Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 45


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


"Hey, wanitaku kerja mulu sih keluar yuk" Ajak Iyan  sembari melebarkan senyum. 


"Nggak dulu deh kerjaan masih numpuk nih..." jelas Rara menunjuk pada setumpuk pakaian yang belum ia rapihkan. Beberapa barang baru saja mendarat di toko jadi Rara harus extra kerja hari ini. Ya, saat ini Rara sudah bekerja di toko baju milik Iyan, dengan menyibukkan diri dengan bekerja perlahan ia bisa melupakan permasalahan hidupnya. Meski Rara hanya sebagai pegawai biasa tapi dia mendapat kepercayaan dari Iyan untuk mengurus toko miliknya tersebut.


"Eh tunggu.....kamu tadi bilang apa?" 


Iyan melebarkan senyum "Bilang apa? Aku cuka mau ngajak kamu keluar..." 


"Bukan, bukan yang itu....yang wanitaku" 


Menggaruk kepala bagian belakang seraya tangan kiri masuk ke dalam saku celana "Em.......itu, iya wanitaku dong kamu kan kerja di tempatku, jadi ya kamu wanitaku" dalam hatinya ingin sekali memiliki wanita yang tengah menatapnya saat ini. Indah tatapan itu menyejukkan jiwa, mengisi kekosongan dalam diri. Sudah berapa lama kekosongan menyelimuti hidup Iyan hingga tiba saat di mana dia kembali bertemu dengan tambatan hatinya.


"Berarti mereka juga wanita kamu dong" melempar senyum pada beberapa pegawai di luar toko, mereka tengah membeli makanan ringan.


"Jelas beda dong kalau kamu itu wanira ter....." belum sempat menjelaskan, Rara lebih dulu membungkam mulut Iyan dengan sebuah pulpen.


"Stttttt.....jangan bicara sembarangan kalau di dengar yang lain bisa jadi masalah" Sembari kembali menghitung berapa banyak baju.


Melihat ke arah luar "Mereka nggak denger ini"


Rara menggeleng kepala sembari menutup buku yang di pegang "Apa pun itu aku nggak mau mereka semua slaah paham dengan kedekatan kita. Status kami sama, sama sama pegawai di toko kamu ini. Jangan sampai ada celah keretakan antara sesama pekerja nanti malah membuat kira nggak nyaman" Ucap Rara memperjelas.


"Terus....." mencondongkan diri.


"Terus kecedor tembok"  


"Hahaha.....kamu itu paling bisa buat gemes ya"


Seketika kedua bola mata Rara membulat.

__ADS_1


"Bercanda bercanda. Ya udah deh kita keluar yuk tinggalin dulu aja kerjaannya, ini sudah waktunya makan siang lho" Menyandarkan diri pada tembok samping pintu sambil melipat kedua tangan "Sejak kapan sih aku suruh pegawaiku kerja sampai lupa makan siang? Galak begini aku punya hati kali apa lagi kalau buat kamu nggak cuma hati, nyawa pun akan ku beri" Candaan itu membuat Rara tersipu sampai kedua pipinya memerah bagai buah delima.


"Gombal aja terus...." tiba tiba saja datanglah seorang wanita cantik dari balik pintu. Langkah kakinya segera menggema di iringi tatapan mata yang seolah memperlihatkan ketidak sukaannya.


"Kak Siska...." keduanya melongo melihat sosok wanita cantik itu.


"Kenapa? Kaget ya (menghampiri meja di samping Rara lalu duduk di sana sembari melipat kaki kanan menopang kaki kiri) jadi kalian merintis usaha kecil seperti ini" melihat sekeliling toko yang luasnya tidak seberapa itu. 


"Kok kamu tau aku ada di sini sih, siapa yang kasih tau?" Iyan menghampiri kakak sulungnya.


"Hey.....adikku sayang apa sih yang nggak bisa kakak mu ini lakukan. Jangankan mencari kamu mencari suami ke ujung dunia saja pasti kakak bisa temukan" jelasnya sembari menghampiri Iyan.


"Kak Siska apa kabar? Lama kita tidak bertemu" sapa Rara sembari mengulurkan tangan. Siska hanya melihat uluran tangan itu seraya menatap mata Rara dengan pandangan aneh "Gue baik" Jabatan tangan Rara di anggurin begitu aja.


"Buat apa pake kesini segala....." Sambung Iyan menengahi kecanggungan di antara kedua wanita itu. Memang sejak dulu pihak keluarga Iyan tidak pernah suka kalau Iyan menjalin hubungan dengan wanita di bawah kasta. Impian seorang pengusaha adalah menikahkan anak anaknya dengan keluarga sejajar atau bahkan di atas mereka.


"Santai dong adikku sayang, harusnya kamu menyambut kedatangan kakak kamu ini" 


"Kita bicara di luar" Iyan segera menarik kakaknya keluar dari toko. Iyan membawa kakaknya masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan halaman parkiran.


"Apa mereka masih perduli sama aku, kak? Yang mereka perduliin hanya diri mereka sendiri tanpa mereka tau apa yang aku mau. Selama ini sudah banyak aku berkorban kebahagiaan demi mereka, tapi mulai dari sekarang aku ingin hidup dengan jalan ku sendiri" mengingat betapa keras didikan kedua orang tua atas kehidupan anak anaknya. Tidak hanya Iyan saja yang mengalami paksaan atau hidup dengan keinginan mereka, tapi kakaknya juga harus mematuhi keinginan mereka.


"Kakak tau apa yang kqmu rasain. Tapi, kamu juga harus tau kalau mereka ingin kehidupan kamu bahagia kedepannya. Toh dengan kamu menikah sama gadis pilihan papa pasti kehidupan kamu bakal enak kedepannya, beda kalau kamu nikah sama si Niara itu. Bukannya hidup bahagia tapi hidup kamu bakal menderita" 


"Sejak kapan uang menjamin kebahagian?" Sampailah mereka di depan sebuah cafe.


Siska melepas sabuk pengaman sambil mencondongkan diri ke arah Iyan "Buktinya apa apa butuh duit, sayang."


"Oh jadi gitu ya kak, sekarang aku tanya apa kehidupan kakak sama suami kakak sebahagia itu?"


Siska terlihat menelam ludahnya sendiri sembari memgalaihkan pandang "Jelas kakak bahagia, suami kakak kaya raya banyak duit, mau apa aja terpenuhi" 

__ADS_1


Memicingkan mata melihat ada kejanggalan di tatapan kakaknya itu "Kalau memang kakak bahagia lalu kenapa kakak selalu sendiri saat pulang ke Indonesia? Bukankah selama ini dia sering ninggalin kakak dengan alasan bisnis di berbagai negara. Bahkan, dalam satu bulan hanya dua tiga hari di rumah, iya kan? Lalu bahagia macam apa yang ingin kakak banggakan" selama ini Iyan tau seperti apa tersiksanya Siska dengan kehidupan rumah tangganya itu. Sejak awal Iyan sudah menolak kakaknya menikah dengan orang asing tapi kedua orang tua terus memaksakan kehendak mereka, sampai pada akhirnya Siska bercerita kalau suaminya sering pergi ke berbagai negara. Sejak saat itu Iyan menaruh curiga tentang kehidupan runah tangga kakaknya tersebut. Setiap kali mereka bicara di telepon suara kakaknya seperti habis menangis tapi Iyan pura pura tidak tau.


"Sudah cukup! Jangan sok tau kamu" ketus Siska sembari keluar dari mobil.


"Aku tau kakak jauh dari mereka(kedua orang tua)" lirih Iyan sembari keluar dari mobil.


Siska berjalan masuk ke falam cafe karena kesal setelah Iyan menyudutkan dirinya "Ngapain sih pake bahas dia" gerutunya.


Iyan masih di parkiran melihat ponselnya (Aku beliin kamu makan ya, mau makan apa?) Isi pesannya pad Rara.


Ting....


(Nggak usah repot repot, aku udah makan siomay) 


"Pasti dia marah sama aku" memasukkan hp ke dalam saku celana.


Di saat Iyan dan Siska duduk di dalam cafe keduanya saling diam sambil melihat daftar menu "Kakak mau makan apa?" Tanya Iyan memecah keheningan.


Siska tidak menjawab malah melambaikan tangan pada seorang weters "Saya pesan ini sama minumnya ini" menunjuk dafrar menu.


"Baik, kak. Ada lagi yang mau di pesan" 


Tiba tiba saja Iyan tersentak mendengar suara itu "Erwin...." 


"Kamu?" 


"Kalian saling kenal?" Tanya Siska.


"Loh kamu kerja di sini?" 


"Iya. Maaf pekerjaan saya masih banyak  anda mau pesan apa?" Tak mau lama lama berbincang Erwin pun kembali bertanya pasal pesanan mereka.

__ADS_1


Iyan pun menunjuk menu yang di pilihnya dengan masih terheran heran kenapa bisa Erwin kerja di tempat itu.


"Baik, kalau begitu mohon tunggu benentar" Erwin pun pergi dari sana dengan langkah tertatih. Akibat kecelakaan itu membuat kaki Erwin cidera parah dan tidak bisa berjalan seerti sedia kala.


__ADS_2