
"Tambah kecepatannya dong mas siapa tau di depan sana kita ketemu akhirat" sindir Rara.
"Bicara apa kamu ini?" Tiba tiba saja Erwin menepikan mobil sambil melepas sabuk pengaman di badannya. Badan Erwin condong ke arah Rara, namun Rara tidak perduli. Dia terus menatap ke arah samping melihat remang jalananan.
"Bukankah aku benar suamiku sayang?(Dengan suara sedikit menekan) bukankah dari tadi kamu ngebut terus mas, itu berarti kamu nggak takut mati dong? Kalau aku sih hidup mati sama aja ya, sama sama sakit. Eh tapi kalau cuma aku yang mati jangan deh nanti enak di kamu bisa buka banyak pintu di rumah gadis muda di luar sana...." melipat kedua tangan sambio memalingkan wajah. Di lihat dari nada bicaranya sudah jelas kalau Rara sangaja menyulut daun kering, api yang kecil bisa membara kalau sampai daun itu terbakar. Erwin hanya hisa diam menahan emosinya, belum pernah sekali pun melihat sikap Rara seperti ini.
"Kok diem mas mau coba mati, ya? kalau iya biar aku turun sekarang" Hendak membuka pintu tapi segera di kunci oleh Erwin. Terpaksa Rara tidak bisa berkutik dari sana. Kedua tangan Erwin mengunci badan Rara sampai wajah mereka sangat dekat hanya berjarak beberapa inci.
"Kalau ngomong jangan sembarangan bisa nggak sih..." Mengeratkan rahang merasa jengkel atas kelakuan sang istri. Tidak seperti Niara yang biasa dia kenal, Niara yang mudah di bujuk dengan satu kalimat. Kali ini Niara tidak bisa tinggal diam, hati dan kepercayaannya telah hilang bersama dengan cintanya. Semua hancur akibat perselingkuhan.
"Kamu tau setiap nggak setiap kata adalah doa, dan...." memperingatkan sang istri dalam berkata.
"Dan apa, ha?" Bentak Niara yang sudah tidak bisa menahan emosi. Jika yang bersalah saja bisa bersikap kasar seolah bukan dia yang bersalah, mengapa Rara tidak bisa balik marah, sudah sepantasnya ia marah karena kedudukan sebagai seorang istri telah di renggut oleh sosok pelakor.
Pelakor itu sendiri tidak akan masuk kalau tuan rumah tidak mempersilahkan. Baginya sedikit celah bisa membuatnya masuk dan singgah di sana, sampai kehancuran itu akan tiba.
__ADS_1
"Dan kamu berharap aku mau menarima maaf kamu setelah itu kita bisa kembali seperti sedia kala, atau kamu mau menjadikan dia istri kedua kamu, itu yang kamu mau? Tapi sayang nasi basi tidak layak di konsumsi lagi. Kalau kamu mau menjadikan dia persinggahan kedua, silahkan aku menerimanya. Tapi, dengan satu syarat(mengacungkan jari telunjuk) aku pamit undur diri. Nggak sudi harus berbagi suami. Satu burung tidak akan berada dalam dua snagkar sekaligus kecuali ada burung lain masuk pada salah satu sangkar." Jari telunjuk tepat di depan wajah Erwin, membuat Erwin sempat tidak percaya bahwa wanita lemah lembut seperti istrinya akan memperlihatkan sisi emosionalisme yang tinggi.
Mengatur nafas sembari memejamkan mata sejenak, ia tau saat ini bukan hanya diri Rara yang bicara melainkan juga rasa sakit yang ikut bersamanya.
"No, no, no! Mas nggak akan lepasin kamu atau membiarkan orang lain memiliki kamu. Kamu adalah milikku, istriku selamanya" menyentuh kedua lengan Rara dengan sedikit menghuyungnya.
Rara tersenyum sinis "Heh.....ultimatum macam apa ini? Kamu mengikatku sebagai hak milikmu sedangkan kamu membuka hati untuk wanita lain. Hebat sekali kamu, mas" mendorong keras badan Erwin.
"Sayang, mas mohon kita jangan saling teriak seperti ini. Mas bersedia memperbaiki kesalahan selama kamu mau memaafkan mas apa pun pasti mas lakukan demi kamu sayang. Please, jangan kaya gini lagi ya" menggenggam kedua tangan Rara sembari menatap penuh harap. Dengan sangat terpaksa Erwin harus menundukkan kepala di hadapan wanita untuk membuatnya kembali percaya.
"Cukup mas, cukup! Aku tu udah cape terus kamu bohongi kaya gini, aku punya hati. Aku juga bisa marah mas, aku bisa nangis, aku juga bisa minta pisah dari kamu" tanpa di sadari air matanya tumpah.
"Emmm......" Rara hendak memberontak sambil menghentakkan tubuh. Sontak mobil perlahan bergoyang.
"Sayang aku sangat mencintai kamu, jangan bahas tentang cerai lagi ya aku tidak mau pisah dari kamu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu sayang" Ucap Erwin penuh harap.
__ADS_1
Tok, tok...
Kaca mobil tiba tiba saja di ketuk oleh seseorang.
"Iya, pak ada apa ya" tanya Erwin sambil menurunkan kaca mobil.
"Bapak tidak bisa baca ya" menunjuk ke samping mobil di mana ada rambu rambu besar di sana tentang larangan parkir di sekitar area.
"Maaf pak, maaf. Kami tidak melihat rambu rambu itu" Seketika Erwin mengemudikan mobilnya lagi.
Suasana menjadi hening. Berulang kali Erwin menyentuh dagu sang istri hendak membawanya dalam satu pandangan, tapi berulang kali pula Rara menepis tangannya.
"Jangan marah lagi dong sayang, mas janji mulai sekarang mas akan setia sama kamu seorang" Ucap Erwin. Namun, semua ucapan itu bagai angin lalu.
Di dalam hati Rara, selalu berharap kalau semua yang terjadi hanyalah mimpi. Ketika mata kembali terbuka kenyataan tidak membentur jiwanya. Meski semua hanya harapan semata. Semua nyata tanpa rekayasa.
__ADS_1
Sambil melihat kaca samping Rara bergumam(Tuhan jika malam ini engkau berkenan membalikkan waktu, tolong kembalikan waktuku yang terbuang dengan semua ini. Aku susah lelah menghadapinya. Jika semua hanya mimpi bangunkan aku agar sakit ini tidak semakin dalam. Dan jika semua ini nyata kuatkan aku untuk mengambil langkah selanjutnya)