
Sosok itu berdiri seperti sedang memperhatikan aku. Aku memilih memejamkan mataku untuk tidur. Sialnya aku malah diganggu. Kakiku dicengkeram cukup kuat hingga akhirnya ia pergi setelah aku membacakan al-fatihah untuknya.
Tak berhenti sampai disana, ia masih mengetuk jendela dari luar. Aku tahu dia masih mencari perhatianku agar aku mau berkomunikasi dengannya. Sayup-sayup aku mendengar suara.
"Aku ingin kau menjadi tuan baruku"
suara itu sayup-sayup terdengar ditelingaku
Tak lama aku mendengar suara itu, tiba-tiba meja yang berada diluar rumah itu berderit.
Srek srek srek
Jam dindingku berbunyi.
Teng teng
Berarti jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan aku masih terjaga. Suara ketukan dijendela dan meja yang berderit semakin lama semakin keras dan berbunyi begitu cepat. Beradu dalam keheningan malam.
"Tolong jangan ganggu aku, ijinkan aku untuk beristirahat. Jalanku jalanmu- agamamu agamaku" ucapku pelan. Aku tak ingin membuat anakku terbangun karena suaraku. Setelah itu suara-suara itu menghilang, aku pun tertidur sampai adzan tahajud.
Kalau dikampungku sendiri, suara adzan tahajud ada sendiri. Segera aku mengambil air wudhu disumur belakang. Dirumahku masih menggunakan sumur timba dan kendi berukuran sedang untuk menampung air yang digunakan untuk berwudhu.
Rasa segar membasuh wajahku tapi aku merasa tidak nyaman. Aku seperti sedang diawasi oleh seseorang. Tiba-tiba bulu kudukku merinding dan lampu dekat sumur berkedip dan klep. Lampu pun mati. Ku coba untuk tidak merasa takut dengan situasi ini. Cepat-cepat aku masuk dan menutup pintu belakang.
Ketika aku berjalan seperti ada yang mengikuti aku. Bahkan bayangannya pun terlihat saat aku berjalan.
"Aku ingin kau menjadi tuanku"
Lagi-lagi suara itu meneror itu. Tak ku hiraukan suara itu dan ku ambil sajadah untuk melaksanakan sholat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucapku membaca salam setelah sholat.
Aku lanjutkan dengan berdzikir sampai menunjukkan waktu pukul 03.30 pagi. Saat bacaan subhanallah wabihamdih baru ke 66 kali tiba-tiba tasbihku putus. Cepat-cepat aku memungut satu per satu biji tasbih yang tercecer di lantai. Sembari aku memungut biji tasbih, aku memasukkan kembali ke benang tasbih dan menghitungnya. Hanya tertinggal satu biji lagi pas 100 biji tasbih. Mataku pun melihat diberbagai sudut kaki ranjang dan lemari.
"Ketemu kau biji tasbih, akhirnya lengkap juga" kataku berbicara sendiri saat menemukan biji tasbih itu berada diatas keset dekat kaki ranjang.
"Apa ini?" Aku mencoba mengusap tanganku kelantai. Ada jejak kaki dan noda dilantaiku. Warnanya seperti karat paku yang menempel pada baju. Ada 3 jejak kaki dan seperti noda tangan, tetapi bentukannya persis dengan tubuh anak kecil dengan ujung-ujungnya lancip membentuk kuku.
Aku mencoba menepiskan rasa takut dengan melanjutkan dzikirku setelah mengikat benang tasbih dengan kuat. Tak terasa adzan subuh berkumandang, ku putuskan untuk melanjutkan sholat subuh dengan terlebih dahulu ku tunaikan sholat sunah sebelum subuh.
*****
__ADS_1
Setelah sholat subuh ku bangunkan kedua anakku.
"Nak, ayo bangun sholat subuh dulu"
"Adek juga bangun, sholat berjamaah sana sama kakak" kataku membangunkan mereka. Sampai beberapa kali aku menepuk tangan anakku baru direspon oleh mereka.
"Masih ngantuk bu, 5 menit lagi ya. Adek sholat duluan sana nanti baru kakak"
"Malah tidur lagi meluk guling"
"Kakak itu dimana-mana serba duluan. Adek ngalah saja sama kakak"
Masih dengan posisi saling membelakangi dan memeluk guling. Aku tarik kedua tangan anakku secara bersamaan.
"Sholat kan tidak sampai 30 menit nak. Ayo bangun" kataku sambil menarik tangan anak-anakku lalu aku tuntun mereka sampai kedepan pintu.
"Ibu iki kebiasaan. Mung ora diturutin isih mbeo" kata anakku yang kedua sambil berlari menuju kamar mandi
"Dosa loh bicara sama ibu. Kualat mengko" teriakku yang masih dalam kamar
Tiba-tiba anakku berbicara padaku.
"Bu, seperti diatas plafon ada bangkai tikus bu. Bau sekali, aku ingin muntah" kata anakku yang pertama
"Iya bu, benar kata kakak. Coba nanti ibu minta tolong dengan tetangga depan untuk mengambil bangkainya"
"Ah masa, tadi pagi ibu ke kamar mandi tidak ada bau apa-apa. Ya sudah cepat sholat subuh dulu, nanti ibu lihat kamar mandinya" kataku dengan memberi isyarat ke anakku agar cepat sholat.
Aku lalu menuju ke dapur, membuka kulkas apa ada yang bisa aku masak untuk mereka sarapan.
"Aku masak telor dadar dan sambal tempe penyet saja yang praktis" kataku berbicara sendiri dan mengambil 3 bungkus kecil tempe daun serta 2 telor ayam.
Aku letakkan bahan masakanku dekat kompor lalu masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya aku saat mau melangkahkan kakiku masuk sesosok jin berambut kribo itu ada dipojokan dekat bak mandi.
"Jadi bau jin ini yang dimaksud anakku"
"Sana pergi jauh, tinggalkan rumahku. Tempatmu bukan disini" kataku sambil membacakan ayat kursi dalam hati dan al-fatihah, lalu aku siram pojok-pojok dinding kamar mandi.
"Ibu lagi main air?" tanya anakku yang datang tiba-tiba sehingga aku kaget.
"Ibu sedang mengusir kecoa. Tadi kecoanya terbang, jadi ibu refleks menyiram dengan air" kataku berbohong
__ADS_1
Anakku mengendus mencoba membaui bau bangkai tadi.
"Dek, sini sebentar. Cepetan" teriak anakku
"Ada apa dek, teriakanmu itu bisa membangunkan orang" kata anakku yang pertama
"Bau bangkainya sudah hilang" kata anakku yang kedua
"Ih iya bener sudah hilang" kata anakku yang pertama mencoba membaui
"Mungkin kalian salah mencium bau karena sisa iler kalian masih nempel. Mandi sana gantian, ibu mau buatkan sarapan untuk kalian" kataku keluar kamar mandi
"Adek tidak pernah buat pulau kalimantan bu. Kakak yang sering buat pulau dibantal" Ejek anakku sambil menutup pintu kamar mandi.
"Awas ya kamu anak kecil, kalau sudah keluar aku jitak kepala kamu" kata anakku yang pertama sambil menggedor pintu kamar mandi
"Kak, bantu ibu menyapu ya mumpung adekkmu sedang mandi" kataku sambil mengupas bawang
"Iya bu"
Ketika anakku sedang menyapu tiba-tiba ia teriak memanggilku.
"Bu, kesini sebentar"
Dengan tergopoh-gopoh aku menghampiri anakku. Anakku berdiri dekat ranjangku.
"Ada apa nak" kataku menyeka keringat dipelipisku
"Bau bangkainya pindah kesini bu" tunjuk anakku ke arah lemari baju
Aku melihat tatapan itu menyeringai ke arahku.
"Aku ingin kau menjadi tuanku. Cukup bacakan saja aku al-fatihah untuk menjadi makananku. Maka aku akan mengabdi kepadamu" Sosok itu berbicara ke arahku. Ternyata ia masih bersikukuh menunggu aku walaupun sudah aku tolak
"Bu, kok melamun?" kata anakku mengagetkanku
"Astaghfirullahalladzim. Kamu cepat nyapunya, sudah siang. Nanti coba ibu panggilkan tetangga untuk memeriksa plafon" kataku dengan kaget
****
Sudah 2 hari ini jin itu masih tetap dipojok lemariku hingga membuat kamarku bau bangkai tikus. Aku sama sekali tidak menghiraukan perkataannya seperti menganggap aku tidak bisa melihatnya. Setiap kali gerak-gerikku selalu diikutinya hingga membuatku kesal. Sudah aku bacakan ayat suci al-quran dia tetap saja tidak mau beranjak, hanya baunya saja yang tidak terlalu menusuk lagi.
__ADS_1
Hingga puncaknya tepat hari ketiga ketika aku sedang tidur, ranjang tempat tidurku bergoyang agak keras. Aku mengira ini adalah gempa, tapi setelah ku lihat lemari tidak bergoyang juga aku sadar ini adalah kerjaan jin itu. Aku menutup mataku lalu kupusatkan pikiran serta menahan napas. Seperti ilmu rogoh sukma, sukmaku keluar dan berjalan mengelilingi rumah dan aku bacakan bacaan yang pernah aku pelajari saat tapak suci. Jin itu mengerang hebat, dia ingin melawanku. Tetapi sesaat sebelum dia menyerangku, aku hembuskan kekuatan dalam tubuhku yang aku keluarkan dari kedua tangan hingga dia berteriak dan menghilang. Ajaibnya bau bangkai tikus itu benar-benar menghilang hanya tertinggal bekas tapak tangan dan kaki dilantai.