Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 48


__ADS_3

"Kok bengong sih...." tiba tiba saja Iyan menepuk pundak Niara yang tengah mematung dengan membawa buku laporan penjualan bulanan. 


Sontak Niara terkejut "Siapa sih yang bengong, orang lagi liatin stok toko" mengalihkan pandang sambil menghitung stok baju yang ada.


Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang ingin Iyan tanyakan pasal hubungan Niara dengan mantan suaminya itu. Beberapa kali Iyan melihat sosok Erwin memperhatikan Niara dari kejauhan. Ingin sekali dia bertanya tapi takut menyinggung hati Niara "Lah sekarang malah kamu yang bengong..." melihat Iyan tanpa kata dengan pandangan kosong ke sudut ruangan.


Senyum tipis menggurat di bibir Iyan "Siapa yang bengong orang lagi liatin stok pakaian kok" sengaja Iyan membalikkan kata untuk menggoda Niara.


Tentu saja Niara langsung tersenyum sembari menyenggol lengan Iyan "Kebiasaan deh sukanya niru omongan orang..."


"Ternyata kamu masih kenal aku dengan baik, ya" 


Memicingkan mata "Maksud kamu?" 


"Ya emang kita kenal usah lama, kan? Pasti kamu udah kenal sama sifat asli ku dong" mencolek dagu Niara lalu berlari kecil, di ikuti dengan langkah kecil Niara.


"Ngejek terus bisanya....sini kamu biar aku cubit, biar tau rasanya di gigit semut rang rang" keduanya main kejar kejaran layaknya anak tk.


Kejadia itu di saksikan Erwin dari kejauhan "Dengannya kamu kembali temukan bahagia.....mungkin sudah waktunya untuk melepas rasa ini demi bahagia mu. Hati ini memang sakit tapi dengan melihat senyum itu aku jadi yakin bersamanya kamu akan temukan bahagia. Jika bersama sudah tidak mungkin lagi setidaknya aku masih bisa melihatnya bahagia" Sebenarnya Erwin datang ke sana untuk satu urusan. Dia hendak memberikan hak Niara selama ini yang pernah Niara kembalikan pada kedua orang tua Erwin. Mahar pernikahan berupa rumah serta segala isinya sudah ia berikan iklas lillahitaala pada Niara saat itu, di saksikan wali dan penghulu. Dia sendiri tidak mau mengambil apa yang telah di berinya, bukan karena gengsi tapi Erwin sadar akan satu hal, jika dia menerima mahar itu apa dia juga bisa mengembalikan hati, cinta, dan diri Niara seperti sedia kala? Tentu tidak akan bisa. Sebuah mahar pernikahan terbilang sakral karena dengan perantara itu pernikahan sah terlaksana. Di banding dengan luka yang di beri semua itu tidak sebanding, harta bisa di cari hingga ke manca negara sekali pun. Namun, harga diri jauh lebih mahal harganya. Uang saja tidak akan bisa membeli harga tersebut sebab harga diri seseorang seharga mati. Barang siapa menggadai harga dirinya sendiri demi sebuah uang celakalah mereka. 


"Mungkin aku bisa memberikan ini di lain kesempatan" ketika handak menyalakan sepeda motor, tiba tiba saja motornya tidak bisa menyala atau mogok. "Pake acara mogok segala nih motor" mengecek motornya dab ternyata tidak ada yang salah hanya saja bahan bakarnya habis. "Malu maluin banget nih motor, udah duit kagak ada pake habis bensin lagi" melihat sekeliling lalu merogoh kantong celana siapa tau ada selembar uang di dalamnya.


"Bukannya itu mantan suami Rara?" Kebetulan sekali Mirna datang ke tempat kerja Niara dengan mengendarai sepeda motor. Dia langsung menghampiri Erwin yang terlihat kesal melihat tangki motornya kosong "Ngapain lu di sini kusut banget tuh muka, udah kaya baju belum di setrika aja" ejek Mirna.


Erwin mengingat wajah Mirna "Kamu teman Niara, kan? Aku mau minta tolong sama kamu boleh, ya please" dengan wajah memelas.


Mirna memicingkan mata "Hah.....nggak salah lu, minta tolong ama gue" mengingat betapa sadisnya Erwin memperlakukan sahabat terbaiknya hingga membuat Mirna muak melihat wajah laki laki itu.


"Please....aku butuh banget bantuan kamu" 


Menyibakkan rambut lalu menatap penuh kesombongan "Emangnya lu mau minta tolong apa, cepat katakan. Gue nggak ada waktu buat basa basi sama orang kaya lu gini" melipat kedua tangan.


Erwin terpaksa harus mengatakan sesuatu yang membuatnya malu "Mmmm.....aku boleh pinjem duit sama kamu nggak? Besok aku balikin kok"


Mendengarnya saja membuat Mirna menahan nafas sebelum ia terlepas kendali hingga menertawakan kondisi Erwin saat ini "Hahaha.....mana mungkin seorang kontraktor besar pinjem duit sama gue, ngaco deh lu"


"Aku serius, pinjemin dua puluh ribu aja deh buat beli bensin" 


Mirna semakin geleng kepala, tak menyangka sepahit itukan hidup Erwin saat ini, sampai uang satu lembar saja dia tidak punya. Mirna mengeluarkan dua lembar uang dari tasnya "Nih gue kasih lu sebagai sedekah, Itung irung amal...." penghinaan itu pantas Erwin dapat atas perbuatan jahatnya selama ini. Karena memang hukum karma jauh lebih tajam dari sebilah pisau dan lebih runcing dari ujung tombak. 


"Udah deh terima aja nggak usah pikir panjang kali lebar, keburu gue berubah pikiran nanti gue bisa ambil lagi nih duit" di dalam hati Mirna merasa senang bisa menghina laki laki yang telah melukai hati sahabatnya itu. Hinaan itu tidak sebanding dengan derita yang Niara alami selama ini.


Antara malu dan butuh, Erwin menerima uang itu "Aku anggap ini sebagai pinjaman. Kalau aku sudah ada duit pasti akan ku kembalikan secepat mungkin..." 


(Sekarang lu kena batunya juga, kan.) Kedua bola mata Mirna memutar sempurna "Nggah usah lu balikin, anggap aja sumbangan dari gue" Segera Mirna meninggalkan Erwin sendirian.

__ADS_1


"Sabar, aku harus sabar...." Erwin pun mendorong motornya sampai ke sebuah pom mini di sekitar tempat itu.


"Astaga.....kalian ini ngapain main kejar kucing tangkap tikus, kaya anak sd aja tau" celetuk Mirna sembari bersandar pada tepi pintu menyaksikan canda tawa Niara beserta Iyan.


Sontak saja keduanya melihat ke arah sumber suara "Mirna?"ucap mereka serempak.


"Cie, cie,cie, ngomong aja bisa samaan gitu" goda Mirna seraya menghampiri keduanya.


"Ih....apaan sih kamu, Mir." memukul pelan lengan Mirna.


"Lha abisnya kalian itu kaya agedan di tv gitu loh, kalau nggak salah judul filmnya CLBK, nak iya C, L, B, K" 


"Amin" ucap Iyan mengamini.


"Idih....apaan sih kamu" kembali keduanya main kejar kuging tangkap tikus.


(Semoga saja kebahagaian lu benar ada di mantan lu, Ra. Sumpah melihat lu ketawa kaya gini hati gue seneng banget)


"Ini niat kerja apa mau main kejar mengejar?" Lantang seorang wanita yang baru saja masuk.


Melihat kedatangan Siska membuat keduanya berhenti sejanak "Kak Siska" kedatangan Siska kali ini membuat Niara sedikit takut karena tatapan Siska mengarah padanya. Otomatis Niara menunduk di hadapan kakak kandung Iyan.


"Ngapain sih kakak datang ke sini lagi?" 


"Oh iya di sini aku mau kasih hukuman sama pegawai kamu ini, kakak harap kamu keluar sebantar. Eits....nggak ada penolakan" Siska pun mendorong Iyan keluar lalu menutup pintunya.


"Eh kamu masih berani sekali ya deketin Iyan, kamu tau nggak sih kasta kita itu jauh berbeda. Ibarat pohon kita itu bunganya kamu cuma ranting lapuk. Jadi aku ingetin ya sama kamu buat jauhin Iyan, kamu itu nggak level sama keluarga kita" tatapan jijik itu membuat Niara ketakutan. Semua ancaman Siska mengingatkannya pada ancaman beberapa tahun silam kala ia masih menjalin kasih dengan Iyan.


"Aku nggak ada niat buat deketin Iyan, kak. Kami cuma...." 


"Cuma apa? Kalau dasarnya penggoda sampai kapan pun tetap jadi penggoda" bentak Siska.


Ketahan Niara runtuh, air matanya lolos dengan deras.


Hik, hik, hik....


Siska tersenyum lalu memberi tepuk tangan.


Dalam hati Niara bertanya tanya apa maksud dari tepukan itu "Berhasil....." tiba tiba saja pintu terbuka.


Niara semakin tidak mengerti apa maksud semua ini "Prank...." dari luar masuklah sosok Iyan dengan kemeja putih jas hitam senada dengan celana. Di tangan kanannya membawa buket bunga.


"Ha.....apa apaan semua ini" 


Iyan bersimpuh di depan Niara sembari menyodorkan buket bunga "Maukah kamu menjadi pendamping ku, menjadi kekasih sekaligus istri? Niara aku sangat mencintai kamu, dulu, sekarang, besok, dan sampai kapan pun. Will you marry me?" 

__ADS_1


"Iyan jangan bercanda kaya gini deh, nggak kucu tau" Niara masih belum tau apakah ini nyata atau hanya sekedar lelucon.


Iyan bangkit dengan masih memegang buket bunga "Aku serius, di tempat ini aku ingin melamar kamu untuk msndampingi ku dari sekarang hingga kakek nenek" 


Niara tercengang dengan lamaran Iyan saat itu "Nggak bisa, aku tidak akan menikah tanpa adanya restu dari orang tua" memundurkan langkah dua jengkal kaki.


"Siapa bilang kita tidak merestui kalian" tiba tiba saja datang kedua orang tua Iyan beserta kedua orang tua Niara.


"Ibu, bapak, om dan tante...." 


"Iya, nak. Kami sengaja datang ke mari untuk menjadi saksi cinta nak Iyan pada mu" ucap Ibu Niara.


"Kamu harus terima lamaran putra kami, kalau tidak kami akan memaksa kalian menikah" Sambung ayah Iyan.


"Tapi di antara kami tidak terjadi hubungan apa pun bagaimana bisa kita menikah tanpa adanya status...."


Siska menepuk pundak Niara "Siapa bilang menikah itu harus melalui pacaran terlebih dahulu. Jauh sebelum ini aku dan keluarga berencana memberi kejutan pada kalian berdua, sengaja kita menyusun rencana untuk membuat kalian ketakutan sebelum perjodohan terjadi" 


"Maksud semua ini apa kak? Aku sungguh tidak mengerti" ucap Niara.


"Sebenarnya dari awal kami telah menjodohkan kamu dengan putra kami ini, tapi reaksi Iyan terlalu berlebihan. Belum juga tau calon istrinya sudah main kabur saja dia, ya jadinya kita susunlah sebuah rencana baru untuk menyatukan kalian. Tante harap kamu menerika perjodohan ini...." cerita panjang di kehidupan terdahulu membuat hati kedua orang tua Iyan terbuka. Mereka tersadar jika kebahagiaan anak ada pada pilihannya sendiri bukan dari sebuah paksaan. 


"Udah deh, Ra. Terima aja lamaran Iyan, nggak usah banyak mikir. Cinta itu di bangun atas dasar kebersamaan lalu untuk apa lagi di pertanyakan...." celetuk Mirna membantu keberhasilan lamaran tersebut.


"Nah betul itu" sambung ayah Iyan sambil tersenyum pada Niara.


Niara melihat ketulusan di mata Iyan beserta kedua keluarga mereka. Memang tidak bisa di pungkiri kalau rasa cinta itu mulai berkembang kembali sejak mereka kembali bersama.


"Terima saja lamarannya, aku mendukung kalian bersatu" datanglah Erwin dengan membawa sebuah amplop coklat.


"Mas Erwin?" Niara baru sadar jika Erwin juga hadir di sana.


"Loh kok kamu ada di sini...." Mirna sendiri terkejut kenapa Erwin bisa datang juga, padahal baru saja dia bertemu di tepi jalan.


"Tadinya aku hanya ingin memberikan hak Niara sebelumnya, tapi aku melihat kejutan besar sampai aku ikut bahagia" entah air mata seperti apa yang keluar dari ujung matanya.


"Apa maksud kamu mas" 


"Terima dulu lamaran Iyan baru nanti aku kasih tau...." 


Niara kembali menatap Iyan. Kini tatapan itu penuh senyum dan mengandung arti "Iya, aku mau menikah sama kamu" sontak saja Iyan melompat lalu memeluk Niara dengan erat. Kebahagiaan itu turut di rasakan semua pihak.


"Mir aku titip ini buat Rara" Memberikan amplop coklat besar itu lalu ia memilih pergi dari sana.


Langlah demi langkah ia tapaki dengan senyum (Meski aku tidak lagi bersanding denganmu, tapi aku lega bisa melihatmu merajut hidup baru dengan laki laki yang pantas untuk mu. Kisah kita hanya akan menjadi masa lalu, dan menjadi cerita di perjalanan hidup kita. Selamat tinggak cinta selamat datang hidup baru) 

__ADS_1


__ADS_2