Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 47


__ADS_3

Beberapa hari kemudian tanpa di sengaja Niara tengah berjalan kaki menuju warung dekat kosan, tiba tiba ada sebuah motor melintas, ada sosok wanita yang Niara kenal tengah berboncengan mesra dengan seorang laki laki. Wanita itu tidak lain adalah Icha istri baru mantan suaminya tersebut, Icha tengah melingkarkan kedua tangannya di tubuh seorang laki laki muda dan kepalanya bersandar di punggung si laki laki sambil tersenyum manja. Sepertinya dia sangat bahagia bagaikan dunia milik sendiri. 


"Loh bukannya itu istri mas Erwin, kenapa dia mesra banget sama laki laki lain...." heran Niara sembari masih menatap keduanya. 


Pagi sekali Niara harus berjalan ke warung dekat kosan untuk membeli sabun mandi, tapi tanpa sengaja ia melihat pemandangan mencengangkan sekaligus membingungkan. Dalam bayangannya selama ini rumah tangga Erwin bahagia tapi dengan melihat kejadian barusan, Niara sadar bahwa hubungan mereka tidak dalam kondisi baik baik saja. Meski semua itu bukan urusan Niara lagi tapi tentu saja ada banyak pertanyaan di hati. Bukan mau kepo  hanya saja sekedar penasaran. Tak mau tenggelam semakin dalam, segera Niara berjalan membeli keperluan lalu kembali ke kosan.


Di sisi lain ada Erwin tengah keluar dari kamar mandi. Saat ini dia tinggal di kos kecil dekat tempatnya bekerja, meski tidak begitu bagus bahkan cenderung tidak layak untuk di huni seorang laki laki. Pasalnya kosan itu terlalu sempit dan juga ada banyak cucian menggelantung di depan teras kosan, karena setiap hari ibu kos akan menjemur pakaian sebanyak mungkin di area rumahnya termasuk dua kosan di samping rumah. Maklum saja ibu kosan seorang janda yang juga menerima jasa cuci gosok baju, tapi tidak seperti jasa laoundry kebanyakan. Ibu kos tidak menggunakan mesin cuci melainkan masih manual pake tangan.


"Mana duit tinggal satu satunya lagi" memegang perut sembari memperlihatkan isi dompet. Di dalamnya tersisa uang dua puluh ribu. Seharusnya di awal bulan Erwin menerima gaji pokok sekitar dua juta rupiah setiap bulan, namun karena terlilit hutang di masa lalu mau tidak mau dia harus membayarnya dengan cara di cicil setiap bulan.


"Enaknya cari sarapan apa ya...." dengan hanya berpegang uang dua puluh ribu Erwin keluar dari kamar kosnya menaiki motor butut menuju ke sebuah tempat. 


"Niara...." di jalan Erwin melihat Niara berdiri di tepi jalan membuatnya menghentikan laju kendaraan "Samperin nggak ya" sedikit bimbang tapi dia memberanikan diri mendekatinya.


"Ehem...." Erwin berdehem membuat Niara menoleh ke arahnya "Mas Erwin...." lirihnya.


"Mau kemana?" 


"Aku mau ke rumah ibu, mas. Mumpung hari libur, mas sendiri mau kemana?" 


"Kalau gitu kita bareng aja kebetulan aku juga kangen sama ibu dan bapak kamu. Udah setahun lebih nggak ketemu mereka" dari nada bicara Erwin terlihat ada kegalauan di hatinya. Tatapan berair itu apa maksudnya, entahlah yang jelas hanya Erwin sendiri yang tau.


"Emmmm.....bukannya nggak boleh mas tapi emang nggak apa apa nih kamu nganterin aku sekaligus main di rumah orang tua ku, takutnya ada yang marah" 


"Siapa yang kamu maksud?" 

__ADS_1


Niara mengerdikan bahu "Ya siapa tau istri kamu cemburu"


"Seorang duda tidak memiliki istri" satu jawaban itu membungkam mulut Niara sampai beberapa menit. Pertanyaan pun tidak lagi terlontar dari mulutnya, hanya ada beberapa pertanyaan dalam hati yang tidak enak jika di ubgkap di hadapan Erwin.


(Jangan jangan mereka sudah....)


"Ya udah yuk aku antar kamu sekalian main ke rumah ibu bapak" reflek Erwin menarik lengan Niara sampai ke motornya. Niara menghentikan langkah "Aku bisa jalan sendiri, mas" ucapan Niara menyadarkan Erwij bahwa sejak perceraian itu terjadi dia tidak ada hak atas diri Niara bahkan sekedar untuk menyentuhnya.


Segera Erwin melepas lengan mantan istrinya "Maaf, maaf, aku nggak ada maksud lain kok, aku cuma reflek aja" mereka pun berboncengan menuju ke rumah keeua orang tua Niara.


Sesampainya di rumah terlihat pintu di kunci rapat. Kebetulan ada tetangga datang memberitahu kalau kedua orang tuanya sedang berkunjubg ke rumah saudara yang ada di desa.


"Aduh maaf ya udah sampai sini tapi ibu sama bapak nggak ada, jadi ngerepotin kamu deh mas" ucap Niara.


"Nggak apa apa kok, mungkin lain kali aku bisa datang lagi" 


Tibi tiba Erwin menyentuh tangan Niara "Aku mau bicara sebentar sama kamu" mengajaknya duduk di kursi depan rumah.


Niara terheran apa yang hendak Erwin bicarakan padanya "Aku mau minta maaf atas semua kesalahan ku selama ini, dari yang sengaja menyakiti kamu dan sampai menghancurkan hati kamu. Jujur, dari kesalahan itu aku banyak belajar apa itu arti cinta. Tidak hanya itu saja, aku juga mengerti bahwa segala perbuatan pasti di sertai karma. Aku sungguh menyesal" ucap Erwin sambil menundukkan kepala. 


"Sejak lama aku sudah memaafkan kamu, mas. Mungkin dengan semua itu kita bisa sama sama belajar bagaimana caranya kita saling menjaga dan menghargai juga belajar arti jujur dan setia. Yang berlalu biar berlalu. Mari kita rangkai kehidupan baru, menjalani hidup masing masing dengan hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya." Tidak di pungkiri dalam hati Niara masih menyisakan sesak. Bukan karena rasa cintanya tapi luka itu begitu menyakitkan sampai luka itu belum menuntup sempurna.


"Jujur aku sangat menyesal.....andai saja waktu bisa ku putar kembali, ingin sekali ku perbaiki apa yang telah ku rusak sebelumnya. Tapi sepertinya dunia telah menunjukkan jalan baru bagi kita" sebenarnya Erwin sangat ingin Niara kembali bersamanya menjadi istrinya kembali.


Niara menarik nafas panjang "Sudahlah, mas. Tidak usah kamu bahas lagi masalah yang telah lalu. Hidup itu bukan bagaimana cara menikmati tapi bagaimana cara menghadapi. Semua yang terjadi adalah pelajaran bukan diaknosa fonis dari yang maha kuasa. Kita semua berjalan di atas masa lalu dengan menatap masa depan. Memperbaiki diri bukan berarti harus mengulang kembali." 

__ADS_1


Betapa hancur hati dan harapan Erwin saat ini, sebab ia telah kehilangan harapan untuk kembali.


"Iya aku juga tau, baiklah kalau begitu aku pamit pulang dulu atau kamu mau aku antar sekalian?" Erwin menawarkan diri.


Niara tersenyum lalu menggeleng "Tidak, terima kasih. Biar aku tunggu Mirna saja" 


Segera Erwin bangkit seraya berbalik badan menyembunyikan kilauan air mata di ujung netranya "Semoga kehidupan kamu setelah ini jauh lebih bahagia" Langkah kaki Erwin perlahan menjauh.


"Tunggu...." berjalan ke arah Erwin dengan tatapan penuh tanya.


Sebelum berbalik Erwin menyeka air matana "Iya, kenapa?" Berpura pura tersenyum meski tengah terluka.


"Kaki kamu...." melihat ke arah kaki.


"Oh itu akibat kecelakaan beberapa tahun lalu, di malam saat aku baru saja pulang dari rumah kamu, tanpa di duga aku tertabrak hingga membuat tulang kaki patah." Jelasnya sembari mengingat kejadian di masa itu.


"Astaga (membungkan mulutnya sendiri) kenapa mas tidak mengabari aku. Sejak malam itu aku mencari mas sampai ke rumah papa mama, tapi mereka tidak bilang apa pun sama aku...." 


"Mereka belum tau kalau aku mengalami musibah, sebenarnya aku nggak mau kasoh tau mereka tapi karena aku kesulitan membayar biaya rumah sakit, akhirnya aku minta orang datang ke rumah....." Erwin mengingat betapa kejam Karma perselingkuhan menghantam kehidupannya sampai eluh tudak berpengaruh, sampai peluh mulai merapuh.


"Ya Tuhan, maaf ya mas aku benar benar tidak tau kalau kamu...." belum sempat Niara selesai bicara, Erwin lebih dulu membungkam mulut Niara dengan jari telunjuk.


"Nggak apa apa itu hukuman untuk laki laki sepertiku. Aku sudah menerimanya, aku ikhlas menjalani hukuman ruhan. Dengan begini setidaknya aku bisa sadar dari perbuatan ku terdahulu" Air mata Erwin tumpah di hadapan wanitanya. 


Melihat air mata Erwin membuat Niara tidak tega, perlahan tangannya menyeka air mata itu "Jangan tangisi semua yang terjadi. Yang lalu biar berlalu, kita jalani hidup yang baru. Meski kita bukan suami istri lagi, tapi kita bisa menjadi teman. Oke?" Senyum manis Niara melebar membuat hati Erwin terasa nyaman.

__ADS_1


"Iya. Kita teman sekarang" ucap Erwin.


"Kalau begitu mulai sekarang kita teman"


__ADS_2