
"Ini bayaran untuk ibu Sarti." kata pak Chris menyodorkan amplop kepadaku
"Terima kasih pak. Senang bisa membantu bapak." kataku menerima amplop tersebut
"Mari, Pak."
"Mari bu, hati-hati."
Ketika aku keluar dari rumah pak Chris tak ada satu pun ojek yang terlihat, dengan sangat terpaksa aku berjalan menuju gapura kompleks ini. Terik matahari yang mulai menyengat kulit membuat peluh-peluh keringatku membasahi kening dan punggungku. Langkah kaki yang kupercepat tak terasa membawaku sudah berada dipinggir jalan.
Sepanjang tadi sudah ada 3 angkot yang menolakku. Ini adalah angkot keempat yang untung saja tidak begitu penuh karenanya ia mau berhenti saat ku hadang.
"Baru jam 11 siang rupanya. Daripada aku dikosan lebih baik aku menyebarkan brosur mengenai pekerjaanku. Tapi mulai dari mana dulu ya?" tanyaku dalam hati
"Rumah sakit."
Seketika aku menoleh ke arah ibu-ibu yang duduk disampingku.
"Rumah sakit?"
"Ibu sedang berbicara dengan saya?" Aku bertanya dengan ibu-ibu yang duduk disampingku.
"Si ibu teh aya-aya wae. Saya mah lagi teleponan dengan anak."
"Kapan saya teh bicara sama ibu na." kata ibu tersebut dengan logat sundanya. Lalu dia lanjutkan mengobrol dengan anaknya ditelepon yang kupikir belum diakhiri.
"Maksudnya apa? Aku sedang dikerjai?"
"Tidak!" teriak suara itu, sampai aku terkaget menggidik kedua bahuku. Perlahan ibu disampingku tadi duduk menjauhiku. Di mobil angkot ini memang hanya dua penumpang dibelakang. Jadi wajar jika ibu itu menganggapku sedikit gila.
"Mang, apa rumah sakit terdekat sudah terlewat?" tanyaku pada sopir angkot
__ADS_1
"Didekat lampu merah depan ada rumah sakit swasta. Ibu mau berhenti disana?"
"Iya pak." kataku cepat
Ibu yang duduk disamping menyenggol lengan tanganku.
"Ibu teh harus konsultasi ke psikiater sekalian. Seperti na ibu suka berhalusinasi yah."
Aku menggeleng pelan dan berkata dalam hati.
"Bagaimana aku tidak gila, terkadang mata dan telingaku tidak bisa membedakan mana yang manusia mana yang bukan. Ibu saja tidak tahu kan walaupun hanya kita berdua yang duduk disini, ada banyak penumpang gelap yang ikut duduk. Sampai-sampai sopir angkot ini tidak melihat ada orang dipinggir jalan yang sedang menunggu angkot juga." gumamku dalam hati
"Bu, ini sudah sampai dirumah sakit."
"Oh ya." Suara sopir angkot membuyarkan lamunanku. Aku segera turun dan membayarkan ongkos angkot. Untunglah rumah sakit ini dipinggir jalan tempat aku turun dari angkot, jadi aku tidak perlu menyeberang lagi.
Aku menenteng kotak make up ini kedalam rumah sakit. Kotak ini mungkin dipandang aneh oleh pengunjung rumah sakit. Untuk apa juga kerumah sakit membawa kotak sebesar itu.
"Hei, apa yang kamu lakukan disini?" kata ibu paruh baya itu
Aku menoleh ke arah belakang menatap ibu yang sedang menyapaku.
"Gaul juga gayanya beda sekali denganku yang sudah seperti emak-emak pada umumnya." batinku berkata
Kuperhatikan ibu itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu kulihat ia sama menenteng kotak sebesar punyaku dengan sosok hitam yang berada dibalik punggungnya.
"Kamu perias jenazah juga ya?" tanya ibu kembali. Pertanyaan yang pertama saja belum aku jawab dan dia sudah bisa menebak aku ini siapa.
"Iya."
"Kok ibu bisa tahu?"
__ADS_1
"Hahaha." Ibu itu tertawa mendengar jawabanku yang aku kira sama sekali tidak lucu.
"Perkenalkan nama aku Su-san, kepanjangan dari Susi Susanti. Tapi aku lebih suka dipanggil dengan ibu Susan. Biar lebih kekinian gitu." kata ibu tersebut panjang lebar dengan sumringah dan memberikan tangannya untuk bersalaman denganku.
Aku mencoba menahan tawaku. Masih ada rupanya emak-emak gaul yang ingin tetap eksis walau fisik sudah digerus usia.
"Aku Sarti." kataku saat berkenalan
"Namanya pendek yah, jadi tidak bisa disingkat seperti aku ini." katanya mengibaskan rambut
Aku kembali terkekeh dengan ibu gaul yang satu ini.
"Eh iya, by the way anyway busway, kamu sedang apa disini?"
Aku mengeluarkan brosur yang sedari tadi ingin aku keluarkan dari tas lalu aku memberinya satu lembar untuk dibaca olehnya.
"Kamu perias jenazah juga?" tanyaku dengan Susan
"Tentu saja."
"Aku ini MUA mayat yang tersohor dikota ini. Kamu tidak tahu?" Masih dengan gaya yang mengibas-ibaskan rambutnya yang panjang.
Lagi-lagi aku menggelengkan kepala.
"Pasti kamu juga tidak tahu kalau aku ketua umum paguyuban perias jenazah?" tebak susan kembali
Aku menyunggingkan senyum tipis disambut gelengan kepala Susan.
"Pasti ini profesi baru kamu ya. Ya sudah, ayo ikuti aku." ajak Susan
Ketika berjalan kami saling bercerita satu sama lain. Disaat itu pula aku mengetahui bahwa Lastri adalah teman satu profesinya saat ia membuka paguyuban itu. Tapi sayang Lastri menolak untuk menjadi pengurus dan memilih menjadi anggota pasif. Kata Susan, Lastri mengeluh sudah terlalu tua jika harus bolak-balik ke paguyuban saat ada pertemuan. Padahal dilihat dari usia dan jam terbang, teman-teman memilihnya untuk menjadi ketua umum.
__ADS_1
Sedari tadi aku berjalan samping Susan aku merasa bulu kudukku meremang padahal aku merasa biasa saja. Ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat deretan perempuan dari berbagai usia berjalan dibelakang Susan. Sepertinya pasien yang meninggal dirumah sakit ini dan dirias oleh Susan. Bergidik ngeri saat deretan perempuan itu menampilkan fisik saat mereka meninggal. Tak sanggup aku melihat ada perempuan tanpa biji mata. Apa Susan tak merasa takut saat meriasnya? Mengapa dia tak menolaknya saja?