
Sore hari selepas kerja Erwin langsung pulang ke rumah. Sebelum pulang ia sempatkan membeli buah untuk di bawa pulang. Jari telunjuknya mengetuk pelan pada stir kemudi sebelum kemudian kembali melaju ke arah rumah. Hal pertama dalam pikirannya saat ini adalah Rara sengaja mendatangkan kedua orang tuanya untuk memberitahu mereka jika dia telah berselingkuh.
(Bagaimana kalau sampai mama sama papa tau kalau aku ada main di belakang? Apa reaksi mereka nantinya) Di sepanjang jalan pulang ia berusaha menyusun rencana harus bagaimana menghadapi pertanyaan itu. Sebelumnya Erwin tidak pernah memikirkan akan seperti apa jadinya jika kedua orang tuanya tau dengan perselingkuhannya. Bagaimana kalau sampai mereka jatuh sakit gara gara itu? Yang lebih buruknya lagi bagaimana kalau sampai Erwin tidak mendapatkan warisan dari orang tuanya. Perjanjian pernikahan awalnya tidak hanya berdasarkan suka sama suka, tapi juga karena harta. Kedua orang tuanya ingin melihat anak satu satunya segera menikah selama mereka masih bisa menyaksikan pernikahan itu bersama sama. Penyakit mereka memaksa Erwin supaya cepat menikah, hingga akhirnya Erwin memutuskan menikahi Rara. Keduanya memang saling cinta, tapi jauh sebelum itu Erwin lebih dulu memcintai wanita lain yang tidak lain adalah Icha. Awalnya Erwin memilih Icha untuk menikah dengannya, tapi Icha menolak dengan alasan dia tidak mau nikah muda. Saat itu usia Icha masih sembilan belas tahun, Icha sendiri belum siap jika menjadi seorang istri. Ia masih ingin bebas sebebas burung di angkasa. Karena sudah tidak ada jalan lagi akhirnya Erwin melamar Rara dan mereka mendapat restu dari keluarga masing masing.
"Ma, sepertinya mas Erwin sudah pulang" dari ruang tamu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Kedua orang tua Erwin langsung menyambut putra mereka di depan pintu. Rara masih terdiam di kursi kayu merasa jengah melihat suami busuknya itu pulang ke rumah. Apa lagi kalau Rara di tuntut harus pura pura romantis di hadapan kedua mertuanya ini. Sungguh tidak menyenangkan.
"Mama, papa, kalian sudah lama di sini?" Tanya Erwin sambil mencium tangan keduanya.
"Sudah sejak kemarin malam kami datang. Kamu ini kemana saja kenapa tidak pulang ke rumah?" Tanya ibu mertua pada putra kandungannya tersebut. Erwin melirik ke arah Rara yang duduk melipat kaki di ruang tamu.
"Em.....maaf ma kemarin Erwin banyak kerjaan di kantor, jadi..."
"Jadi kamu nginep di sana, kan?" Sambung ayah Erwin.
Erwin pun tersenyum sambil menganggukkan kepala "Ah, iya pa, kerjaan lagi numpuk banget sampai ketiduran di sana" Untung saja alasan Erwin sama dengan alasan yang Rara karang sebelumnya, jadi tidak akan timbul kecurigaan.
Ayah mertua menepuk pundak putranya "Kurangi kerja lembur, kasian istri di tinggal terus di rumah. Kaliam ini masih terbilang pengantin baru loh masa lebih mentingin kerjaan dari pada istri"
Tatapan Erwin seketika menatap ke arah Rara, begitu pula dengan Rara. Setelah melihat Erwin tersenyum padanya buru buru Rara membuang muka.
"Kamu itu jangan kerja terus kapan dong mama punya cucunya?" Sontak saja ucapan itu membuat Erwin tediam. Apakah setelah tau tantang perselingkuhan itu Rara masih mau menerima dirinya sampai keduanya mamiliki keturunan, atau Rara akan meninggalkannya beserta semua harapan. Entahlah, saat ini belum waktunya memikirkan tentang semua itu karena sekarang Erwin harus menghadapi kediaman sang istri terlebih dahulu.
"Pasti ma, semoga harapan kita segera menjadi kenyataan."
__ADS_1
"Amin...." ucap mereka serempak.
"Kalau begitu Erwin mau mandi dulu, pa, ma. Hari inu cuaca di luar sangat panas jadi gerah pengen cepet mandi. Oh iya Ini ada buah buahan untuk kalian tafi di jalan Erwin ingat kalau mama paling suka buah pir" memberikan sekantong buah lalu ia berjalan malalui Rara yang duduk dengan wajah melihat ke samping.
"Iya sudah buruan mandi biar istrimu buatkan teh untuk kamu" Mama mertua menatap ke arah Rara yang masih diam di tempatnya.
"Niara, suami pulang kerja kok kamu malah diam saja ayo buatkan dia minum" titah Ayah mertua.
Rara pun bangkit "Baik pa, Niara buatkan dulu"
Tak berapa lama Erwin masuk ke dalam kamar, sedangkan Rara merebus air di dapur. Memang tidak ikhlas rasanya harus membuatkan teh untuk laki laki penghianat sepertinya itu. Rasanya seperti ingin meracuni minuman itu supaya Erwin jera, Tapi Rara tak punya mental berani seperti itu. Dan karena di rumahnya ada kedua otang tua Erwin terpaksa dia harus bersikap seolah baik baik saja. Setelah beberapa saat Rara keluar dengan membawa tiga teh gelas hangat beserta makanan pisang goreng dan ubi rebus.
"Silahkan di minum ma, pa."
Dari kejauhan Erwin melihat kedua orang tuanya menyanjung Rara sampai timbul rasa bersalah.
(Melihat mereka begitu dekat dengan Rara, aku jadi sadar kalau secara tidak langsung aku juga telah melukai perasaan mereka berdua. Kenapa aku bisa sebodoh ini? Tapi apa salahku jika membagi cunta dengan wanita lain. Bukankah laki laki itu tercipta untuk memilih bukan di pilih. Sah saja dong kalau aku punya banyak cinta di luar sana) dengan angkuhnya Erwin masih bisa membela diri.
"Mama bisa saja. Rara mau ke kamar sebentar ya ma, tadi Rara belum sempat melipat baju kering" Ucap Rara. Di jawab dengan anggukan kepala.
Ketika Rara berbalik ia melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar sambil memandang ke arahnya. Melihat wajah Erwin seolah ia ingin melemparkan sandal ke wajah suaminya itu, meski sadar belum tentu ia sanggup melakukannya. Langkah kaki terus mendekati kamar sampai mereka bertemu. Keduanya saling memandang dengan tatapan berbeda. Rara memutar kedua bola matanya sambil membuka pintu kamar.
"Sayang, mas mau bicara sebentar" Erwin ikut masuk kamar. Rara tidak perduli seolah tidak ada orang di dekatnya. Dengan wajah datar ia duduk di tepi ranjang melipat baju bajunya yang beluk sempat di lipat.
"Sayang tolong jangan bilang sama mama dan paoa tentanh masalah kita ya. Kemarin mas hanya khilaf, mas sadar jika itu salah. Mas janji akan memperbaiki segelanya" bersimouh di depan sang istri sambil memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Khilaf kamu bilang? Heh....khilaf itu sekali berbuat langsung taubat, lah ini udah ketahuan salah masih di lanjut. Bukan khilaf namanya tapi kenikmatan" ketus Rara dengan menatap penuh amarah.
"Semua itu benar hanya khilaf sayang percaya sama mas, ya" Di sentuhlah kedua tangan Rara saraya mencium tangan Rara.
Tok, tok...
"Erwin sayang sudah belum mandinya teh kamu keburu dingin nak" Ucap mama mertua dari balik pintu.
Erwin segera bangkit sembari meninggalkan ciuman di kening Rara "Mas sangat mencintai kamu" Lirihnya lalu berjalan ke luar kamar.
Di sentuhlah jejak bibir Erwin "Semua ini hanya menambahkan luka ku yang semakin perih" Mengusapnya sampai tak berbekas.
"Sayang, nanti antar mama sama papa ke terminal bus ya"
Sambil memegang gelas teh "Loh mama sama papa udah mau langsung pulang? Kenapa nggak nginep di sini sehari atau dua hari lagi gitu, masa baru ketemu udah mau pulang. Jakarta bogor itu jauh loh ma, mending nunggu sampai Erwin libur kerja biar sekalian Erwin antar pulang"
"Nggak bisa gitu dong, Win. Lusa tetangga sebelah rumah ada acara nikahan nggak enak kalau kita nggak datang, di kiranya nanti kita nggak rukun sama tetangga" Jelas ayahnya.
"Yah, padahal Erwin pingin banget ngajak kalian jalan jalan mumpung di jakarta"
"Masalah jalan jalan bisa di rencanakan kapan pun kamu mau, tapi kalau kerukunan antar tetangga mana bisa utuh kembali kalau sudah retak" sambung ibunya.
Sambil menyeruput "OKe deh kalau begitu nanti Erwin ajak Rara buat nganter kalian"
"Ya sudah kalau begitu mama mau beberes di kamar. Kalian lanjut ngetehnya"
__ADS_1