Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 34


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Erwin tidak lagi mengunjungi kekasih gelapnya. Saat ini Erwin masih bertekat untuk mendapatkan kembali rasa kepercayaan sang istri. Meski sulit tetap yakin Rara akan melunak seiring dengan perjuangannya.


"Pokoknya aku harus membuat dia kembali percaya sama aku, kalau tidak nasib hartaku hangus di tangannya" ternyata bukan cinta yang saat ini coba di pertahankan, namun harta warisan kedua orang tuanya. Di ruang kerja sembari menatap layar laptop di hadapannya. Kali ini Erwin memilih kerja di kantor dan tidak terjun langsung ke lapangan, ia memantau pekerja dari cctv. 


Sebelum memutuskan untuk mendapatkan hati istrinya lagi, Erwin sudah memberitahu Icha kalau sampai dia belum bisa mendapatkan kepercayaan Rara, maka dia belum bisa menemuinya. Tentu hal itu memberatkan Icha, pikirannya mulai tidak tenang. Bagaimana kalau dia kembali bersama istrinya dan meninggalkan dia. Icha tidak mau hilang akal, meski Erwin telah memperingatkan dia tetap saja dia akan berusaha mendapatkannya kembali apa pun rintangan itu.


"Mas pulang sore nanti tolong siapkan makanan ya sayang, mas sangat ingin makan kepiting saus manis buatanmu" ucap Erwin di telepon. Beberapa hari ini dia sering sekali memberi kabar dan perhatiannya pada Rara, hingga Rara pun mulai sedikit mempercayainya. Mudah bagi seorang laki laki membujuk wanitanya kala sedang merajuk, kata manis dan perhatian bisa mengembalikan rasa itu perlahan. Di tambah lagi Rama tidak pernah memberi informasi tentang keberadaan Erwin di Villa wanita itu. 


"Kamu yakin dia akan berubah secepat itu? Jangan sampai kamu diperdaya dia lagi, nggak kapok sama janji manisnya dulu. Yang katanya nggak bakal selingkuh, nggak bakal nyakitin kamu, tapi nyatanya apa dia mengingkarinya bukan?" kebetulan Mirna sedang bersama Rara. 


Rara terdiam sejenak (Benar juga kata Mirna. Pokoknya aku nggak boleh lengah sama sikap manisnya ini)


"Aku juga nggak tau apa dia benar benar ingin memperbaiki kesalahannya atau hanya sekedar basa basi saja" Terlihat di wajah Rara ada kebimbangan, mungkin setelah beberapa hari tidak ada hal buruk menerpa suaminya jadi dia sedikit menaruh percaya pada suaminya itu. Meski begitu Mirna tidak ingin sahabatnya kembali terjerebak dalam lingkaran kepahitan untuk yang ke sekian kali. 


"Saran gue jangan langsung percaya gitu aja, atau lu bisa....." Mirna membisikkan sesuatu pada Rara.


"Benar juga kata kamu" Sambil menjentikkan jari tengah dan ibu jari.

__ADS_1


"Mari kita susun rencana" Mirna dan Rara menyusun sebuah rencana besar untuk menjebak seorang pelakor serta pelaku dengan cara mereka.


"Lihat saja apa yang bisa aku lakukan...." sangking geram Icha menunggu di depan kantor Erwin bersama dengan seorang driver taksi online. Sengaja mendatangi kantor tempat Erwin bekerja demi mendapat kejelasan, pasalnya sudah beberapa hari tidak ada kata maaf dari kekasihnya atau sekedar pulang ke Villa. 


"Nah itu dia" Icha keluar dari mobil lalu menghampiri kekasih gelapnya.


"Mas Erwin...." 


Sontak saja Erwin terkejut melihat sosok wanita berdiri di samping mobilnya. Sejak tadi Erwin menatap layar hpnya jadi dia tidak tau kalau ada Icha di sana. Sambil melipat kedua tangannya Icha menggelayut di pintu mobil "Sampai kapan kamu akan menghindari dari ku, mas?" 


Erwin terkejut bagaimana bisa Icha tau tempat dia bekerja, padahal dia tidak pernah memberitahu di mana kantor tempatnya bekerja. 


"Sayang kamu ngapain sih ke sini segal, kan aku udah bilang nanti kalau dia sudah kembali percaya sama aku, kita bisa seperti dulu lagi. Takutnya kalau dia melihat kita lagi, hanguslah sudah hartaku" 


Icha meraih tangan Erwin yang tengah berpegang pada stir kemudi "Tapi aku kangen sama kamu loh mas. Udah beberapa hari nggak ada kabar nggak pulang ke vila takutnya kamu lupain aku" menggeleyut di bahu Erwin.


"Kamu tau sendiri kan kalau nggak mudah bujuk seorang cewek? Aku harus berjuang mendapatkan hatinya, toh semua ini juga buat kita nantinya" jelas Erwin sambil mencium kepala Icha.

__ADS_1


"Kamu jahat mas, aku itu ngrasanya habis manis sepah di buang" Ucap Icha dengan wajah manyun.


Erwin melihatnya "Hei jangan marah gitu ah nanti cantiknya ilang lho. Mending temenin aku makan siang yuk" Mencoba menghibur selingkuhannya dengan iming iming makan siang.


"Makan saja sendiri aku tidak lapar"


Erwin menghentikan mobilnya di sebuah cafe dekat kantor "Jangan bilang kalau kamu kangen sama aku ya, kangen di sayang ya?" dengan berbisik dan tangan mulai jail merayap di sekitar leher wanita itu. Bibirnya perlahan menyapu tiap inci leher jenjang gadis cantik tersebut dengan mengecupnya perlahan. ******* kecil keliar dari bibir mungil gadis itu "Ah.....mas Erwin jangan di sini" hasrat Icha mulai menjalar ke seluruh tubuh membuatnya tenggelam dalam kenikmatan. 


"Aku kangen banget sayang" jemari erwin mulai menelusup masuk ke dalam sele sela baju Icha, hingga Icha kembali melenguh nikmat.


Mereka tidak perduli di mana mereka berada saat ini, di parkiran cafe mereka berbuat tidak senonoh tapi belum sampai berhubungan intim. 


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Icha memejamkan mata menikmati setiap sentuhan di lehernya. "Tunggu sampai aku pulang nanti akan ku makan kamu sepuasku" bisikan itu seolah menggeliat di telinga Icha. 


"Em.....sekarang aja, gimana kalau kita pulang sebentar" ajak Icha. Erwin langsung menghentikan sktivitasnya di tubuh Icha lalu melihat jam di pergelangan tangan "Nggak bisa sayang. Jam iatirahat akan segera habis. Aku juga ingin kamu sekarang tapi perutku lapar" 


"Ya udah deh tapi janji nanti ke vila ya. Jangan bohong lagi" Ucap Icha memperingatkan.

__ADS_1


"Janji sayang ku" ujarnya sambil mengusap pelan ujung kepala Icha.


__ADS_2