
Kejadian itu membuat Rara terdiam diri sambil berpikir, apakah benar kata wanita itu kalau rumah ini bukan lagi miliknya melainkan milik istri baru Erwin? Haruskah dia kembalikan mahar itu, atau mempertahankan? Entahlah Rara tidak tau harus berbuat apa.
"Rara? Ternyata lu di sini gue cariin keman mana nggak taunya di sini, mana di telpon nggak di angkat di wa nggak di bales. Gue panik cariin lu tau takut lu kenapa napa" Tiba tina saja Mirna masuk sambil ngomel tidak jelas.
Rara masih tetap diam, pikirannya saat ini tengah kacau.
"Ngapain bengong" menyenggol lengan Rara hingga lamunannya buyar.
"Iya, aku minta maaf. Oh ya Mir aku mau tanya sesuatu sama kamu" Suasana menjadi serius.
Mengerutkan kedua alis mencoba melihat apa yang sedang ingin di tanyakan sahabatnya tersebut "Apa?"
"Emangnya kalau seseorang sudah bercerai mas kawin harus di kembalikan lagi, ya?"
Sontak pertanyaan itu membuat Mirna kaget "Ngapain lo tanya kaya gitu sama gue, mana gue ngerti pasal kek gituan. Nikah aja belum aneh aneh aja lu, Ra. Emang kenapa kok lu tanya masalah begituan? Apa Erwin minta mahar yang dia kasih dulu?" Tanya Mirna penuh tanda tanya.
Dengan wajah menunduk Rara menjawab "Bukan Erwin tapi istrinya"
Seketika Mirna terperanjat "Dasar wanita nggak tau malu banget si dia itu, udah ngerebut laki orang masih aja mau ngerebut mahar orang lain. Nggak usah di kembaliin ngapain juga lu kembaliin mahar itu emangnya Erwin bisa kembaliin keprawanan lu, enggak kan? Emang dia juga bisa kembaliin hati lu kaya dulu lagi, nggak mungkin bisa kan?" Siapa tidak ikut emosi melihat sahabatnya di permainkan seperti itu. Tidak hanya pernikahan tapi juga mengungkit tentang mahar pernikahan.
Rara bangkit berjalan menuju foto yang terpasang di dinding ruang tamu "Semua salahku karena tidak bisa mengenali watak asli mas Erwin sebelum kita menikah dulu, ku kira tutur manisnya adalah tanda kesetiaan, nyatanya semua hanya topeng belaka" Mengambil bingkai foto itu lalu meletakkan di bawah.
"Mungkin ini saatnya aku melepaskan dia dan semua pemberiannya"
"Tapi ini sudah jadi hak lu buat apa di kembalikan...."
"Semua yang berkaitan tentang mas Erwin bukan milik ku lagi. Mungkin dengan mengembalikan rumah ini aku bisa menjalani hidup yang baru. Dengan kejadian ini aku banyak belajar apa arti kehidupan. Dan mungkin aku akan terima tawaran Iyan untuk bekerja di toko bajunya, dengan begitu aku bisa menata kembali hidup ku ini" Rasa sakit itu masih membekas dalam diri Rara sampai kapan pun luka tak berdarah itu sangat menggoreskan luka begitu mendalam.
Mirna menghampiri Rara "Kalau itu sudah jadi keputusan lu, gue dukung apa pun itu asal lu bisa kembali hidup bahagia" memeluk Rara berusaha menguatkan hati sahabatnya.
__ADS_1
Terdengar isak tangis Rara membuat Mirna merasakan sakit "Sudahlah.....jangan lagi tangisi apa yang sudah lepas. Dia yang meninggalkan suatu saat akan menerima balasan."
"Makasih ya Mir di saat terpahit dalam hidup ku selalu kamu ada menemani ku" memeluk Mirna dengan erat.
"Pasti gue selalu ada buat sahabat terbaik gue ini"
Di lain sisi Erwin masih adu mulut dengan Icha di sepanjang jalan, saat ini dia pulang dengan naik angkutan umum. Kebetulan di dalam angkutan hanya ada mereka berdua dan penegemudi angkutan, meski risih mendengar penumpangnya adu mulut tapi si bapaknya memilih diam, takut di kira mencampuri urusan orang lain.
"Yang salah itu bukan aku tapi si mantan istri kamu itu" Sebenarnya Icha sudah tau kalau Erwin di gugat cerai oleh Rara. Waktu itu Erwin mendapat pesan singkat dari Rara mengatakan bahwa dia sudah melakukan gugatan cerai padanya, tapi Icha sengaja tidak memberitahu Erwin karena tidak mau jika nanti Erwin datang ke persidangan maka mereka tidak jadi bercerai. Icha langsung memutar otak bagaimana caranya supaya Erwin tidak mengetahui itu dengan cara hp Erwin di ceburkan ke dalam air, alhasil hpnya rusak dan sedang di perbaiki.
"Dari awal sudah ku jelaskan bukan dia yang salah tapi kita. Kita yang sudah bermain api dengannya kenapa kamu malah menuduhnya menyalakan api? Tolonglah mulai saat ini jangan ganggu dia lagi, sudah cukup kita melukainya. Biarkan dia hidup dengan jalannya dan kita perbaiki jalan kehidupan kita, kita pasti akan bahagia begitu juga dengan dia" Berusaha menurunkan ego demi terciptanya kedamaian yang di impikan selama ini.
Icha melepas tangan Erwin dari lengannya lalu membuang muka "Bahagia itu kalau kamu banyak uang, punya rumah mewah, punya mobil. Nggak kaya sekarang ini boro boro rumah mewah atau mobil, kerja ja cuma jadi kuli panggul" Sindiran itu membuat Erwin terluka. Harga diri seorang suami di rendahkan sedemikian rupa.
"Jaga bicara kamu...."Ucap Erwin dengan nada tinggi.
Merasa pertengkaran keduanya memanas bapak supir angkot pun mencari cara agar mereka berhenti bertengkar "Maaf pak kita berhenti di mana...." Sembari melihat penumpang dari kaca depan.
Setelah angkot berhenti Erwin mengambil uang di saku celananya yang hanya tinggal lima belas ribu rupiah "Berapa pak?" Sambil membuka lipatan uang lusuh.
"Dua puluh ribu, pak"
Sontak saja Erwin kebingungan dari mana dia mendapatkan uang lima ribu lagi sedangkan uang tinggal lima belas ribu saja, belum lagi nanti untuk makan malam dia sudah tidak ada uang lagi.
"Sayang kamu ada lima ribu lagi?" Tanya Erwin pada Icha.
"Gimana bisa bahagia buat bayar angkot aja masih minta bini" dengan kesal Icha melempar uang lima ribu ke wajah Erwin sembari pergi.
Erwin hanya bisa mengelus dada "Ini pak, makasih ya" memungut uang tadi lalu memberikannya pada supir angkot.
__ADS_1
"Yang sabar ya pak, istri jaman sekarang emang gitu kalau kita banyak duit aja di sayang sayang tapi kalau lagi nggak ada duit yang seperti itulah" Semua orang pasti mengalami hidup di lilit ekomoni sampai yang tadinya romantis dan baik baik saja akan menjadi sarana kemurkaan para istri. Dalam hal ekomoni suamilah yang di salahkan atas semuanya tanpa berpikir bagaimana seorang suami berusaha banting tulang demi mencukupi kehidupan rumah tangga.
Erwin menunduk malu "Iya pak maaf ya sudah membuat keributan di dalam angkot bapak"
"Tidak apa apa, pak. Itu juga sering terjadi dalam kehidupan saya"
"Saya permisi dulu pak" Erwin lantas berjalan menyebrangi jalan, namun tiba tiba saja ada sebuah truk melaju dengan kencang sampai kecelakaan tidak terhindarkan.
"Aaaaaaaa......." Teriak Erwin.
Bapak tukang angkot tadi langsung turun dari angkot menghampiri Erwin yang tergeletak di jalanan.
Semua orang yang ada di sana langsung menghampiri Erwin yang sudah tidak sadarkan diri, salah satu di antara mereka membawa tubuh Erwin naik ke angkot tadi dan beberapa orang berlari ke gang kecil di mana Erwin tinggal.
Tok, tok, tok, tok....
"Mbak buka pintunya, mbak buka"
"Ngapain sih gedor pintu orang seenak jidat, nggak tau apa kalau gue lagi istirahat" maki Icha.
"Maaf mbak, tapi mas Erwin....."sambil menata nafas yang terengah engah.
"Kenapa sama dia?" Dengan wajah acuh.
"Itu mbak....mas Erwin kecelakaan"
Seketika Icha terkejut "Jangan mengada ngada kamu ya, baru saja kami turun dari angkot dan dia baik baik saja. Kamu jangan main main nggak lucu tau"
"Saya bicara jujur mbak asli tanpa rekayasa. Kalau mbak nggak percaya ayo ikut saya ke rumah sakit"
__ADS_1
Dengan di bonceng seorang laki laki yang juga tinggal si sekitar kosan Icha, mereka langsung menuju rumah sakit terdekat.