
"Kenapa nggak di angkat sih...." kesal Icha sambil terus mondar mandir berusaha menghubungi kekasihnya. Sedari pagi Erwin tidak ada menghubungi Icha sekali pun hqnya meminta maaf, tidak seperti biasa jika mereka bertengkar Erwin akan mengemis permohonan maaf darinya. Tapi kali ini tidak seperti itu sampai memakan waktu cukup lama. Kedua bola mata Icha membulat melihat postingan di story Erwin. Foto dirinya tengah merangkul istri dan ibunya dengan caption (KEDUA BIDADARIKU).Postingan itu menambah kehawatiran di hati Icha. Gelas di atas meja menjadi sasaran kemarahannya saat ini, gelas itu di lempar hancur menjadi serpihan kecil. Pyarrrrr....... "Sengaja banget posting story kaya begini(menghentakkan kaki berberapa kali karena merasa kesal) awas saja kamu mas berani main main sama aku" berusaha lagi menghubungi tapi masih saja belum ada jawaban. nggak di angkat sih...." kesal Icha sambil terus mondar mandir berusaha menghubungi kekasihnya. Sedari pagi Erwin tidak ada menghubungi Icha sekali pun hqnya meminta maaf, tidak seperti biasa jika mereka bertengkar Erwin akan mengemis permohonan maaf darinya. Tapi kali ini tidak seperti itu sampai memakan waktu cukup lama. Kedua bola mata Icha membulat melihat postingan di story Erwin. Foto dirinya tengah merangkul istri dan ibunya dengan caption (KEDUA BIDADARIKU).Postingan itu menambah kehawatiran di hati Icha. Gelas di atas meja menjadi sasaran kemarahannya saat ini, gelas itu di lempar hancur menjadi serpihan kecil.
Pyarrrrr.......
"Sengaja banget posting story kaya begini(menghentakkan kaki berberapa kali karena merasa kesal) awas saja kamu mas berani main main sama aku" berusaha lagi menghubungi tapi masih saja belum ada jawaban.
"Ih....." melemparkan hp ke atas kasur "Kesel deh, pasti mas Erwin sengaja buat manas manasin aku"
Di mana pun tidak ada selingkuhan di nomor satukan, percaya atau tidak? Karena kalau si pelakor di nomor satukan pasti nantinya ia akan di intimidasi keadaan, bahkan tidak hanya itu konsekuensi terbasarnya adalah nama baik menjadi taruhan. Kendati demikian, tukang selingkuh baru akan menyadari kesalahannya kalau aib itu sudah terbongkar. Jangan bangga sob bisa berselingkuh karena sesungguhnya seorang peselingkuh adalah sampah masyarakat. Sebaik apa pun alasan perselingkuhan itu terjadi tidak akan berpengaruh baik di mata umum.
"Si Icha apaan sih nggak jelas banget" Gumamnya melihat pesan singkat dan banyaknya telepon. Sebelumnya Erwin sudah menduga pasti Icha akan menghubunginya, maka dari itu hp di silent ketika sedang bersama sang istri. Pas Erwin memegang hp Rara meliriknya.
Melihat suaminya mengerutkan dahi membuatnya mencebirkan bibir "Kenapa? Selingkuhannya marah ya"
Sontak Erwin memasukkan kembali hp ke dalam saku celana "Apaan sih ngaco banget ngomongnya....." melihat kiri kanan seperti mencari sesuatu.
"Sayang kita makan dulu yuk sepertinya di depan ada nasi goreng, sejak siang mas belum makan" Ajak Erwin sambari menepikan mobil, mencari tempat parkir di sekitar area. Sedari pulang kerja belum sempat makan apa pun, jadi ia putuskan untuk mampir makan di pinggir jalan.
"Kenapa tidak makan di rumah selingkuhannya? Emang dia nggak punya beras buat masakain kamu. Atau perlu ku sumbangkan beras juga padanya seperti dia minta sumbangan cinta dari suami ku ini" Rara mulai bengis setiap kata kata keluar dari mulutnya bagaikan belati, mengiris setiap kalimat menjadikannya perih.
__ADS_1
Seketika Erwin naik pitam tatapan matanya terlihat tajam "Niara Cukup! Sampai kapan kamu akan melempar sindiran kejam itu. Aku ini suamimu hormati aku"
Membuang muka sambil menyembunyikan air mata "Seseorang akan di hormati kalau dia punya harga diri. Apa kamu punya itu, mas?" Lirihnya dengan suara sedikit di tahan. Air mata tidak bisa membohongi luka dalam hati. Selama ia masih meneteskan air mata selama itu pula sakitnya masih terasa.
Erwin berusaha mengendalikan diri supaya tidak hanyut dalam emosi " Huft....sayang maaf mas kebawa emosi. Mas memang bersalah tapi mas akan memperbaikinya, mas akan tinggalkan dia demi kamu" ucapan itu tak membuat Rara bergeming.
"Aku nggak butuh janji yang aku butuh bukti"
Menyentuh lengan sang istri "Pasti akan mas buktikan demi cinta kita"
"Ya sudah jangan bahas ini lagi" mengusap sisa air mata di ujung netra indah istrinya. "Ayo kita makan dulu mas sangat kelaparan" membuka sabuk pengaman sang istri dengan melebarkan senyum. Rara tidak perduli, ia segera turun dari mobil sedangkan Erwin masih di dalam mobil "Harus extra sabar ngadepin dia...." lirihnya sambil membuka pintu mobil.
"Baik, mas. Silahkan duduk" si bapak mempersilahkan mereka duduk. Namun, di saat Rara hendak duduk tanpa sengaja ia melihat Mirna dan Iyan sedang makan di kursi belakang.
(Iyan? Kok dia bisa makan di sini sama Mirna)
"Sayang, mau kemana?" meraih lengan sang istri yang hendak beranjak. Namun, Rara menepis tangan Erwin sambil memutar bola mata seolah jengah melihat sikap sok manis suaminya itu.
"Mir lihat itu...." Iyan menepuk pundak Mirna.
__ADS_1
"Hem.....apa sih ganggu orang makan aja deh" tukas Mirna.
"Lihat itu..." Mirna langsung melihat ke depan, di lihatnya Rara tengah berdebat kecil dengan suaminya membuat Mirna langsung berdiri.
"Mau ngapain, Mir? Mending kita pura pura nggak liat aja, jangan tambah masalah deh" Iyan menghentikan niat Mirna sembari memberi sedikit penjelasan. Dengan masalah yang baru saja terjadi. Tidak enak kalau nanti malah memperkeruh keadaan.
"Gue nggak terima dong sahabat gue di gituin. Cowok kaya si Erwin pantesnya itu di hajar sampe mampus" memukul pelan meja di hadapannya tapi tidak sampai terdengar kencang sebab tersamarkan dengan bunyi kompor dan banyaknya pembeli.
Terpaksa Iyan menarik paksa Mirna agar kembali duduk. "Iya aku tau kamu khawatir sama Rara, tapi biarin mereka selesikan masalahnya berdua saja takutnya nanti hadirnya kamu malah memperkeruh keadaan. Dah makan lagi aja...."
"Mas makan di sini saja, aku mau ke sana" Jelas Rara segera berjalan ke arah Mirna dan Iyan.
"Hai boleh gabung nggak nih....."
Keduanya langsung melihat ke arah Rara "Rara? Kamu makan di sini juga?" Iyan terlihat canggung.
"Tentu boleh dong silahkan duduk sahabat ku tercinta" menggeser badan memberikan ruang untuk Rara.
Erwin tak ingin berdebat lagi, ia memilih diam di tempatnya lalu pesanan mereka datang.
__ADS_1
"Yang satu tolong antarkan ke meja sana ya pak" menunjuk ke meja Rara.