Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 46


__ADS_3

Dalam hati Iyan sempat heran bagaimana bisa seorang kontraktor besar bekerja di sebuah cafe kecil, padahal kalau di banding dengan gaji seorang kontraktor tentu gaji di cafe tidaklah seberapa. Pertemuan itu membuat banyak pertanyaan sampai ia mengira ira hal terburuk apa yang telah menimpa Erwin selama ini (Apa mungkin dia sudah merasakan karma atas perbuatannya sama Niara? Kalau memang begitu, syukurlah. Biar dia tau apa itu artinya sakit) 


"Heh.....ngapain bengong?" Tanya Siska membuyarkan lamunan. Iyan langsung melihat ke arah kakaknya sembari tersenyum kecut "Ngak apa apa" 


Siska mengaduk minumannya "Kakak saranin sama kamu jangan deketin cewek itu lagi deh, kalau kamu nggak mau dia kenapa kenapa nantinya" 


Memicingkan mata "Sampai kapan sih kak hidup kita terus di stir sama mereka? Aku itu punya pilihan sendiri, biarkan aku hidup dengan pilihan ku sendiri" terang Iyan.


Sebenarnya Siska tau bagaimana pahitnya pernikahan tanpa cinta, apa lagi kalau harus memaksakan diri menerima orang asing tentu tidaklah mudah. Sesungguhnya pernikahan tidak hanya menyatukan dua hati tapi juga harus mengikat diri dengan keluarga yang lain, misal mertua. Dalam pernikahan penting hukumnya mencuri hati seorang mertua supaya hubungan baru itu menjadi indah dengan restu. Namun, jarang sekali ada mertua bisa dengan mudah menerima menantu, pasti akan sulit bagi mereka beradabtasi dengan orang baru dan hubungan baru. Meski begitu seorang mertua berkuasa atas anaknya apa lagi kalau anaknya laki laki. 


"Tapi kakak cuma mau ingetin kamu satu hal....Papa kita tidak seperti yang lain, bisa mengerti apa yang anaknya inginkan, papa itu taunya cuma kita ikuti kemauan dia atau kita yang kehilangan apa yang ingin kita miliki" beberapa tahuh yang lalu Siska pernah mengalami kejadian pahit. Ketika dia masih duduk di bangku kuliah kisah cintanya kandas karena restu orang tua. Pacar Siska sejatinya anak pengusaha juga tapi tidak sekaya suaminya yang sekarang, karena perbandingan kasta akhirnya Siska terpaksa menikahi suaminya saat ini. Bukan tidak ada alasan, papanya mengancam Siska bahwa dia akan membuat kehidupan pacarnya hancur sampai Siska memilih pisah darinya. Suatu hari Siska melihat sendiri betapa kejam papanya kala menghancurkan usaha keluarga kekasihnya itu, sampai perusahaan mengalami banyak kerugian. Kehidupan pacarnya semakin sulit karena kedua orang tuanya mengalamu syok dan meninggal setelah beberapa hari kemudian. Dengan ancaman nyawa akhirnya Siska memutuskan untuk menikah dengan pilihan kedua orang tua.


"Aku lagi nggak mau bahas mereka, bikin nafsu makan nggak ada" Iyan pun segera membayar semua pesanan itu lalu meninggalkan cafe.


Beberapa jam kemudian....


Jam menunjukkan pukul empat sore, waktunya pulang kerja. Seperti biasa Rara pulang dengan teman kerjanya yang juga tinggal di kosa yang sama.


"Mbak aku laper nih mampir cafe bentar yuk, makanan di sana enak lho" Tuturnya.

__ADS_1


Niara di bonceng teman wanitanya ke arah cafe "Boleh juga deh mumpung abis gajian ini" jelas Rara sembari melihat sebuah cafe kecil di depannya, kalau di lihat dari tempatnya sih sepertinya terjangkau, bahkan banyak motor terparkir di depan cafe. Artinya cafe iru terjangkau di kalangan anak muda begitu juga dengan kantong pekerja seperti mereka.


"Kamu masuk dulu aja mbak, aku mau cari perkiran dulu" ucap temannya. Niara pun langsung turun dari motor lalu masuk handak masuk ke dalam cafe. Namun tiba tiba....


Bruk....


Niara menabrak seseorang yang baru saja keluar dari cafe tersebut "Sorry, sorry, aku nggak sengaja" 


Suara itu sontak membuat Niara terkejut "Mas Erwin?" Benar saja orang yang di tabraknya adalah mantan suaminya sendiri. 


"Rara?" Dengan kedua tangan melingkar hendak memeluk Niara, tapi dengan sigap Niara memundurkan langkah "Maaf" 


"Mas sendirian? Di mana istrinya" melihat ke belakang tubuh Erwin. 


Entah kenapa tidak ada jawaban sama sekali dari laki laki yang dulunya pernah singgah di hidup Niara, meski orangnya sama tapi rasanya sudah berbeda.


"Mbak, masuk yuk" datanglah teman kerja Niara mengajaknya masuk cafe.


"Kalian mau makan ya, silahkan. Aku pergi dulu ya" Erwin pun bergegas pergi.

__ADS_1


Niara melihat Erwin yang berjalan dengan kaki pincang setengah di seret (Kenapa mas Erwi  jalannya kaya gitu? Terus di mana istrinya) menoleh ke belakang melihat sosok Erwin berjalan menuju perkiran motor.


"Mbak kenal sama mas itu? Dia kerja di sini tau mbak"


Niara tersentak "Ha....jadi dia kerja di sini? Yang bener kamu" kalau di lihat dari sifat Erwin yang pemilih mana mau dia kerja kaya gini. 


"Iya mbak, beberapa kali aku ketemu sama mas tadi pas aku makan di sini sama pacar aku." 


"Emmmmm....gitu" sambil mengangguk.


"Ya udahlah mbak kita masuk tuk" mereka berdua masuk ke cafe tersebut.


Tanpa sepengetahuan Niara, Erwin berhenti di parkiran. Dia masih melihat Niara duduk di meja cafe paling depan"Andai saja senyum itu masih bisa aku dapatkan darinya......Arggggght (mengacak rambut) mimpi apa aku selama ini bisa sebodoh itu, tidak melihat sebongkah berlian di rumah, malah mengejar secuil batu tajam, yang akhirnya membuatku seperti sekarang ini" penyesalan itu tidak ada artinya ketika kenyataan telah menghadapkan kita pada sebuah kesalahan. Penyesalan datangnya di akhir bukan di awal, kalau di awal pendaftara namanya bukan penyesalan. Hehehe....


"Eh mbak coba deh liat masnya masih lihatin mbak Rara tuh...." 


Niara langsung melihat ke arah luar di mana Erwin duduk di atas motor bututnya, dengan pendangan nengok samping tepatnya ke arah Niara. Erwin segera menyalakan motornya karena dia ketahuan diam diam memperhatikan mantan istrinya.


(Sebenarnya aku pengen ngobrol sama kamu, mas. Udah lama aku mencari kamu, aku pengen tau banyak tentang kehidupan kamu saat ini, apa kamu jauh lebuh baik atau malah kamu udah punya anak. Semoga saja hidup kamu jauh lebih bahagia di banding dengan ku dulu)

__ADS_1


 


__ADS_2