Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 42


__ADS_3

Belum kering luka yang kemarin sudah menambah luka yang baru. Kehidupan ini banyak mempermainkan orang pendosa, di awal mendapat banyak bahagia tapi di akhir tersisa derita. Sebagaimana hukum karma berlaku di dunia ini. Yang sakit tidak akan selalu tersakiti dan yang menyakiti tidak selamanya akan baik baik saja. Percayalah, tidak ada satu pun perbuatan dosa tanpa adanya pembalasan. Ketika penyesalan mulai dirasakan di situlah kamu tau betapa bodohnya diri telah masuk dalam jurang derita.


(Jika saja kamu tidak melakukan semua ini mungkin di saat ini akan ku sambut kepulanganmu, mas.) Rara berjalan ke depan hendak menutup pintu, dari kejauhan terlihat punggung Erwin tenggelam perlahan di ujung jalan. 


"Heh.....wanita kurang ajar bisa bisanya kamu suruh suami ku datang kemari, kegatelan banget sih kamu lama nggak di garuk jadi kegatelan" tiba tiba saja seorang wanita muncul dari samping sisi kiri. Sebenarnya Icha mengikuti Erwin beberapa waktu yang lalu, bersama dengan tukang ojek lainnya. 


Tentu saja Rara terkesiap mendapati selingkuhan suaminya berdiri tegak di depan mata, ingin sekali  rasanya langsung menghajar wanita itu namun Rara tidak mau mengotori hati dan tangannya hanya untuk wanita murahan seperti Icha. Melihat keberanian si pelakor membuatnya tepuk tangan, bagaimana pun dia (Icha) adalah pelakor yang harusnya di salahkan dalam hal ini tapi dia malah melempar tuduhan tidak masuk akal pada Rara. Sungguh ambigu sekali pikiran orang ini. Seharusnya dia sadar apa yang di milikinya saat ini dulunya milik orang lain. Wajar saja jika si pelakor takut suaminya di tikung wanita lain sebab dia juga pernah menjadi tikungan tajam dalam pernikahan sebelumnya.


"Maaf ya mbak saya tidak sekali pun menyuruh suami anda datang ke rumah saya, dia sendiri yang datang tanpa di undang sama seperti anda" Jelas Rara sambari memegang tepi pintu hendak menutupnya, tapi Icha malah mendorong pintu hingga terbuka kembali.


"Rumah kamu? Hey....bukannya keliru ya ini bukan rumah kamu lagi karena rumah ini milik suami ku dan kamu tidak berhak tinggal di sini lagi, mengerti?" Ucapnya dengan nada tinggi.


"Maksud anda?" 


Dengan sombongnya Icha mengibaskan rambut "Kamu tuli ya....ini rumah suami ku, ngapain kamu tinggal di sini nggak tau malu banget sih." Memutar bola mata.


"Maaf ya Mbak suami kamu telah memberikan rumah ini tanpa syarat pengembalian, lalu kenapa kamu datang seolah hendak mencuri rumah ini dariku...." Dengan santainya Rara melipat kedua tangan.


"Heh....aku tidak mencuri rumah ini kamu saja yang tidak tau malu, nggak mau sama orangnya tapi masih aja doyan sama hartanya. Cih.....dasar kere" 


"Jaga bicara anda....." mengacungkan jari telunjuk tepat di wajah Icha.

__ADS_1


Seketika tangan Rara di tarik keluar dan kini Icha bertukar tempat dengannya "Tempat kamu di luar bukan di dalam" Ketus Icha menyombongkan diri.


Rara hanya bisa terdiam sambil meremas ujung baju "Silahkan kamu ambil semuanya bukankah aku juga sudah menyumbangkan suami ku? Jadi kalau kamu mau sumbangan lagi silahkan ambil rumah ini juga" 


"Jangan lancang kamu, ya" ketika Icha hendak melayangan tamparan tiba tiba saja tangannya di tangkis. Saat ini Rara tidak bisa menahan emosinya lagi, tatapan mata memancarkan amarah.


PLAK....


Rara menampar Icha dengan keras "Tadinya aku tidak mau mengotori tangan ini tapi kamu memaksaku menjadi seperti sekarang. Ingat! (Mengacungkan jari telunjuk) sekali lagi kamu bersikap kelewat batas maka aku akan berbuat yang lebih kejam dari pada ini, camkan itu" 


"Berani sekali kamu mengancam ku, dasar wanita murahan....." Hendak menjambak rambut Rara yang terurai lembut, namun Rara memundurkan langkah.


"Percuma kamu mengatai ku seperti apa sebab semua ucapan kamu itu menggambarkan diri kamu sendiri. Mana ada sih maling teriak maling? Yang ada maling ngaku abis deh di arak sama warga" Sangking kesalnya masalah yang lalu kembali di gali. 


"Ih.....apaan sih" Di doronglah badan Erwin sampai dia terlepas.


"Ada apa ya pak kok ada suara keributan dari rumah sebelah?" Salah seorang tetangga mendengar perdebatan mereka sampai beberapa warga mendatangi rumah itu.


"Mas tolong dong iatrinya di ajari tata krama biar nggak liar" ketus Rara sembari membuka muka. 


Erwin mendekati Rara "Maaf ya kalau kedatangan ku membuat kamu banyak masalah...."

__ADS_1


"Baru sadar kamu?" Jawab Rara kembali.


"Ngapain minta maaf, mas. Dia yang salah kok..." sambung Icha.


"Diam kamu!" Bentak Erwin seraya menarik tangan Icha.


"Minta maaf sekarang juga atau...." belum sempat Erwin menyelesaikan ucapannya datanglah beberapa warga.


"Maaf mbak, mas, ini ada apa ya? Kalau ada masalah tolong di selesaikan dengan baik baik jangan membuat keributan. Kami sebagai tetangga merasa sangat terganggu" jelas seorang pria paruh baya.


"Kami mohon maaf, pak, buk. Sudah mengganggu ketenangan kalian, kalau begitu saya permisi" Menyeret paks Icha pergi dari rumah itu.


"Mas lepas...mau kamu bawa aku kemana? Ini rumah kamu berarti ini juga rumah aku, mas lepas" sambil berjalan tertatih Icha merengek seperti seorang anak minta di belikan mainan.


"Diam kamu" bentak Erwin sambil terus menyeretnya pergi.


"Mbak Niara yang sabar ya, mbak. Di balik semua ini Tuhan telah menyiapkan kebahagiaan terbesa-Nya" Seorang wanita paruh baya mengusap lengan Rara memberinya dukungan mental agar dia tidak terlarut dalam kesedihan. 


"Tapi beruntungnya mbak Niara tau lebih dulu sifat asli suaminya sebelum kalian punya anak, kalau sudah punya anak pasti akan sulit lagi kedepannya" Sambung salah seorang warga lagi.


"Terima kasih semuanya atas simpati dari kalian semua...." dalam kesedihan masih saja Rara mengulas senyum meski senyum itu terasa hambar.

__ADS_1


"Ya sudah mbak kalau begitu kami pamit pulang" ucap bapak bapak tadi.


__ADS_2