
Malam hari Iyan sengaja mengajak Mirna makan di luar. Seperti biasa Iyan mengajak Mirna makan di pinggir jalan, nasi goreng langganannya dulu. Sejak beberapa hari pindah ke kota ini dia sangat merindukan makanan yang satu itu, sebenarnya dia juga ingin mengajak Niara tapi tak enek hati takut menggangu.
"Pas banget si Iyan ngajak gue makan, tuh anak tau aja kalai lagi tanggal tua. Hehehe.....mana duit tinggal mapuluh ribu eh dewa penolong datang mayan lah" tutur Mirna sambil memakai helm.
"Loh mau kenama mbk Mirna?" tiba tiba ada ibu kos kebetulan lewat depan kosan.
"Biasa bu mau cari makan, ibu mau kemana? Mau tak antar sekalin tidak" menawarkan diri siapa tau ibu kos lagi ingin keluar.
"Terima kasih, mbak. Saya cuma mau nagih kosan di samping udah nunggak tiga hari tapi masih belum bayar juga. Heran deh saya setiap hari nggak bosen menghindar terus..." jelasnya memamerkan kekesalan.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya Mbak" Ibu kosan segera pergi.
"Untung saja duit kosan udah tak bayar lunas kalau tidak bisa di gedor gedor deh pintu gue"
Mirna segera menyalakan motor, berangkat dari kosan seorang diri langsung menuju titik yang sudah di janjikan. Butuh waktu hampir setengah jam lamanya baru bisa sampai di tempat tujuan. Tempat biasa sewaktu Iyan masih pacaran sama Niara dulu, mereka sering makan di sana bersama Mirna. Hampir setiap malam minggu Mereka bertiga duduk di sana, bahkan rela antre demi bisa makan di tempat itu. Kebanyakan anak muda akan ramai keluar di malam minggu, apa lagi di malam minggu. Malamnya para anak remaja.
"Mirna...." panggil seorang laki laki.
Segera Mirna menghampirinya. Di sana sudah ada Iyan tengah duduk berpangku tangan "Udah lama? Sorry ya agak lama soalnya tadi mampir isi bensin dulu, antrenya banyak banget" jelasnya sambil duduk di samping Iyan. Di depannya sudah ada segelas jeruk hangat, langsung ia meminumnya.
"Masih inget aja minuman kesukaan gue. Nasi gorengnya mana nih...."
Iyan geleng kepala sambil tersenyum "Sabar napa Mir lagi di buatin tuh..." melihat bapak tukang nasi goreng yang masih sibuk melayani para pembeli. Kebetulan sekali banyak pelangan jadi mereka harus sabar. Nasi goreng bapaknyq di jamin enak, sampai bertahan hampir puluhan tahun.
Sambil mengusap perut menoleh ke meja belakang, di mana ada bungkusan peyek, dan krupuk kulit ikan. Mirna pun mengambil beberapa bungkus "Lumayan buat ganjel leper dulu ah...." menyobek bungkus peyek langsung melahapnya.
__ADS_1
Melihat Mirna makan membuat Iyan terheran heran, baru ada seorang wanita serakus itu.
"Pelan pelan aja kali Mir, jadi cewek itu kalem dikit napa biar cepet dapet cowok. Kalau lu aja makan kaya gitu mana ada yang mau sama cewek kaya lu, ngeri malah iya" ucap Iyan menggoda.
Mirna memukul lengan Iyan "Nggak usah ngledek deh lu. Ingat kita itu sesama jomblo di larang saling mendahului tau"
"Hahahaha.....lu tu cewek apa cowok sih, tenaga lu kuat amat" sambil mengusap usap lengannya yang tadi di pukul Mirna. Lengannya terasa panas akibat pukulan di lengannya itu.
"Rese lu...." kesal Mirna sambil terus makan peyek. Suara renyah di mulut Mirna membuat beberapa orang di sana melihat ke arahnya.
"Ih tuh cewek nggak sopan sopannya dikit apa, ya? Makan peyek suaranya sampai kaya gitu geli dengerinnya" mengernyitkan kedua bahu seolah risih mendengarnya
"Iya ya nggak sopan banget"
Mereka menatapnya dengan keanehan, mungkin mereka pikir itu tidak sopan.
"Udah Mir ngapain sih melotot kek gitu, nggak baik tau cewek lagaknya kaya premen. Nih gue ajarin kalau jadi cewek yang anggun itu makan nggak boleh bunyi, di saat mengunyah bibir nggak boleh berdecak. Gini nih contohnya" mengambil satu peyek lalu memakannya. Iyan memberikan contoh pada Mirna bagaimana menjadi cewek seutuhnya.
Mirna melihatnya sangat lucu "Alah makan aja kok pake repot, makan tinggal makan gini doang kok ya ribet amat soh. Ah bodo amat gue laper banget, mana lagi tuh nasi gorengnya lama banget" protes Mirna.
Iyan menggeleng kepala sambil mengaduk es teh "Mir sebenarnya gue mau tanya sesuatu sama lu" Tiba tiba wajah Iyan menjadi sirius. Mirna melipat kedua tangan di atas meja "Pasti tentang Rara, kan?"
Iyan menganggukkan kepala "Memangnya Niara itu cinta banget ya sama suaminya?"
"Maksudnya apa ni kok tiba tiba tanya tentang itu? jangan bilang lu masih ngarep sama dia" Ucap Mirna penuh selidik.
__ADS_1
Seketika Iyan menjadi gugup, pandanganya tak lagi menatap Mirna tapi seolah melempar pandangan. Sudah jelas pasti Iyan masih memendam cinta untuk Rara.
"Eng..enggak kok cuma mau tau aja apa salahnya sih" kembali mengaduk minuman hingga berulang kali.
"Setau gue si Rara itu cinta banget sama Erwin, dari sejak putus sama lu, dia baru bisa membuka hatinya untuk satu laki laki yaitu Erwin seorang. Awalnya sih Rara susah move on dari lu, tapi bersama dengan Erwin perlahan dia bisa lupain masa lalu kalian. Tapi nih ya menurut gue cinta si Erwin itu palsu tau nggak...." Saat mereka bicara serius datanglah bapak tukang nasi goreng membawakan pesanan mereka.
"Pesanannya, mas, mbak." Dua piring nasi goreng tersaji di depan meja mereka.
"Makasih ya pak" ucap Mirna di balas anggukan kepala.
"Eh Mir tadi maksud kamu cinta palsu itu apa ya" tanya Iyan penasaran.
Mata Mirna tidak bisa lepas dari nasi goreng di depannya "Nanti aja gue laper mau makan dulu...."
Di sisi lain Rara berdiam diri di dalam mobil menunggu Erwin tengah mengisi bahan bakar. Mereka baru saja pulang dari terminal bus mengantar kedua orang tua Erwin pulang.
"Maaf ya sayang lama nunggunya" Erwin masuk ke dalam mobil sambil membawa sebotol minuman. Ia meminumnya lalu menyodorkan pada Rara "Mau minun?"
Mata Rara langsung menatap sinis "Nggak makasih. Aku paling nggak suka pake bekas orang" Sambil memutar bola mata.
"Maksud kamu apa sih Ra? Aku udah baik baik minta maaf sama kamu, tapi sikap kamu masih dingin kaya gini. Apa sih susahnya buat maafin....." Sangking kesalnya Erwin melempar botol ke luar cendela.
"Eh mas jangan buang sampah sembarangan dong....." kecam seorang pegawai yang bertugas di sana. Area pengisian bahan bakar punya aturan ketat tantang sampah dan hal lainnya. Jadi, Erwin kena marah karena dengan sengaja membuang botol di sana.
"Maaf tidak sengaja...." Mengambil uang dua puluh ribu dari saku baju lalu memberikan pada pegawai tersebut "Tolong buangkan ya mas, ini buat beli makan" sikapnya memperlihatkan bahwa kesalahan bisa di beli dengan uang. Prinsip modal madul seperti itu jangan di tiru, yang namanya salah ya harus di perbaiki sendiri bukan malah menebus dengan uang.
__ADS_1
"Nggak heran deh mas kalau kamu itu selingkuh, buang satu sampah aja nyuruh orang pake duit, apa lagi kalau lagi bosen tinggal ambil duit cari yang baru. Memang hebat kamu mas"
Erwin tersulut emosi, segera ia mengemudikan mobil sekencang mungkin. Rara tidak perduli mau dia mati atau keduanya mati baginya sama saja. Hidupnya kini bagaikan mati.