Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 44


__ADS_3

"Kamu itu bisanya nyusahin orang aja sih mas, pake kecelakaan segala" melipat kedua tangan seraya menatap suaminya yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Dalam kondisi terbaring sakit masih bisa bisanya sang istri menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.


"Namanya juga musibah siapa yang tau sih yang akan seperti apa nasib seseorang kedepannya...." jawab Erwin sambil melihat ke arah kaki. Kecelakaan itu menyebabkan kaki kanannya cidera parah sampai kakinya belum bisa di gerakkan. Tidak hanya kaki saja tapi di bagian kepala ada luka jahit meski tidak begitu parah hanya bagian dahi mendapat beberapa jahitan. Meski begitu Dokter menyarankan Erwin tidak banyak gerak supaya penyembuhan pada tulang kaki cepat sembuh, atau lebih tepatnya dalam beberapa waktu yang tidak di tentukan dia harus duduk di kursi roda. Tulang kakinya patah sampai Dokter mrnyarankan untul tidak banyak aktifitas terlebih dalam datu bulan lamanya.


Mengibaskan jemari sembari mengalihkan pandang "Nggak usah panggil yang deh geli tau dengernya (Mengerdikan kedua bahu) kemaren juga nggak ada penggil aku gitu kenapa sekarang sok panggil sayang sayang?(Menjentikkan jari telunjuk) Begini nih biasanya kalau laki ada maunya baru deh bini di sayang sayang, dasar MODUS" mencibirkan bibir dengan nada bicara sedikit di tekan.


Erwin hanya bisa memejamkan mata sejenak sembari menguatkan diri sendiri (Erwin, sabar ini adalah ujian buat lu) Sembari tersenyum palsu "Bagaimana pun masalah kita kemarin atau sebelumnya tapi kamu tetap istri ku. Tugas seorang istri adalah membantu suami dalam kondisi susah, jangan mau enaknya aja tapi pas suami lagi susah kamu malah ngomel seolah menyalahkan keadaan yang tidak di inginkan"


"Enaknya saja kamu bilang?Eh....... asal kamu tau aja ya mas, selama kita menikah bukannya hidup bahagia justru hidup ku semakin blangsak. Boro boro bisa shoping, perawatan, atau liburan, buat makan aja tiap hari pake tahu tempe itu aja masih ngutang sama tukang sayur,  hidup kaya gitu yang kamu bilang aku cuma mau senangnya aja? Astaga, di mana senengnya coba" Memang benar selama pernikahan itu terjadi semua kehidupan keduanya berbalik drastis, dari yang tadinya hidup enak mau apa tinggal gesek lah sekarang harus bersusah payah terlebih dahulu. Makanya kalau hidup lagi di atas awan jangan lupa tengok ke bewah kan nantinya bisa persiapan siapa tau angin bertiup kencang lalu membuatnya jatuh ke jurang dengan kedalam menyeramkan. Setidaknya dengan melihat ke bawah jadi bisa memprediksikan diri bagaimana cara untuk bertahan supaya tidak jatuh ke jurang.


"Sudahlah, mas mohon jangan berdebat lagi, setelah ini aku janji bakal cari kerja yang gajinya gede supaya kamu bisa beli apa saja yang kamu mau. Tapi, untuk saat ini tolong bersabar dulu" Baru kali ini Erwin merasakan betapa kejamnya hakim di atas karma Tuhan. Meski hukum negara tidak mengikatnya tapi hukum alam masih berjalan, dan selama nafas masih berhembus balasan akan semakin menyakitkan.


"Enteng sekali kamu ngomong sabar mas...." mencongdongkan badan "Gimana cara kamu mau kerja dengan gaji gede, sedangkan jalan aja kamu belum bisa? Biasanya sih orang yang duduk di kursi roda itu mentok kerjanya di lampu merah sambil megang kaleng bekas...." ucapan Icha kali ini sudah kelewat batas sampai Erwin langsung membulatkan kedua bola mata. Ia terkejut bisa bisanya Icha menyamakan dia dengan seorang pengemis di pinggir jalan.


Erwin menggeleng kepela "Keterlaluan sekali kamu, Cha...."


Mendengar Erwin memanggilnya dengan sebutan nama sontak Icha langsung mengerutkan kedua alis "Apa kamu bilang, Cha?" 


Sekali lagi Erwin di buat menelan emosinya mentah mentah sebelum masalah semakin runyam nantinya "Udah lah sayang, aku minta kita jangan bertengkar lagi, ya. Mas minta maaf deh kalau udah buat kamu susah selama ini" Memohon adalah satu satunya cara suapaya bisa mendapatkan belas asih dari sang istri karena saat ini hanya dia yang Erwin punya.

__ADS_1


Sambil berbalik badan Icha melipat kedua tangan dengan memperlihatkan wajah manyun "Itu salah kamu kenapa harus....."


Tok tok...


Beluk sempat pertengkaran mereka usai datanglah seorang suster "Permisi, maaf mengganggu. Saya hanya ingin konfirmasi untuk pasien atas nama bapak Erwin mohon segera melunasi biaya rumah sakit ke bagian administrasi"


Seketika kedua saling berpandangan lalu Icha kembali melihat suster itu "Minta saja sama yang bersangkutan" Memperlihatkan rasa ketidak perduliannya dengan pergi dari sana.


"Loh buk tunggu sebantar, anda ini istri pasien, bukan?"


Dengan santainya Icha menjawab "Iya. Lalu?"


"Minta aja sama dia saya nggak ada duit" Icha pun langsung peegi begitu saja.


Suster itu merasa heran kenapa ada seorang iatri begitu sama suaminya di saat kondisi seperti saat inj"Maaf, pak ini bagaimana ya? Bapak harus segera melunasi biaya rumah sakit sekarang juga" jelasnya santun.


"Iya, sus nanti biar saya minta tolong orang tua saya untuk datang ke sini" jelasnya.


"Baiklah, pak. Kalau begitu saya permisi"

__ADS_1


Kebetulan Erwin melihat pinselnya di atas meja, lalu dia menelepon sang istri.


(Ngapain sih pake selamat segala kan kalau di mati nggak banyak nyusahin gue) sembari mempercepat langkah kaki keluar dari rumah sakit.


"Duh ngapain lagi sih dia pake telepin segala...." Segera Icha mengangkat telepon dari Erwin "Apa lagi?" Ketusnya.


"Kalau kamu tidak bisa cari pinjaman uang bagaimana kalau kamu pergi ke rumah orang tuaku untuk memberitahu mereka tentang kondisi ku saat ini" jelas Erwin memberi solusi.


Memutar kedua bola mata "Nggak bisa, aku nggak mau. Salah kamu sendiri ngapain pake kecelakaan segala..." tanpa rasa iba Icha pun mematikan telepon.


"Icha tunggu......" sia sia saja Erwin meminta tolong padanya sebab tidak ada yang di gubris sedikit pun.


"Aw......" mengeluh kesakitan saat tidak sengaja kaki kirinya menimpa kaki kanan.


"Ya Tuhan......saat ini aku baru sadar karma itu memang benar adanya. Andai waktu bisa ku putar kembali, tidak akan pernah ku sakiti wanita sebaik Niara" 


"Enak saja masa gue harus bayarin biaya rumah sakit dia, sedangkan dia aja sehari cuma kasih gue lembaran biru. Dasar laki laki nggak berguna..." Di sepanjang jalan Icha terus menggerutu kesal.


Prank......

__ADS_1


Tiba tiba saja terdengar suara kaca pecah, Rara yang baru saja menutup pintu langsung berbalik "Bagaimana bingkai itu bisa jatuh...." bingkai foto pernikahannya bersama Erwin terjatuh. Perlahan Rara berjalan ke arah bingkai tersebut lalu memungutnya kembali "Perasaan ini..." Ada sebuah rasa yang sulit di jelaskan saat itu, saat melihat kaca di bingkai retak. 


__ADS_2