
Erwin merasa sangat pusing berada di rumah apa lagi saat istrinya ngoceh kesana kemari, duh kepala kaya mau pecah. Setelah pertengkaran itu Erwin memutuskan untuk duduk di pinggir gang dekat jalan raya arah ke kosannya, disana terdapat sebuah pohon besar di bawahnya ada beberapa motor terparkir. Tempat itu tidak lain adalah pangkalan ojek. Kursi kayu nan panjang yang saat ini ia duduki bersama beberapa orang menjadi satu satunya sandaran di kala pikiran sedang suntuk.
"Bang, ojek bang" ada tiga orang datang membawa barang belanjaan. Kebetulan tempat pangkalan ojek tidak jauh dari pasar hanya berjarak lima puluh meter saja dari sana.
"Bang lu bawa dulu penumpangnya, gue mau nemenin nih anak bentar" Ujar Seorang pria di yang duduk di samping Erwin.
"Siap, bang. Rejeki mana boleh di tolak sih, makasih ya bang Eko " Sahut teman yang baru saja datang sehabis mengantar penumpang.
"Kita narik dulu ya bang Eko" sahut teman lainnya.
Pak Eko mengacungkan jempol.
Segera ketiga orang dengan penumpang masing masing beranjak pergi. Erwin mengatupkan kedua telapak tangan sambil menunduk ke bawah melihat ujung sandal jepit miliknya yang telah usang.
(Pasti ni anak lagi ada masalah sama bininya) gumam pak Eko.
"Tuh muka udah kaya jemuran kering aja, kenapa?" Tanya pak Eko. Melihat wajah Erwin sekilas saja beliau sudah tau ada sesuatu yang mengganggu pikiran Erwin saat ini. Apa lagi kalau bukan masalah istrinya. Setelah pernikahan Erwin dan Icha terlaksana kehidupan mereka berubah drastis dari yang tadinya saling sayang sekarang berbalik menjadi membosankan, tidak ada adem ayem sedikit pun yang ada tiap hari bertengkar terus sampai Erwin sendiri nggak sanggup ngatasi sifat Icha.
__ADS_1
"Hey.....kenapa?" Sekali lagi Pak Eko bertanya tapi bukan sebuah jawaban yang di dapat melainkan hanya tatapan hampa dari mata Erwin.
"Apa lu butuh duit? Kalau emang iya gue ada nih sedikit lumayan lah buat beli makan" hendak merogoh kantong celana namun Erwin menghentikannya.
"Tidak, pak. Bukan itu masalahnya"
"Lalu?"
Nampak Erwin menghela nafas panjang "Huffff.....sebenarnya aku nyesel pak udah ninggalin wanita yang paling mengerti aku sejak dulu" menatap ke depan banyak kendaraan melintas.
"Maksud kamu?"
Pak Eko menahan tawa "Lah, lagian sih elu Win udah punya bini sempurna masih aja selingkuh. Di mana mana selingkuhan itu nggak jauh lebih baik dari istri sah. Mau secantik apa selingkuhan tetap aja dia jauh dari kata sempurna"
Kata kata pak Eko ada benarnya juga sih. Sekarang kalau di pikir mana ada selingkuhan yang baik sedangkan mereka kerjanya cuma merebut suami orang. Kalau pun mereka baik itu hanya topeng saja, nanti di lain sisi dia akan membuka topengnya baru kalian tau wajah siapa di balik topeng itu, manusia atau iblis.
"Awalnya sih cuma buat seru seruan aja, pak. Kalau tentang cinta sih pasti aku lebih cinta sama istri pertama ku. Ternyata aku terjebak dalam permainan ku sendiri" Pandangannya kembali menunduk sambil mengetuk jari telunjuk di kursi kayu yang ia duduki.
__ADS_1
"Kalau lu nggak mau terbakar maka jangan pernah nayalain api pada daun kering. Dulunya gue juga gitu bro, punya istri baik tapi malah gue selingkuhin dan akhirnya gue sendiri menyesal seumur hidup gue. Cewek yang gue pilih malah main serong sama teman gue sendiri, mau marah gue aja dulu juga gitu kalau nggak marah mananya bini di rebut orang pasti marah. Tapi gue milih mundur bro saat itu, gue anggep itu sebagai karma gue karena banyak nyakitin bini gue yang dulu." Tutur pak Eko sembari menceritakan kisah hidupnya yang terkesan sama dengan kisah Erwin saat ini.
Erwin terdiam memikirkan kesalahan terbesarnya kalau saja waktu bisa di putar balik, maka dia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana hanya dia dan istrinya saja.
Pak Eko menepuk pundak Erwin "Yah hidup itu memang begitu bro kadang yang kita miliki terasa nggak berarti apa apa, tapi setelah hilang baru kita sadari betapa berharganya dia dalam hidup kita" pak Eko sendiri pernah merasakan hal seperti itu, beliau pernah menikah dua kali tapi semuanya gagal karena beliau salah melangkah. Tapi itu dulu saat usia beliau masih muda, kalau sekarang pak Eko memutuskan hidup sendiri tanpa istri. Pernikahan pertamanya kadas karena lebih memberatkan selingkuhannya yakni istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu karma itu berlaku, istri keduanya selingkuh dengan sahabat dekatnya dan itu yang membuat dia menyesal telah menyia nyiakan sebuah permata hanya demi batu krikil jalanan.
"Awalnya aku juga nggak nyangka bakal kaya gini kejadiannya, pak. Aku kira selingkuh itu indah tapi nyatanya bohong. Perselingkuhan hanya mengundang petaka. Dan setelah kejadian itu hidup ku hancur, kerjaan nggak ada, di usir orang tua, jadi sampah masyarakat. Pokoknya nggak enak banget deh" penyesalan hanya tinggal penyesalan karena semua sudah terjadi mau tidak mau harus di jalani.
Di tepuklah pundak Erwin hingga berulang kali "Saran saya supaya hidup kamu sedikit lebih tenang, carilah dia (Rara) minta maaflah padanya jangan sampai dia menyimpan dendam terhadapmu yang nantinya akan memepersulit langkah hidupmu. Percayalah, jika dia ikhlas memaafkan kamu parlahan hidup kamu akan mudah. Semua kesulitan ini kemungkinan besar bagian karma dari perbuatan kamu sendiri. Aku udah ngalamin itu bro jadi bisa bicara kaya gini sama kamu" sebagai orang tua beliau lebih banyak merasakan pahit asinnya perselingkuhan, beliau hanya ingin kisah Erwin tidak semakin sulit.
"Bagaimana caranya aku minta maaf sama diakalau akses komunikasi kami di putus olehnya dan kedua orang tuanya tidak memberitahu keberadaan anak mereka. Udah hampir tiga bulan aku mencarinya tapi dia nggak ada di mana mana, di rumah kami pun dia tidak ada"
"Rumah? Jadi kamu masih punya rumah, mas?" Tiba tiba saja Icha sudah berdiri di belakang Erwin.
"Icha?" Erwin segera berbalik lalu berdiri "Sejak kapan kamu ada di sini?"
Wajah yang tadinya di penuhi kemarahan berubah menjadi senyuman "Yang benar mas kamu masih punya rumah, kenapa kita nggak tinggal di sana saja"
__ADS_1
"Apaan sih, nggak ada rumah. Rumah siapa juga" Erwin segera menerik lengan istrinya menyeretnya masuk ke dalam gang kecil.