Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 29


__ADS_3

Keesokan hari ketika Erwin hendak berangkat ke kantor, tiba tiba hpnya bergetar. Beberapa pesan singkat dari istrinya.


(Sudah puas belum? Kalau udah bisa kan nanti pulang, mama sama papa ada di sini. Dari semalem nungguin kamu) 


"Maksudnya apa sih..." penasaran kenapa istrinya mengirim pesan seperti itu, ia pun mengecek daftar panggilan. Benar saja ada telepon masuk sekitar pukul delapan malam. Tapi Erwin tidak merasa menjawab telepon itu, pasti Icha sengaja mengangkat telepon itu terus dia bilang yang bukan bukan.


"Kenapa sayang?" Tanya Icha yang baru saja keluar dari dapur membawa dua piring nasi goreng telor untuk mereka sarapan. Wajah Erwin masih terfokus pada pesan singkat di hpnya, sebelumnya Rara juga banyak mengirim pesan. Hampir lima pesan singkat tapi dia tidak tau bahkan bukan dia yang membacanya  semua ini pasti ulah Icha.


(Jangan kebanyakan mendesah takut kebahisan tenaga) Isi pesan Rara dari semalam baru ia baca, banyak sindiran di dalamnya. 


Erwin mengerutkan alis "Apa tadi malam dia telepon?"Pandangnya beralih pada diri Icha.


Dengan santai Icha menjawab "Dia? Oh maksudnya istri kamu itu. Iya, memang tadi malam dia telepon tapi nggak ada suaranya jadi aku matiin deh" 


Erwin bangkit "Kenapa kamu tidak bilang padaku? Kamu tau tidak kalau tadi malam itu orang tuaku datang ke rumah, mereka mencariku" 


"Ya udah lah biarin aja. Toh nanti bisa ketemu lagi?" Dengan santainya Icha menyendok nasi goreng lalu memakannya. "Udah si mas tenang aja nggak usah marah kaya gitu. Mas bisa bilang sama mereka kalau mas banyak kerjaan, gitu aja kok repot" 


"Nggak bisa gitu dong seharusnya kalau ada telepon kamu itu bilang dulu jangan asal angkat. Kalau begini jadi lebih runyam jadinya" sangking kesalnya Erwin meninggalkan Icha yang masih terduduk santai menikmati sarapannya.


"Idih bodo amat bukan orang tua gue ini" 


Segera Erwin menghubungi Rara tapi tidak ada jawaban. Di depan teras nampak Erwin mondar mandir berharap istrinya mau menjawab telepon darinya. Sesekali ia memijat kening "Astaga..... gimana kalau sampai Rara cerita sama mereka, bisa abis gue nanti" kepanikan Erwin semakin besar di tambah pesan whatsapp yang di kirim hanya di baca tanpa ada balasan.

__ADS_1


"Kok nggak di angkat? Takutnya penting lho" tanya mama mertua tiba tiba mengejutkan Rara yang masih berdiri di dapur tengah memegang hp sambil mengaduk bumbu.


"Nggak penting, ma. Paling tukang sampah minta bayaran bulanan. Biar nanti saja dia datang ke sini sendiri" jelas Rara.


"Niara......awas bumbunya gosong" ibu mertua mematikan kompor melihat bumbu di wajan telah menghitam dengan asap mengepul.


"Aduh jadi gosong deh, maaf ya ma maaf. Gara gara tukang sampah jadi bumbunya gosong deh" meletakkan kembali hp di saku celana lalu mengangkat wajan. Bumbu yang gosong di buangnya ke tempat sampah.


Ibu mertua tersenyum sambil menyentuh pundak menantunya "Sudahlah nak biar mama yang masak. Kamu bantu kupas kentang saja ya" 


"Baik, ma."


"Udah telepon suami kamu? Kapan dia akan pulang" datanglah ayah mertua sambil membawa secangkir teh yang tadi di sajikan Rara untuk menemani pagi. 


"Em.....itu pa, paling nanti siang atau sore mas Erwin baru bisa pulang. Tadi malam mas Erwin lembur di kantor sampai ketidiran di sana" ucap Rara menutupi kesalahan suaminya.


"Oh ya sudah kalau begitu..." Ayah mertua kembali keluar dari dapur.


"Niara sayang kamu harus pandai menjaga suami kamu. Di luar sana lagi musim pelakor. Kalau sampai kamu lengah bisa bisa Erwin di tikung pelakor di luar sana. Saran mama sih batasin jam kerjanya buat dia selalu di dekat kamu, jangan sampai nanti dia berbuat macam macam" ucap Mama mertua sambil mengaduk bumbu yang tengah ia masak. 


(Semuanya sudah terlambat, ma. Kenyataannya mas Erwin ambil tikungan tajam dari pada bertahan di jalannya) Rara tidak menjawab ucapan mertuanya, membuat mama mertua menoleh ke arahnya.


"Maksud mama bukan menakut nakuti kamu, tapi cuma ngasih saran aja biar rumah tangga kalian langgeng sampai kaki nini" 

__ADS_1


"Nggak mungkin mas Erwin selingkuh dia itu suami setia kok, ma" senyum Rara melembar.


"Syukurlah kalau begitu..." mama mertua kembali berbalik fokus sama masakan yang ia masak.


"Aw...." tiba tiba saja tangan Niara tidak sengaja terkena pisau. 


"Niara, hati hati sayang" buru buru mama mertua menarik tangan Rara lalu mengucurkan air supaya darahnya tidak bercucuran di lantai. 


"Papa, papa...." panggil Mama mertua.


"Ada apa ma? Astaga Niara kamu kenapa nak?" Melihat jari menantunya berdarah segera ia menghampirinya.


"Aduh papa buruan ambilin hansaplas di kotak obat" 


"I-ya ma bentar" papa mertua terlihat panik, beliau berlari mencari hansaplas.


Dari perlakuam kedua mertuanya ini sudah jelas mereka sangat menayayangi Rara sebagai seorang menantu. Sejak awal, mereka suka dengan kepribadian Rara sampai mereka tidak hanya menganggap Rara sebagai menantu tapi juga anak perempuan mereka.


"Mau kemana sayang? Sarapan dulu" ucap Icha kala melihat Erwin meraih jaket yang menggelantung di kursi ruang tamu.


"Nggak ada selera makan. Sudah telat mau berangkat kerja dulu...." Erwin pun langsung pergi begitu saja. 


Icha mencebirkan kedua bibir "Dih marah dia.....marah aja kalau mau marah, siapa perduli. Paling nanti juga luluh lagi" 

__ADS_1


 


__ADS_2