
Usai lagu yang di bawakan Erwin selesai, kini ada seorang laki laki mengambil alih panggung. Dia mengatakan ada sebuah puisi dari seorang wanita.
"Kita akan berkolaborasi dari seni musik berpadu dengan puisi, saya persilahkan teman saya untuk maju" Ucap Iyan mempersilahan Rara naik panggung. Tak berapa lama seorang wanita berjilbab memakai masker naik ke atas panggung.
"Halo semuanya, kakak senior mau pun junior, perkenankan aku membawakan sebuah kata yang bisa di sebut ungkapan hati.
Dari kejauhan Erwin seperti mengenal suara dan baju yang di pakai wanita itu, sampai Erwin punya pikiran apakah wanita di atas panggung adalah istrinya. Tapi, segera dia menampik pikiran itu, sebab ia yakin bahwa wanita itu bukanlah istrinya.
(Pasti hanya sebuah kebetulan saja. Toh baju seperti itu banyak di pasaran. Kalau suara itu....ah pasti juga pikiran ku saja) pikir Erwin tak mau ambil pusing. Dia kembali ngobrol bersma teman temannya.
Dari atas panggung Rara melihat suaminya tengah behagia bersama wanita lain. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakit itu sampai kedua tangannya mengepal erat. Kalau saja dia mampu saat ini juga kedu kepalan tangan itu akan di layangkan pada suaminya, tapi dia tidak punya kekuatan sekuat itu setelah hatinya di hancurkan. Dia juga sudah memutuskan untuk membalas semua dengan kehalusan, sampai mereka tak bisa berkata kata.
"Udah siap?" Tanya Iyan yang sudah bersiap hendak memainkan piano. Rara menganggukkan kepala sambil memegang microfon. Sejanak memejamkan mata lalu kembali bersiap.
"Saya akan membacakan sebuah puisi. Di dalamnya tercurah hati seorang wanita yang tersakiti" ucap Rara sambil membuka lembaran kertas di tangannya. Setelah beberapa saat lampu di matikan, semua ruangan nampak gelap. Namun, tak berapa lama ada sebuah lilih menyala di sekeliling ruangan. Sebelumnya Mirna meminta bantuan para pekerja cafe untuk membawa Lilih di setiap titik tertentu. Ketika nanti lampu di matikan mereka harus menyalakan lilin itu sehingga sinar jingga menghias di ruangan. Semua orang merasa takjub dengan ide ini membuat mereka memberi tepuk tangan.
"Waw.....bagus banget" beberapa orang nampak senang dengan suasana yang di suguhkan. Dalam nuansa remang cahaya lilin dan heningnya suana menambah kesan menyayat bagi pendengarnya.
"Malam bawakan aku sebuah impian dari rasa cinta ini yang tak kunjung meredam......
Bintang sisihkan sinar mu untuk menerangi hati ini di saat aku butuh sinar mu tuk menghiasi malam galap.....
Hati ini tengah pilu di timpa nestapa dalam bercinta melihat cintaku kini telah berdusta....
__ADS_1
Samar samar terdengar kabar dia telah mendua, aku terabaikan di buang olehnya demi mendapatkan cinta yang lainnya......
Wahai pemain cinta ku titipkan secuil kisah ku bersama luka yang kau beri.....
Cinta, di sini aku sangat terluka akan ku sampaikan salam luka dari perindu setia....
Bahagia mu bukan lagi bersamkau tapi bersama persinggahan keduamu...."
Selesai membacakan isi puisi lampu kembali menyala, Rara membungkukkan badan tanda hormat. Semua orang memberi tepuk tangan meriah sambil bersiul siul.
"Persinggahan kedua?" Tiba tiba saja Erwin mengingat kata kata itu, tadi pagi telinganya mendengar jelas dari mulut istrinya. Sontak Erwin melihat ke wanita di atas panggung itu, dan Betapa terkejutnya Erwin saat melihat wanita itu melepas masker dan kaca mata.
"Rara....?" Seketika Erwin berdiri menatap ke arah sang istri. Entah kenapa hati Erwin serasa sakit padahal jika di banding dengan luka di hati Rara semua itu tidak sebanding. Dari atas panggung tatapan Rara mengarah pada Erwin. Tatapan tajam itu membuat semua orang di sana bertanya ada apa sebenarnya kenapa kedua orang yang saling menatap ini.
"Dia, dia itu.....?" Ucapan Erwin terhenti ketika Iyan merangkul pundak Rara.
"Bagus sekali puisi ini, boleh kasih tepuk tangan untuk teman saya ini....." Lantang Iyan di sambut tepuk tangan semua orang. Rara berusaha tegar di depan semua orang, sesekali dia menyembunyikan air mata di pundak Iyan.
"Tolong jangan sampai air mata kamu tajut atau kisah ini akan berakhir" bisik Iyan sambil mengusap pundak Rara.
"Sialan....." melihat Rara di sentuh laki laki lain tentu Erwin tidak terima, ia
pun handak berjalan ke arah panggung, tapi tiba tiba saja sebuah tangan menggapainya. Erwin menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. Icha berdiri di belakangnya dengan menggeleng kepala memberi sebuah kode yang dia mengerti. Erwin pun memilih diam tanpa kata.
__ADS_1
"Sayang kamu ini ngapain sih" lirih Icha kesal. Sebagai simpanan tentu Icha ingin menjadi nomor satu dong, mana mau dia kalah sama istri sah.
"Udah duduk lagi aja" Sengaja Icha bersandar di bahu Erwin sambil melihat ke arah Rara. Pandangan Icha seolah menguji kesabaran hati Rara.
"Jangam perdulikan itu" lirih Iyan.
"Kami akan membawakan sebuah lagu istimewa untuk orang teristimewa" Ucap Rara kembali membuat hati Erwin bergetar. Sebuah lagu tentang perselingkuhan dan kejamnya cinta.PERGI SAKIT BERTAHAN SULIT.
Setiap nada keluar dari mulut Rara membuat Erwin tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Dia segera menghampiri Rara.
"Sayang, sayang, kamu mau ngapain....?"ucap Icha berusaha menghentikan Erwin, tapi Erwin sudah tidak mampu lagi melihat istrinya terus mengalunkan nada kepedihan itu.
Tanpa kata Erwin menyeret tangan istrinya dari panggung. Semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat itu, terutama para teman Erwin.
Iyan yang masih berada di panggung mengambil alih lagu itu sambio terus bernyanyi.
"Loh, dia itu siapa? Kenapa suami lu narik tangan dia" tanya Citra.
"Nggak usah kepo deh" sangking kesalnya Icha pun pergi dari tempat itu.
"Idih tu cewek ngeselin juga ternyata" kesal Citra sambil menatap punggung Icha.
"Jangan jangan cewek itu cuma selingkuhan Erwin kali, tau sendiri kan tuh anak emang nggak ada kapoknya main cewek." Sambung Kevin.
__ADS_1
"Apa si cewek yang di panggung itu tadi bini dia atau gimana ya...."