Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 26


__ADS_3

Erwin membawa Rara masuk ke dalam mobil kemudian mereka langsung pergi dari tempat itu. Sepanjang jalan Rara tetap diam, pandang mata terus menatap samping kaca mobil. Ia terlalu enggan menatap wajah suaminya yang penuh kepalsuan itu. 


"Sayang, mas bisa jelaskan semuanya. Semua itu tidak sama dengan apa yang kamu lihat, dia itu cuma teman mas saja nggak lebih dari itu" Sembari menyetir Erwin berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa yang di lihat adalah salah. Biasa lah jika seorang pasangan kepergok selingkuh pasti dia akan mencari seribu alasan untuk menutupinya. 


"Sayang, jangan diam saja dong. Mas berani sumpah dia itu cuma teman saja nggak lebih dari itu" menyentuh tangan sang istri namun segera di tepis. Kali ini Rara sangat kecewa padanya. Tidak hanya hatinya yang hancur tapi juga rasa cinta dan kepercayaan. Saat ini yang ada pada diri Rara hanyalah kebencian. 


Apa jadinya jika kepercayaan dan cinta telah hancur oleh perselingkuhan? Pasti hal itu akan memicu kerusakan dalam rumah tangga mereka. Rumah tangga itu ibarat sebuah jarum, terkadang jarum itu bisa menyatukan tapi juga kadang menyakitkan. 


Tiba tiba saja Erwin menepikan mobil di bahu jalan "Pleasa, percaya sama mas. Kamu jangan diam seperti ini" 


"Terus aku harus bagaimana, mas? Apa aku harus berteriak kencang bilang kalau suami tercinta ku ini sudah berselingkuh di depan mata ku sendiri. Oh, atau aku harus tertawa karena kamu sudah berhasil mengelabuhi aku selama ini" Terlihat senyum sinis di sudut bibir Rara. 


Tatapan mata keduanya saling bertemu. Dari sorot mata Rara terlihat ada sebuah kekecewaan mendalam. Erwin sendiri sadar jika di dalam prahara ini dialah yang paling bertenggung jawab. Meski begitu Erwin tetap mengelak kalau si wanita tadi adalah selingkuhannya. Seberapa besar Erwin meyakinkan Rara saat ini tidak akan membuat Rara percaya kepadanya lagi, pasalnya dia tidak hanya melihat perselingkuhan itu tapi juga mendengar sendiri bahwa suaminya mengaku bahwa wanita di sampingnya tadi adalah istrinya. 


"Please, percaya sama mas. Cinta mas itu cuma buat kamu seorang" 


Ucapan Erwin membuatnya geram dan seketika itu juga Rara menamparnya keras.

__ADS_1


"Cukup, Cukup! kamu bilang cinta padaku, mas. Kalau kamu mencintai ku maka kamu tidak akan pernah mendua. Tapi nyatanya ku itu berselibgkuh, mas." dalam luka itu Rara meluapkan kesakitannya. 


"Siapa yang berselingkuh? Dia itu cuka teman ku saja, tadi dia memintaku supaya berpura pura menjadi suaminya itu saja nggak lebih" Dusta Erwin berusaha memenangkan kepercayaan istrinya lagi.


Rara melempar senyum tidak percaya "Tidak usah kamu perjelas lagi status kamu dengan wanita itu, karena aku sudah tau yang sebenarnya terjadi. Kamu pikir aku tidak tau kamu sembunyikan dia di sebuah Villa, kan? Dan satu lagi, kepergian kamu ke Bandung waktu itu bukan kerja melainkan memuaskan nafsu bejat kamu itu" mendorong tubuh Erwin.


"Tidak, itu tidaklah benar. Mas bisa jelasin semuanya, sayang tunggu dulu mas bisa jelasin" Erwin meraih lengan Rara ketika Rara hendak keluar dari mobilnya. Terlalu banyak luka di hati Rara sampai air matanya tak bisa di bendung lagi. 


"Lepas...." Segera Rara melepas tangan Erwin lalu dia turun dari mobil. Erwin tak mau ringgal diam, ia langusng mengejar istrinya.


"Bicara apa lagi, mas? Semuanya sudah jelas" letusnya sembari membuang muka. Rara langsung melepaskan tangan Erwin dari tubuhnya, tapi Erwin langsung memeluknya erat "Jangan seperti ini, sayang" 


"Lepaskan aku..." Dengan sekuat tenaga Rara melepaskan diri hingga dia menginjak kaki suaminya. Sontak saja Erwin menggelinjang kesakitan.


"Itu tidak seberapa di banding sakit yang kamu berikan padaku. Setelah luka yang kamu berikan padaku ini mungkin kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta dariku lagi" Rara pun berlalu begitu saja meninggalkan Erwin yang masih membatu di sana.


"Awas saja kamu mas, bisa bisanya kamu ninggalin aku cuma gara gara dia" kesal Icha sambil berdiri di tepi jalan menunggu taksi online yang telah ia pesan. Tak berapa lama taksi datang lalu Icha masuk ke dalam mobil. "Keterlaluan sekali...." Kekesalan Icha semakin memuncak saat Erwin tidak mengangkat telepon darinya.

__ADS_1


Saat ini pikiran Erwin sangat kacau. Meski ia tidak memungkiri rasa cintanya pada Icha tapi dia juga tidak mau kehilangan Rara. Cinta Erwin berlabuh pada dua hati, keduanya saling memberatkan. Apakah dia harus berhenti mencintai salah satunya atau dia harus tetap memperjuangkan kedua cintanya. Entahlah, ia tidak tau apa yang harus di lakukan saat ini. 


"Arghh....." ia memukul stir kemudia beberapa kali, meluapkan kekesalannya. 


"Bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan Rara kembali" mobil melaju kencang sampai di depan rumahnya. Sesampainya di rumah pintu rumah sudah terbuka lebar. Ketika Erwin melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, tiba tiba saja ia mendengar isak tangis. Tentu iti tangisan Rara. Erwin pun masuk ke dalam kamar, di lihatnya sang istri bersimpuh di samping ranjang dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Kedua tangannya seolah lunglai menopang kepala, isak tangis terus menggema di penjuru kamar. 


Perlahan Erwin mendekat "Sayang...." di sentuhlah pundak Rara sambil duduk di sampingnya. 


"Lepas...." ketus Rara sembari hendak bangit dari tapi Erwin memeluknya dengan erat. 


"Jangan sentuh aku lagi. Tangan kamu haram menyentuhku" dengan sekuat tenaga Rara mendorong Erwin sampai dia terjatuh ke atas kasur. Tatapan Rara sangat menakutkan, di tambah dengan acungak jari telunjuk "Ingat mas apa yang kamu taman saat ini akan menjadi bumurang di kehiudpan kamu selanjutnya"


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Jangan pergi, aku mohon" pinta Erwin dengan wajah memelas. Rara sudah tidak perduli lagi padanya, dia terus memasukkan baju bajunya ke dalam koper meski Erwin kembali mengeluarkannya.


"Mas Erwin...." terika Rara membuat Erwin terdiam seribu bahasa "Jangan halangi aku buat pergi dari sini, kamu tidak berhak mengentikan aku" air mata Rara kembali pecah. 


Betapa merasa bersalahnya Erwin saat ini, kala melihat derai air mata terus mengalir dari mata indah istrinya itu. "Oke, oke aku yang akan pergi dari sini. Mas akan kembali setelah aramah kamu mereda" Perlahan Erwin kembali keluar dari kamar itu. 

__ADS_1


__ADS_2