
Beberapa hari berlalu. Semuanya nampak berjalan seperti biasanya. Hingga suatu hari di saat Mirna baru pulang kerja, dia melihat suami sahabatnya melintas di samping motornya. Wajah Erwin yang terlihat bahagia membuat Mirna geram sampai muncullah niat dalam dirinya. Di sepanjang jalan Mirna mengikuti mobil Erwin. Tak berapa lama mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Dari kejauhan terliah seorang gadis cantik menggandeng lengan Erwin sambil tersenyum senyum bahagia. Mirna pun mengintai mereka dari kejauhan sampai mereka masuk kedalam mall tersebut "Nak bener kan ceweknya itu yang kemaren" sambil mencocokkan wajah di hpnya.
"Kali ini gue bakal buktiin kalau si laki laki hidung belang itu main serong sama wanita lain. Biar Rara melek siapa sebenarnya yang salah....." Mengeluarkan ponsel untuk merekam setiap pergerakan mereka. Dari jarak sepuluh sampai lima belas meter Mirna memantau mereka.
"Oke, ini cukup buat bukti, awas saja kalian" Mirna pun mengirim hasil rekaman itu dengan caption (lu lihat suami yang lu belain selama ini lagi jalan sama tuh cewek) tak lupa Mirna memberitahu di mana tempat mereka berada saat ini. Mirna terus mengikuti mereka sampai dia membeli sebuah kerudung untuk menutupi wajahnya supaya bisa mendengar percakapan keduanya "Sepertinya gue juga perlu kaca mata deh" setelah siap dengan penyamaran itu segera dia mendekati mereka dengan berpura pura memilih pakaian yang ada di dekat mereka.
"Sayang aku mau yang ini, yang ini dan yang itu juga bagus" ujar wanita di samping Erwin. Tak mau kehabisan akal Mirna merekam setiap pembicaraan mereka.
"Kamu beli saja apa yang kamu mau sayang" jawabnya sambil membantu memilihkan baju untuk kekasih gelapnya itu.
"Huek....jijik banget dengerin mereka mesra mesraan" lirih Miran dengan melihat ke arah mereka. Layaknya seorang mata mata yang mengintai tergetnya. Setelah beberapa saat kemudian hp Mirna berdering. Erwin dan Icha menatap ke arahnya. Mirna panik karena dia lupa hpnya belum di silent. Mana nada deringnya kenceng banget "Ih norak banget deh masa nada deringnya kenceng begitu" ucap Icha sinis.
__ADS_1
"Biarin aja hp punya gue ngapain situ yang sewot...." jawab Mirna lalu beranjak pergi.
Mendengar nada bicara wanita itu sepertinya Erwin mengenal suaranya. Ah, mana mungkin itu teman Rara. Pikir Erwin tak mau ambil pusing. "Udah lah sayang nggak usah pikirin dia, mending kita lanjut belanja aja yuk"
Mood Icha tiba tiba berubah drastis, dari yang antusias belanja jadi bad mood gara gara masalah nada dering tadi. Wajahnya terlihat kesal sekali "Tapi aku masih kesel aja sama cewek tadi lho mas. Masa iya ngatain aku kaya gitu" melipat kedua tangannya di atas perut dengan wajah manyun.
Erwin menyentuh dagu Icha seraya berbisik mesra hingga membuat Icha kembali tersenyum. Mereka tidak perduli di mana mereka berada saat ini, yang mereka lakukan itu mengundang banyak simpati dari pengunjung di sana, tidak banyak dari mereka senabg dengan perlakuan seorang laki laki teehadap wanitanya, tapi banyak pula yang menilai sikap keduanya terlalu berlebihan. Sontak saja kemesraan mereka menjadi buah bibir. Apa lagi di kalangan pemuda pemudi, menurut mereka sikap keduanya di anggap sweet.
"Ra, Rara, lu nggak apa apa kan?" Melihat reaksi Rara saat itu membuat Mirna sedikit ketakutan. Berulang kali memanggil namanya tapi Rara masih terdiam membisu. Kedua matanya tak henti menatap ke arah suaminya yang tengah melingkarkan tangan pada pinggang seorang gadis muda.
"Kok lu masih diem si Ra? Seharusnya lu itu samperin mereka berdua kalau perlu lu hajar mereka sampai keduanya bertekuk lutut di kaki lu" ujar Mirna mengompori. Tapi, Rara bukan wanita kejam seperti itu, dia punya cara sendiri untuk membalas keduanya.
__ADS_1
"Kalau lu cuma diem gini mending gue yang wakili lu buat hajar mereka...." tiba tiba saja Rara menghentikan niat Mirna dengan menarik tangannya.
"Nggak usah Mir, I'm oke. Kamu tenang saja biar aku balas perselingkuhan mas Erwin dengan cara ku sendiri. Dengan begini aku cukup tau saja apa yang dia lakukan di belakang ku selama ini" Rara menarik Mirna keluar dari pusat perbelanjaan itu.
Keluar dari mall dia mengajak Mirna naik taksi online yang tadi ia pesan dan masih menunggunya di sana. Karena tau bagaimana perasaan Rara saat itu, Mirna pun memutuskan untuk ikut dengannya lalu meminggalkan motornya di parkiran mall.
"Ra kalau lu mau nangis jangan di tahan. Gue tau kok saat ini hati lu lagi ancur banget" menyentuh lengan sabahatnya sembari menepuk pelan pundaknya.
Dengan senang hati Rara menyandarkan kepala di bahu sahabatnya "Aku nggak habis pikir ternyata mas Erwin membuka pintu hantinya untuk wanita lain. Sakit banget Mir, sakit." Seketika itu air matanya tumpah ruah.
Hari ini Mirna hanya akan menjadi sandaran air mata untuk sahabatnya. Meski bukan dia yang mengalami semua itu, tapi hatinya ijut hancur berkeping keping. Di sepanjang jalan pulang Rara mencurahkan isi hati dan rasa kecewanya. Mirna hanya bisa diam mendengarkan curahan hati seorang istri dengan sesekali dia juga ikut menangis.
__ADS_1