
Persahabatan Rara dan Mirna sangatlah kuat, hanya saja mereka mementingkan ego masing masing. Rara sadar jika ucapannya terlalu berlebihan pada saat itu, mau minta maaf tapi dia merasa tidak salah karena memang itu bukan urusan orang lain ikut campur dalam rumah tangga mereka. Menurutnya Mirna lah yang salah bukan dirinya. Kalau saja Mirna mau sekali saja minta maaf sama dia pasti hatinya akan membukakan pintu maaf, dan mereka akan bersama seperti dahulu kala. Sebenarnya Mirna tidak ada niatan untuk ikut campur dalam rumah tangga Rara, hanya saja dia tidak rela kalau sahabatnya di hianati. Apa lah daya niat baik berujung kesalah pahaman. Semua membuat renggang hubungan persahabatan mereka sampai jarak menjadi tantangan terbesar mereka.
"Ada yang bisa saya bantu kak?" Tanya salah satu pegawai mini market.
Rara yang masih nangkring di motornya melihat pegawai mini market itu " Sebentar ya mbak saya cuma mau numpang neduh bentar"
Si pegawai itu kebetulan baru saja datang. Keramahan seorang pegawai mini market membuat Rara berpikir sejenak.
"Kalau begitu saya masuk dulu ya kak...." sambil tersenyum si pegawai mini market itu masuk ke dalam. Dari luar nampak sosok pegawai tadi melayani beberapa pelanggan toko, senyum manis, tutur lembut, sopan, juga ramah. Rara punya pikiran bagaimana kalau dia minta tolong kepadanya. Rara pun segera masuk mengambil beberapa makanan ringan, minuman, roti, dan buah segar. Selesai belanja dia membayar di kasir "Mbak saya minta tolong bawain ke luar ya, tangan saya kebas. Tolong ya mbak" pinta Rara sopan.
Dengan ramah mbaknya mengantar belanjaan sampai ke motornya "Terima kasih banyak kak sudah belanja di toko kami" mengatupkan kedua tangan sambil menunduk tanda terima kasih.
"Eh mbak tunggu sebentar, aku boleh minta tolong lagi nggak?" Rara pun mengutarakan niatnya untuk membawa belanjaan itu ke kosan Mirna. Kebetulan si penjaga toko kenal dengan sosok Mirna, mereka tinggal di kosan yang sama. Jarak toko dan kos juga tidak terlalu lama. "Em....gimana ya kak? Saya sih mau saja tapi saya ijin sama teman saya dulu ya kak" Tuturnya lagi.
"Iya nggak apa apa, nanti aku kasih kalian bonus makan siang gratis." Ujarnya di balas anggukan kepala.
__ADS_1
Tak berapa lama si pegawai itu masuk lalu kembali lagi "Baik kak saya bisa membantu kakak"
Rara memberikan belanjaan itu kemudian mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan dari dalam dompatnya "Ini untuk kamu dan teman kamu di dalam itu, sekali lagi saya terima kasih ya"
"Iya kak sama sama, tapi ini uangnya kebanyakan. Untuk makan siang tidak sampai menghabiskan lima puluh ribu"
Rara menyentuh pundaknya "Tidak apa apa, anggap saja iti tips buat pegawai ramah seperti kalian. Oh iya apa boleh kita bertukar nomor telepon?"
"Tentu saja boleh kak"
Setelah bertukar nomor, Rara pun pergi dan menyuruhnya segera mengantar belanjaan itu.
"Mbak Mirna, mbak, ada kiriman. Mbak, mbak Mirna" sudah berulang kali mengetuk pintu dan memanggil namanya tapi sepertinya tidak ada orang di dalam. Dia mengintip pada jendela kecil di sana "Nggak ada orang kemana ya mbak Mirna?" Lirihnya sambil melihat belanjaan di tangan.
Kebetukan saja ibu kos melintas di teras kosan, melihat gadis memakai baju mini market "Cari siapa ya mbak...?"
__ADS_1
"Eh bu Iin, ini saya mau antar kiriman dari teman mbak Mirna. Tapi sepertinya dia tidak di rumah"
"Oh ternyata kamu to nduk, tak kirain siapa. Tadi si Mirba pamit sama saya katanya mau pulang kampung bapaknya sakit" jelas beliau.
"Pulang ke solo buk?"
"Iya, ngomong ngomong itu kiriman dari siapa?"
"Dari temannya mbak Mirna Buk. Terus ini gimana ya buk, masa di taruh di luar gitu aja. Apa saya titip ibu saja ya" menyodorkan barang belanjaan itu pada ibu kosnya.
Sebelum menerima belanjaan itu di cek lah isi belanjaan itu "Waduh ada buahnya bisa busuk nanti. Mending kamu kembaliin sama temannya aja lah nduk, ibu nggak mau takutnya Mirna pulangnya lama buah buahnya pada busuk" beliau menolak titioan si pegawai mini market lalu beliau meninggalkannya.
Kalau begitu saya telepin kakaknya tadi deh.
"Halo kak, maaf mbak Mirnanya nggak ada di rumah katanya pulang kampung, bapaknya sakit" jelas si pegawai mini market.
__ADS_1
"Aduh saya tidak enak kak, sudah di kasih uang banyak masa belanjaan ini buat saya lagi. Apa tidak lebih baik kakak ambil lagi saja buat di rumah" mencoba memberikan solusi terbaik. Tapi Rara menolak mengambilnya "Kalau kakak repot biar saya antar ke rumah kakak, bagaimana?" Usulnya lagi. Dia tidak enak hati menerimanya. Namun, lagi lagi Rara mengatakan kalau itu untuk meteka saja anggap saja rejeki begitu katanya.
"Kakak ini baik sekali, saya sangat berterima kasih. Semoga kakak di beri kemudahan dalam segala hal, dan mendapatkan apa yang di aminkan" Alhasil pegawai tadi membawa belanjaan kembali ke toko, membaginya dengan rekan kerja. Jarang jarang kan dapet rejeki nomplok hehehe.