Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 9


__ADS_3

Ting...


Sebuah pesan singkat mendarat di ponsel Erwin. Dengan mata mengantuk dia meraih ponsel yang ada di atas meja samping ranjang. Satu tangan mengambil Hp dan satu lagi di tiduri Icha. Ketika di lihatnya pesan dari sang istri matanya pun terbelalak, sontak Icha terbangun karena guncangan dari lengan kiri Erwin "Em....ada apa sih mas?" Dengan masih mengusap mata Icha kembali bersandar pada badan Erwin. 


"Ternyata kita sudah di mata matai seseorang"


Mata yang ngantuk mendadak melotot "ha? Siapa yang berani memata matai kita mas" 


Erwin sibuk dengan ponselnya, berusaha menjelaskan apa yang terjadi di sini. Dia berdalih kalau wanita dalam pelukannya itu adalah sahabat lamanya yang tinggal di bandung. Kebetulan rumah sahabatnya itu tidak jauh dari tempat kerjanya. Setelah menjelaskan panjang lebar tentu saja Rara percaya dan dia juga bilang kalau Mirnalah yang telah mengirumkan seseorang untuk mengawasinya "Jadi dalang di balik semua ini itu si cewek tomboy itu, awas saja nanti..." dengan tatapan penuh dendam ia meremas kepalan tangannya sendiri.


"Mirna itu siapa mas? Kok dia sampe segitunya sama kamu, apa kalian punya mas lalu atau dendam teesembunyi gitu" tanya Icha penasaran. 


"Dia itu sahabat baik Rara. Orangnya nyebelin sama kaya mulutnya itu. Amit amit deh punya masa lalu ama tu cewek jadian jadian, liat mukanya aja bikin bad mood apa lagi harus...  hi" Erwin masih kesal sehingga matanya masih menyorot tajam.

__ADS_1


"Jangan gitu nanti cinta loh..." goda Icha.


Sontak saja Erwin manatap matanya dengan tajam "Udah deh nggak usah becanda, orang lain kesel kok di becandain" 


"Ih kok marah sih kan aku cuma becanda sayang, maaf ya" Icha pun kembali bermanja di lengannya..


"Udah deh jangan cemberut gitu jadi nggak asik tau" 


Pandangan Erwin lantas tertuju padanya "Kita harus buru buru cari tempat lain sayang. Aku udah ngrasa nggak aman di tempat ini." Ucapnya sambil meraih kedua tangan Icha lalu menciumnya.


Kedua alis Erwin nampak mengerut.


"Kenapa? nggak mau ya sudah...." sambung Icha lagi. Erwin kembali menarik wajah Icha yang tadinya membuang pandang "Bukan pelit tapi hemat. Kalau tidur saja kita bayar mahal bagaimana nanti kita makannya? Cari penginapan yang murah aja ya, yang bayarnya bulanan nggak ngabisin duit" 

__ADS_1


Seketika itu Icha manyun kembali "Pelit sama hemat itu beda tipis lho mas, kalau di sejejarkan artinya itu sama" 


"Kamu kan tau sayang, aku itu baru saja menikah dan uang ku habis buat beli rumah sama biaya nikah. Belum lagi seminggu sekali kamu minta dua sampai satu juta, coba bayangkan duit dari mana coba?" jelasnya sambil mengusap rambut kekasihnya. 


"Tapi kan mas...."


"Udah nggak usah tapi tapian mending kamu bantuin mas buat cari penginapan yang bagus tapi murah" 


"Idih mana ada yang kaya begituan, cari yang murah tapi wah ya kudu banyak cuannya mas. Kalau modal murah si kamar kos aja sana" di lihat dari gelagat dan nada bicara Icha, tentu Erwin tau kalau gadis cantiknya ini tengah merajuk "Emuah...." 


Icha menyentuh pipi bekas di cium Erwin "Tumben inisiative cium duluan biasanya minta di cium duluan" protes Icha sambil tersenyum girang. Erwin tidak menjawabnya dan hanya tersenyum sambil terus menatap wajah cantik Icha.


"Oh iya mas, ternyata gampang banget ya nipu istri kamu itu, kalau jadi aku sih pasti beda ceritanya. Memang dasarnya istri kamu itu gampang banget di begoin"  ujar Icha yang tadi ikut menbaca isi pesan singkat dari Erwin.

__ADS_1


"Udahlah sayang jangan bahas yang lain kalau kita lagi berduaan kaya begini" di peluknya kembali badan Icha.


"Lagi yuk..." mereka pun tenggelam di balik selimut, berpadu dalam lautan impian penuh keindahan. Itu yang saat ini mereka rasakan. 


__ADS_2