
"Sayang....." panggil Erwin yang baru saja menutup pintu kamar, berjalan menuju dapur.
"Iya mas ini tinggal nunggu air mendidih buat bikin teh" melihat istrinya sibuk di dapur, Erwin pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Rara dengan dagu menempel di pundak. "Makasih ya sayang udah mau percaya lagi sama mas"
Deru nafas Erwin menyapu leher jenjangnya. Rambut yang terikat membuat leher jenjangnya dengan mudah di terpa deru nafas suaminya itu. Rara memejamkan mata sejenak lalu "Seharusnya aku yang minta maaf sudah menuduh mas yang bukan bukan, sampai mas harus bolak balik jakarta bandung. Sekali lagi maafkan aku ya mas" ucapnya sambil mengusap pipi Erwin "Mungkin aku kebanyakan lihat sinetron kali ya jadi bawaannya curiga mulu, tapi mulai sekarang aku janji nggak akan curiga curiga lagi sama mas" Setelah air mendidih Rara pun hendak menuangnya ke dalam cangkir kecil itu "Mas minggir dulu aku mau nuang air panas nih..."
"Nggak apa apa ngapain harus minggir, kita tuang bareng bareng aja ya" dengan masih memeluk sang istri, ia memegang tangan Rara yang lebih dulu memegang gagang panci lalu mereka menuangnya bersama "Ih mas tumpah kan..."
"Udah biarin aja kapan lagi bisa mesra mesraan gini sama bini" di ciumnya pipi kanan Rara, membuat Rara tersipu malu "Ah mas Erwin bisa aja"
__ADS_1
"Ya udah kita makan yuk udah laper ni" Erwin melepaskan pelukannya lalu meraih dua piring nasi goreng yang telah di panaskan "Kita makan di ruang tamu dulu ya sayang, nanti kalau mas udah ada duit kita beli meja makan biar kita punya ruang makan sendiri kaya orang orang gitu" maklum saja mereka ini pengantin baru, jadi harus nyicio perabotan rumah tangga. Sambil membawa cangkir Rara berjalan di belakang suaminya "Iya, mas. Nggak masalah mau makan di ruang tamu, di tuang makan, atau di kamar, asal bisa makan aja udah bersyukur."
Sambil meletakkan dua piring di meja dan meraih cangkir dari tangan istrinya "Harus dong kita punya meja makan. Masa iya nanti kalau udah punya anak banyak mau makan di ruang tamu terus"
Rara duduk di sebelah Erwin sampin menyentuh pundak laki laki itu "ya udah mas kita nabung dulu ya buat beli meja makan"
"Pasti sayang ku. Tapi, satu yang mas minta, kita harus saling percaya satu sama lain biar semua cita cita kita segera terwujud, Oke?"
Mereka pun makan bersama.
__ADS_1
Keesokan harinya Icha masih menunggu kabar dari Erwin. Dia menunggu sambil mondar mandir di depan teras rumahnya "kenapa sampai jam segini belum juga kasih kabar? Kemana aja sih mas Erwin itu, katanya mau cepet balik, tapi ini udah jam sepuluh masih aja belum datang." Kesal Icha sambil duduk di kursi depan rumahnya itu. Setelah menunggu sampai setengah jam masih saja belum ada tanda tanda kedatangan kekasih gelapnya itu, dia pun kembali masuk ke dalam rumah. Menyalakan tv dan memakan camilan "Uh kesal deh, awas saja kalau dia berani macam macam" Icha pun meletakkan ponselnya lalu dia fokus melihat drakor favoritnya.
Tidak lama hpnya bergetar tapi dia tidak mendengarnya, sangking asik melihat drakor sampai tidak mendengar nada telepin di hpnya.
"Icha kamana sih? Apa dia juga ikutan marah" sambil menyetir Erwin menulia pesan singkat padanya tapi masih belum ada jawaban. Biasanya setiap kali dia mengirim pesan atau menelepon Icha selalu sigap. Kali ini kenapa tidak seperti biasanya. Setelah dia sampai di depan rumah melihat pintu terbuka "lah itu pintu terbuka tapi kenapa dia tidak menjawab telepon ku" Erwin langsung masuk ke dalam rumah itu dan betapa terkejutnya dia saat itu melihat Icha terbahak bahak melihat drakor kesukaannya.
"Oh pantas saja tidak menjawab telepon ku"
Sontak saja Icha menoleh ke semping melihat sosok Erwin sudah berdiri tegap di sana "Lho mas Erwin, kapan darang?" Icha segera bangkit dan menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Lumayan buat lihat kamu ketawa happy tanpa aku" ucapnya sambil mengetuk pelan kening Icha.
Icha tertawa "Aduh maaf deh, lagian kamu ngesel kenapa jam segini baru dateng?" Sambil menggelayut dalam pelukan kekasihnya tersebut.