
"Kamu masih sama seperti dulu, paling bisa buat aku ketawa lepas. Jadi ilang deh sedihnya" Tanpa sadar Rara kelepasan bicara, padahal sedari tadi dia tidak mau membahas hal apa yang membuatnya sedih. Meski berkali kali Iyan menanyakan hal yang sama, mengapa tadi dia menangis? Dan jawaban tabu Rara berikan padanya. Alasan dia menagis karena dia habis kehilangan barang berharganya, bukan emas, bukan uang, tapi barang itu jauh lebih berharga. Meski Iyan tau apa yang di maksud Rara itu, tapi dia memilih diam.
"Makanya jadi cewek itu harus punya mental baja, kaya si Mirna itu" celetuk Iyan.
Tanpa sengaja Rara memukul pundak Iyan, seolah tidak ada batasan dalam diri mereka, seperti sebelumnya "Ih....jangan begitu, nanti kalau dia dengar dia bisa bilang gini. Pancen megeli bocah iki...." Seketika itu keduanya kembali tertawa lepas, mereka suka dengan logat jawa Mirna yang medok tapi kadang juga membingungkan. Bagaimana tidak? Lagi asik asiknya bercanda tiba tiba si Mirna ngeluarin logat jawa kan semua jadi bingung. Kebanyakan dari mereka tidak paham dengan ucapan si Mirna itu. Mirna itu orangnya humoris dan logat jawanya akan keluar begitu saja, seolah ngalir gitu aja. Beberapa dari mereka tau maksud ucapan Mirna tapi tidak bisa menjawabnya dengan bahasa yang sama. Karena memang mereka terlahir di tempat yang berbeda. Kalau Rara dan Iyan asli orang jakarta, sedangkan Mirna asli arang jawa, tepatnya kota solo. Meski ada berbedaan bahasa tapi mereka tetap saling menyayangi layaknya seorang sahabat.
"Iya, bener juga kamu. Apa lagi kalau di suruh beliin makan pas kita lagi mojok di kelas jawabannya apa coba?"
__ADS_1
"ORA SUDI" ucap mereka serempak sambil memukul meja di depan mereka, sangking serunya mengenang masa lalu. Keduanya sudah lepas kendali sampai suatu ketika sendok di meja terjatuh dan Rara hendak memgambilnya, namun secara bersamaan mereka menunduk bareng sampai kepala mereka saling berbenturan. Dengan posisi kening menempel, Iyan menatap bola mata Rara hingga beberapa menit. Dari tatapan itu bisa di lihat kalau cinta Iyan masih terbungkus rapi untuk Rara seorang.
Deg.....
Entah mengapa jantung Rara berdebar kencang, begitu menatap dalam pandangan Iyan. Perasaan aneh mulai menguasai dirinya sampai bayangan masa lalu mereka kembali terbuka. Iyan sendiri tidak menutipi perasaannya bahwa dia memang masih mencintai Rara dan selamanya akan seperti itu. Rara sendiri juga belum tau apakah rasa cintanya terhadap Iyan sudah ia kubur dalam dalam, atau masih terkunci di dalam hatinya. Entahlah, dia tidak tau perasan macam apa yang masih ada di hatinya tersebut.
Sontak saja keduanya melepas pandang dan saling menjauh. Tatapan Rara melemah takut dengan pandangan orang di sekitar. Dia menggelengkan kepala berbarapa kali (Astaga, perasaan macam apa ini? Ingat, Ra. Kamu sudah bersuami, jangan sampai hati dan pikiran kamu goyah karena semua masalah ini. Tapi perasaan ini....) sambil meremas bagian bawah baju yang ia pakai. Sudah menjadi kebiasaan Rara kalau hatinya gelisah pasti akan meremas ujung bajunya. Dengan begitu dia bisa mengontrol dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, maaf, itu tadi kami tidak sengaja mau ambil sendok yang jatuh" ucap Iyan menjelaskan kepada semua orang yang menatap penuh senyum ke arah mereka.
Prok, prok, prok...
Suara riuh tepuk tangan meembuat Rara dan Iyan melihat asal suara tersebut. Ternyata suara berasal dari meja sekumpulan muda mudi. Dengan memegang kamera mereka bertepuk tangan "Kalian pasangan sweet banget sih" ucap salah satu dari mereka, di ikuti dengan celoteh yang lainnya.
Sangking malu Rara menyeret langan Iyan keluar dari cafe itu.
__ADS_1