Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 15


__ADS_3

"Sayang, mas pulang...." dari luar rumah Erwin memanggil sang istri yang tak kunjung menyambutnya. Biasanya belum juga keluar dari mobil pasti istrinya sudah menyambut penuh senyum di teras rumah mereka. Karena tak kunjung mendapi sang istri keluar, segera ia mengeluarkan koper dan semua barang yang baru saja ia beli dari pusat perbelanjaan sebagai oleh oleh. "Kemana dia? Pintunya terbuka tapi di panggil dqri tadi nggak nyaut nyaut. "Apa dia marah karena aku tidak menjawab teleponnya dan semua pesan singkat itu?" 


Erwin baru mengetahui bahwa istrinya begitu banyak mengirim pesan juga menelepon dirinya saat Icha memberikan hp kepadanya. Apa boleh buat dia tidak bisa marah karena dari sikap Icha yang seperti itu membuatnya semakin cinta. Itu pertanda kalau Icha juga sangat mencintainya. Gadis 20 tahun berparas cantik dan mungil itu membuatnya nyaman, entah kenyamanan macam apa yang Icha berikan kepadanya sampai dia menghianati istrinya. Perselingkuhan itu terjalin bukan karena dia tidak mencintai istrinya, tapi rasa kagumnya terhadap wanita lain membuat dia membuka hati untuk wanita itu. Apa lagi Icha lebih muda dari Rara dan pastinya masih kinyis kinyis.


Erwin memasuki rumah dan betapa terkejutnya dia melihat Rara tertidur di kursi panjang depan tv. Dia meletakkan semua barang lalu menghampiri istrinya. Erwin duduk bersimpuh di dekatnya, di lihat paras cantik sang istri ketika tertidur. "Sayang...." lirihnya sambil mengusap bagian kepala Rara. Sangkin pulasnya Rara tidak terbangun hanya beralih posisi tangan saja. Erwin tersenyum, dia memutuskan untuk tidak membangunkannya lagi karena sepertinya Rara sangat pulas. 


Ketika dia hendak bangkit tiba tiba saja Rara terbangun "Mas Erwin? Udah lama datengnya? Maaf aku ketiduran" Seperti biasa Rara mencium tangan suaminya. 


"Kenapa, cape ya?" Tanya Erwin sampil mengusap kepala sang istri. 


"Iya, cape nungguin kamu pukang, mas. Oh iya aku buatin mas teh dulu ya" 

__ADS_1


"Kopi aja lah sayang tapi gulanya jangan banyak banyak ya. Mas mau ke kamar dulu ganti baju sama sekalian mau mandi." Sambil berjalan ke arah kamar. Rara pun mengangguk kemudian menuju dapur, membuatkan kopi dan menyiapkan makanan ringan untuk teman ngopi. 


"Mas kopinya udah siap" ucap Rara memberitahu. Secangkir kopi dan roti kering tersaji di atas meja. Rara melihat papar bag di bawah meja membuatnya langsung melihat isi di dalamnya. 


"Itu buat kamu sayang, jangan lupa di pake ya biar tambah cantik" dari kejauhan Erwin menghampiri sang istri. Sekarang dia sudah mandi dan terlihat segar kembali. 


"Mas ngapain pake beli baju mahal kaya gini, sayang kan uangnya buat beli kaya ginian. Mending di tabung buat beli meja makan" 


"Ya ampun harga baju ini sama dengan satu gram emas" mulut Rara mengangga seolah tidak percaya harga sebuah baju di tangannya itu.


Sontak Erwin tertawa "Sekali kali nggak apa apa dong sayang beli baju mahal, masa istri mas mau pake baju murahan terus. Nanti di kiranya mas pelit sama istri" 

__ADS_1


"Tapi kan sayang duitnya mas...."


"Memang kamu nggak suka ya mas beliin baju itu? Yah sia sia dong mas bawain oleh olehnya" melihat wajah kecewa suaminya, Rara pun langsung memeluk suaminya itu. "Aku suka mas, suka banget. Cuma aku tu kasian sama mas udah di bela belain kerja sampai Bandung lho, masa duitnya malah di buat beliin baju mahal buat aku (semakin mengeratkan kedua tangan yang melingkar di badan suaminya). Tapi bener aku tuh suka banget mas, bajunya bagus warnanya juga kalem." 


"Udah ah jangan bahas harga baju mending kamu suapin mas roti itu..." pinta Erwin.


Rara pun mengambil roti lalu menyuapi suaminya "Makasih banyak ya mas udah rela berjuang demi aku"


Membalas pelukan Rara "Bukan aku atau kamu tapi kita sayang" 


Mereka saling berpelukan. Sungguh mesra hubungan mereka ini, sampai perselingkuhan itu tersamarkan. Tidak banyak seorang istri mendapat perlakukan romantis dari suaminya. Tapi siapa sangka di balik keromantisan itu ada sebuah rahasia besar.

__ADS_1


__ADS_2