Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 27


__ADS_3

Di depan pintu rumah berdiri seorang wanita, dia adalah Mirna sahabat baik Rara. Erwin berjalan melewatinya begitu saja, entah karena dia tidak melihatnya atau tidak perduli. Kalau di lihat dari wajah Erwin seolah ada penyesalan. Wajah laki laki iti menunduk lesu dengan pandangan penuh penyesalan. Sesekali ia melihat ke arah dalam rumah berharap istrinya keluar dan menghentikan langkahnya. Tapi, wanita mana mampu bertahan di atas kelukaan. Tidak hanya cinta yang di nodai melainkan juga harga diri. Seorang istri mencurahkan cinta dan mengabdikan diri terhadap suami, dia sampai rela menjauh dari keluarganya. Berdiri kokoh untuk suaminya meski nyatanya semua itu tidak ada artinya bagi suami tukang selingkuh satu ini. Kenapa para suami tidak mau mengerti seperti apa perjuangan seorang putri yang rela meninggalkan rumah orang tuanya hanya demi dirinya, kenapa mereka tidak sekali saja memikirkan perasaan itu.


"Cih....di depan dia memanasang muka sok sedih, tapi di belakang nanti dia pasti bersenang senang sama selingkuhannya. Dasar buaya" kesal Mirna sambil berjalan masuk ke dalam rumah. 


"Kenapa aku begitu ceroboh? Sial, sial, sial" memaki diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Erwin memilih pergi dari rumah, sebab tdak mau jika nantinya Rara pergi jauh dari kota jakarta. Lagi pula rumah itu di beli Erwin sebagai mas kawin, jadi rumah itu mutlak milik Rara. 


"Kenapa hari ini gue sila banget..."  segera Erwin meninggalkan rumah menuju sebuah tempat. Tentu saja dia akan datang ke persinggahan keduanya. Di villa sudah ada Icha tengah berpangku tangan memasang wajah kesalnya. Tak berapa lama sampailah Erwin di depan Villa, kedatangan Erwin selalu di pantau oleh Rama. Setiap pergerakan selalu ia laporkan pada Mirna. "Laki laki seperti itu harus di beri pelajaran paling berharga. Jika hukuman fisik belum juga membuatnya jera satu satunya jalan adalah hukuman Tuhan." Rama terus melihat dari balik jendela. 


Tanpa sepatah kata Erwin duduk di sampaing Icha, wajahnya terlihat kesal. Menghempaskan badan dengan kepala bersandar pada bahu sofa, pandangan mata menatap langit langit villa. 


"Hufff....tolong ambilkan minum sayang, lagi pengen yang dingin" pinta Erwin. 

__ADS_1


"Ambil aja sendiri" ketusnya sambil mematikan tv. Lantas Icha masuk ke dalam kamar meninggalkan Erwin di sana sendiri.


"Astaga, dia ikutan marah?" Mengacak rambut kemudian bangkit hendak menghampiri Icha. Belum sempat masuk ke dalam kamar pintunya lebih dulu di tutup.


Tok, tok, tok...


"Sayang buka pintunya..." 


Icha sangat kesal karena Erwin telah mengabaikan dia saat di cafe, Icha langsung menghempaskan tubuh menelungkup sambil menutup kedua telinganya.


"Sayang....." mengusap bagian paha Icha, membuat Icha langsung berbalik badan.

__ADS_1


 "Apaan sih, minggir sana" wajah Icha menyaun sambil membuang muka, ia juga hendak bangkit tapi Erwin menarik tangannya sampai badan Icha menindih dada Erwin. Keduanya saling menatap beberapa saat. Senyum melebar di bibir Erwin "Aku sangat mencintai kamu, sayang" di belainya wajah mulut gadis cantik di depan matanya itu.


"Dasar pembohong...." Icha melepaskan diri lalu duduk di tepi ranjang, membelakangi Erwin "Kalau kamu memang cinta harusnya tadi tidak meninggalkan aku seperti itu. Kamu kira aku ini apa, di abaikan begitu saja" 


Erwin tak bisa tinggal diam, kedua tangannya menggapai pinggang ramping Icha. Dagunya menempel di pundak gadis cantik itu, kedua tangan mulai melingkar di perut Icha. "Emm.....jadi kamu masih marah nih, kalau gitu aku cubit ya biar marahnya ilang" mencubit perlahan pinggang ramping Icha hingga membuat Icha bergelinjang. Tubuh mingil itu membangkitkan hasrat dalam diri Erwin sampai ia terus menggelitik sampai keduanya saling menatap "Jangan marah lagi sayang ku. Cintaku cuma buat kamu seorang...." mengecup pipi Icha. Wajah Icha langsung tersipu malu, nampak kedua pipinya memerah. 


"Ah.....mas Erwin" Icha hendak menghindar tapi lagi lagi Erwin membuatnya jatuh dalam lautan bahagia. Mulai dari bisikan mesra dan sentuhan sentuhan nakal, membuat Icha pasrah dan mengikuri kemauan Erwin. Keduanya memadu kasih di atas penderitaan orang lain. Mereka yang saat ini tengah bercinta berbanding terbalik dengan Rara yang berlinang air mata. Denyit ranjang menjadi saksi bisu perselingkuhan mereka. 


"Simpan air mata kamu karena itu terlalu berharga untuk seorang laki laki pengecut seperti dia itu. Mending ikut gue ada hal yang harus gue kasih tunjuk...." Mirna membantu Rara berdiri, membawanya duduk di tepi ranjang. Tangan Rara terasa sangat dingin tubuhnya juga lemas. Mirna mengusap air mata itu sambil terus memberinya semangat.


"Jangan lemah kaya gini, Ra. Kemarin kamu bilang sendiri akan membalas perbuatan mereka dengan cara yang halus, jadi kamu harus kuat menghadapi semuanya. Baru saja Rama kasih kabar kalau suami lu lagi sama selingkuhannya, bagaimana kalau kita pergoki mereka, kita buat mereka menyesal seumur hidup mereka" Ucap Mirna memberi saran.

__ADS_1


"Jadi mas Erwin ke rumah si pelakor itu lagi? Aku kira mas Erwin bakal menyesali perbuatannya tapi kenapa malah dia kembali ke sana. Jahat sekali mas Erwin padaku " Air mata Rara terus meluap sampai Mirna memeluknya erat. 


"Harusnya kamu senang dengan begitu kamu tau siapa laki laki yang kamu nikahi itu sebenarnya. Sekarang kamu tenangkan hati dulu baru nanti kita ambil langkah selanjutnya" kepedihan Rara tercurah dalam pelukan sahabatnya itu. Mirna rela memberikan bahu sebagai penompang kepedihan Rara demi sedikit mengurangi rasa sakit hatinya.


__ADS_2