"ibu bicara dengan siapa?"
"Jangan menakuti ahh.." lanjut Mita dengan wajah yang sudah ketakutan
Aku melihat aura Mita sudah berbeda tetapi aku masih belum menemukan dimana bayangan hitam berada. Dia sudah tak disamping Mita, tapi kehadirannya masih bisa aku rasakan. Sepertinya dia tidak suka aku usik.
"Enggak mita sayang, ihh anak ibu masa penakut sih."
"Walaupun Mita tahu, ibu bisa lihat hantu. Tapi aku masih takut jika ibu berkata tiba-tiba seperti tadi." bibir Mita mengerucut
"Iya-iya, Maafin ibu ya. Nih, kaki ibu sudah menunggu dari tadi." Aku memposisikan tidur dengan terlentang. Memejamkan mata dan menikmati tekanan lembut disekitar betis lalu berhujung ditelapak kaki.
"Bu, aku mau meminta izin sama ibu. Tapi ibu harus janji bilang iya terlebih dulu."
__ADS_1
Mataku yang sedari tadi terpejam, langsung terbelalak.
"Duh gusti, apa yang telah dilakukan anakku?"