Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 41


__ADS_3

"Kamu ini apa apaan sih mas main seret aja, sakit tau" protes Icha sambil melepas tangan suaminya. Setelah mereka sampai di depan kosan Erwin langsung membuka pintu lalu sedikit menghantam pintu ke dinding dengan keras. 


"Ngapain sih kamu nguping pembicaraan orang, kepo banget jadi bini. Sebelumnya Rara nggak pernah lancang seperti kamu..." melepas handuk yang melingkar di leher lalu menaruhnya di belakang pintu terdapat gantungan baju.


Mendengar ucapan Erwin membuat Icha geram, kedua tangannya mengepal erat kedua alis mengerut "Rara, Rara, Rara dan Rara. Kalau kamu terus membandingkan aku sama dia kenapa dulu kamu selingkuhin dia? Kenapa dulu nggak kamu sanjung tuh wanita biar kamu nggak selingkuh sama aku" Menggapai baju belakang Erwin, membuatnya terhenti sejanak. Saat ini baru dia merasakan ternyata hukum karma untuknya lebih berat di banding jeruji besi. Tidak hanya di kumun secara mental tapi fisik pun terasa begitu nyata. 


Berbalik badan lalu "Icha, Cukup! (Meraih tangan Icha serta mencengkeram dengan kuat) Jangan kurang ajar sama suami. Kamu ini bisa menghargai aku sebagai seorang suami atau tidak? Seharusnya kamu bisa intropeksi diri kenapa aku bisa membandingkan kamu dengannya karena selama dia menikah denganku tidak pernah sekali pun dia bicara kasar atau berkelakauan lancang seperti ini" emosinya seolah terkuras habis menghadapi sifat asli Icha saat ini. 


"Kalau begitu kamu balik saja sama si Rara itu ngapain kita nikah kalau kamu masih mencintai dia" Icha berlari kecil lalu menghempaskan badan, tidur menelungkup di atas kasur kecil yang berada tidak jauh dari tempat suaminya berdiri saat ini. Kosan mereka hanya memiliki satu ruangan berukuran tujuh kali tujuh meter. Di ruang itu pula mereka tidur, menonton tv, dan masak di luar kosan. Kehidupan mereka sangatlah memprihatinkan sekali untuk tidur saja harus berdesakan dengan barang lainnya. Apa lagi kalau mau ke kamar mandi harus antri kalau pas lagi rame.


"Kalau dia mau aku juga tidak menelok kembali sama dia. Di banding kamu dia lebih dari segalanya" entah setan mana yang menghampiri Erwin sampai dia bisa bicara seperti itu, tentu saja perkataannya membuat hati Icha sakit. Icha hanya bisa menangis.


Kali ini Erwin tidak bisa lagi menahan emosi ia pun menuju lemari mengambil beberapa pakaian lalu memasukkan ke dalam tas kecil miliknya. Sebelum meninggalkan rumah ia melihat istrinya sekitas.


(Hukuman terberat ku adalah menikahi dia, kalau saja waktu itu aku lebih memilih di penjara maka hidupku tidak sehancur sekarang ini, atau setidaknya aku tidak perlu merasakan semua ini) Tak berapa lama Erwin pun meninggalakn Icha yang masih menelungkup. Icha belum mengetahui kalau suaminya akan pergi.


"Pak antar saya ke suatu tempat" ucap Erwin pada pak Eko yang masih duduk menunggu pelanggan.


Pak Eko melihat Erwin tidak seperti biasa jaket dan celana panjang juga membawa tas kecil yang di gendongnya membuat pak Eko langsung berdiri "Mau kabur Lu, Win? Pake bawa tas segala" Melihat dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Anterin aja dulu nanti aku kasih tau" Tanpa di suruh Erwin langsung mengambil helm di atas motor pak Eko lalu memakainya. "Mau nganterin nggak ni pak kalau nggak biar aku cari ojek lain" kelihatanya Erwin sudah tidak sabar ingin buru buru pergi dari sana.

__ADS_1


"Iya, deh iya. Tapi emangnya kamu mau kemana?" PAk Eko memakai helm hendak menaiki motornya tapi Erwin tiba tiba menyurih pak Eko duduk di jok belakang. 


"Loh ini gimana ya masa tukang ojek di suruh bonceng belakang, lu kan tinggal bilang alamatnya biar gue di depan" protes Pak Eko. 


"Udah deh pak bisa diam aja nggak sih, nanti kalau bpk di depan kelamaan mending bapak duduk di balakang aja" Sepeda motor pun melaju kencang.


Di sisi lain Rara tengah menuju rumah lamanya dengan Erwin, ia hendak melihat apakah benar kalau Erwin tidak tinggal di sana. Dia pergi naik ojek online.


Tak berapa lama Rara sampai di depan rumah lamanya itu, suasana mulai gelap membuatnya menggerayangi tembok untuk menyalakan lampu. Setelah lampu menyala mata Rara tertuju pada sebuah bingkai besar di dinding ruang tamu, foto pernikahannya bersama Erwin. Ia mendekat lalu menyentuh foto suaminya yang kala itu mamakai pakaian pengantin warna senada dengan senyum manis "Aku nggak pernah nyangka kalau pertemuan, pernikahan, dan perpisahan kita sangatlah singkat. Sesingkat kamu menghancurkan hidup ini, mas" sambil mengusap foto tanpa sadar air matanya jatuh. Ketika Icha hendak duduk matanya melihat beberapa surat berserakan hingga pada akhirnya dia mengambilnya.


"Jadi memang benar dia tidak pernah pulang ke sini, pasti sekarang eia sudah bahagia" Berjalan hendak menuju ke arah pintu kamar tiba tiba saja seseorang memeluknya dari belakang. Sontak saja Rara terkejut "Lepaskan.....siapa kamu" Badan Rara menggeliat hendak melepaskan kedua tangan yang saat ini melingkar di perutnya. Seseorang itu tidak berkata justru malah semakin mengeratkan kedua tangannya sembari meletakkan dagu di bahu Rara.


"Aku sangat merindukan kamu sayang" bisik Erwin. 


Suara itu langsung membuat Rara membulatkan kedua mata, jantung berdetak kencang, dan hawa panas mulai menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. 


"Lepaskan aku...." setelah memberontak berulang kali, Rara pun bisa meloloskan diri.


"Berhenti di sana jangan mendekat atau..." Perlahan Rara memundurkan langkah demi langkah sampai pada akhirnya tubuh Rara terpentok pintu kamar. Erwin tersenyum lalu mendekatkan diri "Tdak jangan dekati aku, atau aku akan teriak sekarang juga" Ucap Rara memperingatkan.


"Udahlah sayang nggak usah jual mahal seperti itu kita ini masih suami istri, aku masih berhak atas dirimu dan semua tentang kita" 

__ADS_1


Tiba tiba saja Rara mendorong Erwin hingga tubuhnya terdorong jatuh ke lantai tapi Erwin malah tersenyum "Kamu boleh marah sayang kalau itu bisa membuat kamu memaafkan aku. Mari kita mulai hidup baru, kita tinggalakn kota ini, kita bangun keluarkan baru. Aku janji nggak akan pernah ngulangi kesalahan terbesarku lagi, akan ku tinggalkan dia demi kamu" bersimpuh sambil menggapai kedua tangan Rara. 


Terlihat Rara membuang muka dan tersenyum kecut "Kamu ini sedang membahas apa? Siapa yang kamu sebut istri? Asal kamu tau aku dan kamu sudah tidak ada hubungan apa pun" Mengambil beberapa surat yang tergeletak lalu melemparnya tepat ke wajah Erwin.


Betapa terkejutnya Erwin kala membaca banyalnya surat dari pengadilan, ia sendiri tidak tau kalau Rara melayangkan gugatan cerai. Selama beberapa bulan ini Erwin kesulitan mencari Rara dan berpikir tidak akan menceraikan dia seperti permintaan Rara sebelumnya. Namun, kenapa sekarang ia di kejutkan dengan perceraian itu.


"Tidak mungkin ini semua hanya palsu, kamu sengaja kan memalsukan dokumen ini demi mengelabuhi aku, iya kan?" Bangkit lalu mendekatkan wajahnya dengan Rara hingga jarak wajah keduanya sangat dekat. Mata indah yang dulunya indah di pandang kini berubah menjadi sorot penuh kebencian. 


"Terserah kamu percaya atau tidak yang jelas saat ini dan seterusnya kamu bukan siapa siapa lagi untuk ku, dan mulai sekarang jangan lagi menyentuhku walau seujung kuku selaki pun" Tatapan Rara sepenuhnya mengandung peringatan. 


Erwin berbalik badan sembari menggeleng kepala tidak yakin dengan kenyataan yah ada. 


"Katakan padaku kalau semua ini hanya sebuah mimpi, semua ini nggak nyata...." Langsung berbalik seraya menghuyung kedua lengan Rara. Tanpa sadar air matanya lolos, menggambarkan betapa sakitnya dia saat ini.


"Anggap semua ini hanya mimpi yang tak berujung. Kalu kamu kira semua ini seolah tidak adil buat kamu, maka coba jadi aku sebantar saja pasti kamu nggak akan sanggup menjalaninya" ucap Rara.


Mendengar semua itu Erwin tersadar bahwa selama ini yang paling tersiksa adalah Rara bukan dia dan juga bukan Icha. Kedua kaki Erwin seolah melemah membuatnya duduk dengan kedua lurutnya sambil meraih kedua tangan Rara "Kalai begitu mari kita menikah lagi, kita mulai semuanya dari nol dan kita tinggalkan semuanya. Aku janji sayang nggak akan menyia nyiakan kamu lagi" 


Rara melepas kedua tangan Erwin "Kamu tidak akan bisa mengembalikan sebuah kain yang koyak hanya dengan sebuah jarum dan benang. Meski nantinya kain itu kambali menyatu tapi kamu tidak akan bisa mengambalikan seperti semula. Sudahlah, mas. Jalani saja hidupmu dan begitu juga denganku. Untuk sekarang ini aku menyadari bahwa untuk mendapatkan Cinta kita tidak perlu terlalu mencintainya karena cinta akan mencari kita bukan kita mengejarnya. Sekarang silahkan kamu mau pergi atau tinggal di sini, ku serahkan kembali rumah beserta isinya padamu lagi"


Erwin mendongak lalu berdiri kembali "Tidak, aku tidak akan mengambil apa yang sudah ku berikan padamu. Ini sudah hak kamu, terserah mau kamu apakan semuanya yang jelas ini milik kamu" Tqnpa kata sedikit pun Erwin berjalan keluar dari rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2