
Di sudut taman kota terlihat seorang wanita cantik tengah bersandar pada bahu kursi, tidak ada teman yang menemaninya. Duduk di antara dua luka sekaligus, pahit dalam bercinta dan sakit karena di dusta. Dalam keramaian itu dia terasa kesepian, bagaikan ombak merindukan lautan. Selama hidup, Rara tidak pernah membayangkan jika rumah tangganya akan berakhir seperti sekarang ini. Dalam bayangannya berumah tangga itu sangat menyenangkan. Tapi, sekaran dia baru sadar jika dalam berumah tangga itu banyak rintangan. Pernikahan bukan akhir sebuah kisah tapi awal dari sebuah kehidupan yang baru.
Pernikahan itu bukanlah akhir dari sebuah kisah, karena dalam pernikahan dua orang tersebut harus saling belajar apa itu cinta dan bagaimana cara menjaganya. Cinta dalam pernikahan bukan untuk main main, cinta juga bukan sebuah rasa yang tertuju hanya untuk satu orang saja. Apa lagi jika kita sering berbaur di dunia luar. Pasti banyak orang menawarkan cinta, tinggal bagaimana cara kita menjaga hati untuk pasangan kita masing masing. Memang tidak bisa di pungkiri jika cinta itu datang kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Tinggal bagaimana kita memposisikan rasa cinta itu supaya tidak menjalar lebih jauh lagi. Apa lagi kalau kita sudah menikah, jalur kehidupan kita hanya tertuju dalam satu tujuan. Tujuan kebahagian dalam berumah tangga. Bagi sebagian orang cinta kepada istri atau suami akan perkurang dengan seiring waktu, mungkin karena sudah menjadi milik seutuhnya dan seringnya bertemu cinta iru perlahan rapuh. Bohong kalau cinta itu selamanya milik suami mau pun istri, karena rasa cinta tidak di pandang dari status mereka tapi di rasakan oleh hati. Mulut bisa menolak tapi hati tidak bisa di bohongi.
"Bukannya dia itu Rara?" Dari kejauhan ada seorang laki laki tengan berjalan ke arahnya, kebetulan laki laki itu sedang ada pertemuan bersama teman sekolahnya semasa sma dulu. Dia datang sebelum acara sebab menjadi penanggung jawab tempat reuni mereka saat ini.
"Niara....." ucapannya terhenti kala mendengar isak tangis wanita itu. Setelah beberapa saat si laki laki duduk di sampingnya. Rara yang tenggelam dalam kesakitan tidak menyadari kehadiran laki laki itu di dekatnya. Sampai pada akhirnya sebuah sapu tangan ia sodorkan. Rara menoleh ke arah tangan itu dan betapa terkejutnya dia saat itu, melihat seorang laki laki yang sangat di kenal duduk di sampingnya.
"Jangan menangis nanti air matnya kering"
"Iyan? Sejak kapan kamu di sini?" Buru buru Rara menguspa air matanya.
__ADS_1
"Pake ini..." kembali Iyan memberikan sapu tangan miliknya. Rara meraih sapu tangan itu lalu dia menatap mata Iyan "Sapu tangan ini?" Pandang keduanya saling bertemu.
Terlihat Iyan melebarkan senyum sambil mengangguk pelan. Sapu tangan yang ia berikan dulunya adalah hadian ulang tahun dari Rara. Dahulu saat mereka duduk di bangku sekolah menengah keatas, keduanya pernah menjalin kasih. Namun, kisah mereka kandas karena cinta tak di restui. Keluarga Iyan menentang keras hubungan mereka sampai Rara sendiri memutuskan untuk mundur. Keluarga Iyan berasal dari kalangan orang kaya, sedangkan dia hanyanya anak orang biasa. Dulunya ayah Rara bekerja di pabrik milik keluarga Iyan, karena di rasa keluarganya tidak pantas bersejajar dengan keluarga Iyan. Jadi mereka memilih menjauh dari keluarga Iyan dan mencari tempat tinggal baru.
"Kamu masih menyimpannya?" Tanya Rara sambil melihat sapu tangan yang dulunya ia beli lalu menjahit nama keduanya di ujung kain.
"Iya aku masih menyimpannya sama dengan rasa ini" Tutur Iyan dengan senyum memberatkan. Iyan sendiri tidak bisa memungkiri cintanya masih begitu besar pada Rara.
Tiba tiba saja air mata Rara kembali menggenang, entah rasa seperti apa yang saat ini dia rasakan, yang jelas hatinya masih sakit mengingat kisah mereka dulunya.
"Ah, maaf ya jadi kebawa suasana soalnya. Oh iya, ngomong ngomong kamu sedang apa di sini?" Tak mau larut dalam kesedihan, Iyan mencari cara mengalihkan kecanggungan keduanya.
__ADS_1
"Lagi jenuh saja di rumah, jadi aku datang ke sini. Kamu sendiri sedang apa di sini?"
"Ada pertemuan sekolah kita yang dulu itu, apa kamu mau ikut? Kita sedang mengadakan reuni sekolah, tidak hanya kelas kita saja tapi kakak senior kita terdahulu juga akan hadir. Kamu ikut ya..." pinta Iyan.
"Benarkah? Kalau begitu pasti seru sekali ya, bisa ketemu kakak senior juga. Tapi, si Mirna juga harus tau pasti dia akan datang" mengeluarkan hp lalu menghubungi Mirna tapi tjdak ada jawaban dari Mirna, mungkin karena dia sibui kerja.
"Kenapa? Mirna tidak bisa di hubungi?"
Rara mengangguk "Dia itu sekarang kerja di pabrik, jadi susah buat kita kumpul bareng dia kalau tidak pas hari libur." Jelas Rara.
"Ya sudah nggak usah sedih gitu, kan kita bisa datang berdua. Acaranya di selenggarakan dua jam lagi, kita bisa ngobrol di cafe dulu sambil makan, bagaimana?" Ajak Iyan langsung di jawab anggukan kepala.
__ADS_1
Sesampainya di cafe itu Iyan memesankan minuman kesukaan Rara. Mereka pun terlihat berbincang bincang sejenak sambil membahas sekolah mereka dahuku juga kenakalan kenakalan mereka terdahulu. Hingga Rara tertawa lepas mengingat kisah lucu keduanya saat di hukum karena ketahuan bolos sekolah.
(Meski aku tidak bisa mendapatkan dirimu, setidaknya aku bisa terus melihat senyumanmu ini. Sampai kapan pun cinta ini akan tetap ada bersmaku, cintaku hanya untukmu, Niara. Jika bahagiamu bukan bersamaku tapi bahagiaku ada dalam setiap tawamu) Iyan terus menatap wajah bahagia Rara sampai dia tenggelam dalam lamunan yang lalu.