
Dengan cepat berita menyebar luas. Hampir semua media menayangkan kejadian langka, di mana sangat jarang sekali mengarak pasangan zina. Di tambah lagi banyaknya orang mengupload di jejaring media sosial, berita itu bak angin lewat langsung membuat gempar jagad dunia maya. Hampir semua kalangan menonton video mereka dari jejering sosial media.
"Kita bawa mereka pada pihak berwajib saja, pak. Orang seperti mereka ini pantas masuk jeruji besi" saran salah seorang warga.
"Iya, banar pak. Orang seperti mereka ini meresahkan citra bangsa, nggak punya moral. Harus mendapat hukuman setimpal biar jera, kalau perlu biar di kebiri sekalian saja" sambung salah seorang warga lagi.
Mendengar semua itu membuat Erwin terkesiap takut mereka benar akan menghukumnya seperti saran salah sati warga tadi "Jangan macam macam kalian...." Betusaha melepaskan diri, namum kedua orang di sisi kanan dan kirinya memegang lengannya dengan kuat.
"Selingkuh saja berani giliran mau di kebiri nyalinya menciut" kecam salah seorang warga yang merasa gemas melihat kelakuan mereka itu.
"Hahaha.....kaya krupuk di siram air, letoy" sambung salah satu warga yang ikut memegangi tangan Erwin. Ucapan itu mengundang gelak tawa semua orang di sana, sampai Erwin tertunduk malu.
"Tenang dulu saudara saudara jangan gegabah, kita putuskan di persidangan nanti baiknya bagaimana" Bapak kepala desa memperingatkan beberapa warga yang hampir berbuat anarkis. Setiap orang melihat kejadian seperti itu pasti sangat marah, apa lagi sampai di pergoki istri sah si laki laki.
"Ih pengen tak jambak si pelakor itu. Tanganku gatal sekali rasanya" Seorang ibu di pinggir jalan merasa geram melihat tindakan gadis muda yang telah merebut suami orang.
Melihat istri sah si pelaku membuat para ibu ibu lainnya menjadi geram, apa lagi wajah si pelakor menatap tanpa dosa. "Kalau aku jadi mbaknya udah tak hajar mereka berdua....." gemas salah seorang lagi.
Icha terlihat menunduk sambil memegang handuk yang melingkar di badannya. Saat ini harga dirinya menjadi bahan tertawaan masyarakat.
(Awas kamu wanita sialan gara gara kamu semua orang menertawakan aku) pandangan mata Icha mangarah pada Rara yang masih berdiri tengaj memegang hp. Mungkin dia tengah menghubungi seseorang.
Bapak kepala desa beserta perangkat menggiring keduanya menuju balai kota. "Kita baru bisa memutuskan atas ijin ibu Niara. Beliau orang pertama yang paling terluka dengan kejadian ini. Jadi, beliau berhak memutuskan hukuman seperti apa yang layak untuk keduanya" jelas bapak kepala desa.
"Mas Erwin harus tolong aku, pokoknya aku nggak mau kalau sampai harus masuk penjara" Icha menghentakkan kaki dengan merengek ketakutan. Beginilah kalau nasi sudah menjadi bubur, di paksa seperti apa pun nasib sudah terlanjur kujur hidup pun bisa hancur . Sebenarnya Icha tidak pernah memberitahu pihak keluarga kalau dia menjadi simpanan suami orang, melainkan bilang kalau dia sedang bekerja. Tentu saja Icha ketakutan bagaimana kalau ibunya tau tentang hubungan terlarang ini pasti dia akan di hukum dengan berat.
__ADS_1
Erwin tak bisa menjawab, dia sendiri juga tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi seperti sekarang ini. Tidak hanya kehilangan harta melainkan juga harus kehilangan harga dirinya. Tidak ada sedikit pun terlintas kalau hubungan mereka akan jadi bulan bulanan warga. Sungguh memalukan sekali.
"Mas jangan diam saja, bantu aku dong, mas."
Sesampainya di balai kota mereka berdua di sidang. Jalannya persidangan hanya di hadiri para perangkat setempat, kedua tersangka dan juga Rara beserta Mirna. Semua orang duduk dengan memperlihatkan kedua pasangan zina itu.
"Bu Niara, bagaimana pendapat anda kalau kami hendak membawa mereka ke kantor polisi? Mereka tidak hanya melanggar hukum tapi juga telah menghianati anda, apakah anda bersedia kalau mereka kami bawa ke pihak berwajib?" Tanya bapak kepala Desa.
Menarik nafas dalam kemudian hembuskan perlahan, sebelum ia mengambil keputusan terbesarnya, antara mempertahankan rumah tangga atau melepaskan yang sudah menyakiti. Semua pilihan sangat memberatkan, jika bertahan tidak akan mungkin, kalau melepas harus mempersiapkan diri dengan jalan yang harus di tempuh.
"Mohon maaf sebelumnya, saya masih belum bisa mengambil keputusan karena ada seseorang yang masih saya tunggu. Sebentar lagi pasti mereka akan datang" ucap Rara dengan pandangan menatap ke arah suaminya.
"Jangan pernah kamu suruh kedua orang tuaku datang ke sini, atau kamu akan tau sendiri akibatnya" ancaman Erwin malah akan semakin memberatkan diri sendiri. Rara membalanya dengan senyuman.
"Dia itu wanita tidak tau diri, sudah di tolong kamu tapi malah membalasnya dengan keburukan. Pantas saja Mas Erwin lebih memilih aku ketimbang kamu" Masih bisa bisanya Icha menyombongkan diri di hadapan semua orang. Mirna hendak bangkit namun di cegah oleh Rara. Gelengan kepala itu membuat Mirna mengerti, ia pun diam dan melihat berjalannya persidangan.
"Ya Allah.....Erwin, keterlaluan sekali kamu, nak." Ibu Erwin sudah lemas sejak melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang sidang. Beliau di dekap suaminya dengan erat. Ait matanya mulai berlinang melihat putra kesayangannya melakukan hal buruk seperti itu, sampai harus di arak warga setempat.
"Kamu sungguh laki laki tidak punya harga diri, Win. Kami sebagai orang tua kandung kamu merasa sangat malu, malu sekali.(Dengan suara sedikit di tekan) Bisa bisanya kamu menyakiti istri kamu hanya demi pelakor murahan sepertinya itu" Maki Ayah Erwin sambil mengusap bahu istrinya. Beliau sendiri merasa sesak melihat kelakuan bejat Erwin, sampai mereka bingun bagaimana cara mereka menghadapi pandangan masyarakat nantinya.
"Mohon bersabar terlebih dahulu, bapak dan ibu bisa duduk. Kita bicarakan semua masalah dengan kepala dingin. Mari pak silahkan duduk" Bapak kepala desa mempersilahkan mereka semua untuk duduk bersama mengikuti berjalannya persidangan.
Rara mendekati kedua mertuanya "Ma, Pa, maafkan Niara karena mungkin Niara akan mengambil keputusan terbesar dalam rumah tangga Niara dan mas Erwin. Tapi, Niara minta apa pun keputan itu jangan pernah membenci mas Erwin" mata Rara mulai berkaca kaca.
Ibu mertua menyentuh wajah sang menantu "Iya, nak. Apa pun keputusan kamu, kami akan menghormatinya. Maafkan kami atas perbuatan Etwin pada kamu" Air mata ibu mertua semakin menetes deras melihat menantunya tersakiti sedemikian kejam. Seorang wanita bisa merasakan apa yang di rasakan yang lainnya dalam urusan perselingkuhan. Ibu mertua lantas memeluk Rara dengan erat.
__ADS_1
"Dasar cari muka...." Celetuk Icha sambil membuang muka. Ucapan itu terdengar ke telingan kedua orang tua Rara. Kebetulan mereka duduk tidak jauh darinya.
"He.....jaga mulut busuk kamu itu. Anak kami lebih terhormat dari pada seorang pelakor seperti kamu...." kecam ayah Rara sambil menunjuk penuh amarah ke arah Icha.
"Hei.....hati hati kalau bicara, anak saya tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Semua terjadi pasti karena laki laki itu yang memaksanya" ayah Icha berusaha membela putrinya. Bagaimana pun Icha adalah darah dagingnya sendiri, salah benar beliau tetap membelanya.
"Anda tidak boleh menyudutkan salah satu pihak dalam perselingkuhan ini, sebab tidak akan pernah terjadi perselingkuhan kalau keduanya tidak saling mengyukai. Intinya mereka berdua itu salah " tukas Ayah kandung Rara. Hati seorang ayah terluka parah melihat putrinya di sakiti. Seorang anak rela meninggalkan rumah dan orang tua hanya demi memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. tapi, kalau sudah terjadi perselingkuhan macam ini tentu siapa pun tidak akan pernah terima. Sejatinya seorang ayah melepas putrinya untuk orang asing dengan harapan bahagia bukan di sakiti.
"Aduh makin runyam deh kalau begini...." Lirih Mirna melihat perdebatan para orang tua membela anak masing masing.
Brak, brak, brak....
Sangkin kesal Bapak kepala desa menggebrak meja di hadapannya "Mohon tenang bapak ibu sekalian kita semua hadir di sini bukan untuk saling membela anak masing masing, tapi mencari solusi di balik kejadain ini. Mohon turunkan ego kalian" ucapnya sambil mempersilahan Rara bicara.
"Bismillah.....saya akan memgambil keputusan untuk menikahkan mereka berdua"
Sontak saja keputusan itu membuat semu orang tercengang "Loh kok gitu, Ra. Seharusnya hukuman mereka itu di jeruji besi bukan malah di nikahkan" protes Mirna.
"Biarkan saja bukankah itu yang mereka inginkan dari hubungan gelap mereka ini. Tapi, sebelumnya mas Erwin harus mengurus surat cerai terlebih dahulu"
Seketika Erwin berdiri "Nggak bisa, sampai kapan pun saya tidak akan menceraikan kamu, sayang. Aku sangat mencintai kamu, tolong jangan suruh aku menceraikan kamu. Aku mohon sayang" seolah mengiba. Erwin berjalan ke arah Rara sambil duduk bersimpuh di hadapannya, kedua tangan memegang tangan Rara "Please......"
Terlihat Rara membuang muka "kalau kamu nggak mau bercerai dari aku, maka bersiaplah hukuman besi layak untuk kalian berdua." Meleepas tangan Erwin mendekati ibu kandungnya.
"Mas Erwin apaan sih, udah ceraikan dia saja. Aku mau nikah sama kamu" Sambung Icha.
__ADS_1
"Diam Kamu" bentak Erwin sambil menunjuk dirinya.