
"Widih si pak bos bawa cewek kacep banget tuh...." ucap salah satu teman Erwin. Mereka sudah ada di dalam ruangan bersama banyaknya orang yang datang. Dari dalam terlihat Erwin baru saja turun dari mobilnya tengah menyibakkan rambut si wanita yang ada di sampingnya tersebut.
"Emang jagonya si Erwin kalau udah nyangkut cewek cakep. Lihat yang bening dikit aja udah keluar tu jurus semar mesemnya.....heheha" Sejak jaman Sma dulu Erwin di kenal sebagai penjahat wanita, pasalnya hampir setiap minggu dia berganti pacar hingga setiap minggu pula banyak cewek nangis karena di putusin. Entah jurus apa yang di pakainya untuk memikat hati para wanita sampai semua pada nempel kaya lem.
"Gue juga heran sama tuh anak, kok bisa gitu lho dengan wajah pas pasan kaya gitu banyak banget cewek tergila gila...." ujar salah satu teman wanita.
"Termasuk Lo juga kan, Cit?" Celetuk salah seorang teman.
"Enak aja, gue ma ogah pacaran ama tuh playboy anyang anyang. Takut menjanda di usia muda....." Sambil bergidik geli.
"Halah.....udeh deh udah pada ngomongin apa sih, tuh orangnya udah masuk"
Salah satu di antara mereka berdiri sambil mengacungkan tangan kanan "Win, di sini"
Erwin pun melihat ke arah mereka lalu melempar senyum.
Oh iya, sampai lupa acara reuni di selenggarakan di sebuah cafe. Banyaknya alumni membuat cafe di booking semalam suntuk demi melepas rasa kerinduan mereka, banyak pula yang sudah berkeluarga atau baru saja menikah. Di sana sudah ada banyak orang serta ada juga pertunjukkan musik. Di isi oleh mereka yang hobi dalam dunia musik.
"Yuk sayang biar aku kenalkan sama teman lama ku..." Erwin mengajak Icha menghampiri sekumpulan temannya. Erwin berjalan sambil di gandeng Icha.
"Halo bro, apa kabar udah lama kita nggak ketemu" sapa salah satu teman Erwin yang bernama Kelvin. Seperti biasa layaknya teman mereka saling bersalaman dan kode persahabatan. Pukulan bogem tangan saling bertemu sambil menepuk salah satu pundak mereka. Gaya anak jaman sekarang.
"Ya, seperti yang kalian lihat" ujar Erwin sambil tersenyum melihat wanita di sampingnya.
__ADS_1
"Istri kamu ya? Nggak mau ngenalin ke kita kita nih"sambung Citra sambil bangkit dari tempat duduknya.
Sebelum menjawab Erwin memandang wajah Icha sambil mengangguk pelan. Senyum di sudut bibirnya itu membuka banyak harapan bagi Icha untuk bisa menguasai diri Erwin sepenuhnya.
Icha tersipu malu saat di sebut istri Erwin, Icha langsung menatap Erwin sambil tersenyum simpul "Iya saya istrinya" Dengan bangga Icha mengulurkan tangan " Perkenalkan nama saya Icha...." Icha memperkanalkan diri pada semua teman Erwin. Dengan sikap Icha yang mudah membaur, membuatnya gampang akrab dengan semua teman teman Erwin, terlebih dengan teman cewek. Tak perlu waktu satu jam mereka sudah akrab dengan Icha, mereka asik mengobrol, saling memperkenalkan diri dan masih banyak hal yang mereka obrolkan.
Mereka duduk di sebuah kursi dengan jumlah orang sekitar dua belas orang. Di cafe itu sudah hadir banyak alumni dari tahun ke tahun, wajar jika mereka kadang tidak saling kenal karena reuni itu tidak hanya satu dua kelas saja tapi semua alumni bisa hadir di sana. Bisa di bilang reuni terbesar.
"Woy....lo nikah ngapa nggak ngundang kita kita" kevin menepuk pundak Erwin sambil melihat ke arah Icha yang asik mengobrol dengan yang lainnya.
"Gue nggak nagadain pesta besar besaran bro, cuma nikah di kantor urusan agama udah beres. Jadi gue nggak ngundang kalian deh" jelasnya.
"Kaya anak orang susah aja lo Win. Nikah sekali masa nggak ada pesta, rugi dong." Sambung Kevin.
"Ra, lu kenapa?" Tanya Mirna. Melihat tatapan mata dan kediaman Rara membuat Mirna melihat ke arah pandangan sahabatnya itu. Betapa terkejutnya Mirna melihat Erwin berada di sana "Sejak kapan suami lu ada di mari? Apa dia juga alumni sekolahan kita juga?" Heran Mirna.
Rara masih berdiri membatu, kedua tangan mengcengkeram ujung baju kala ia melihat tangan suaminya menggenggam tangan wanita di sebelahnya itu sambil tertawa bersama teman temannya.
"Astaga, suami lu......" Ucapan Mirna tertahan di saat dia melihat tangan Erwin di bawah meja tengah menggenggam tangan seorang wanita cantik di sebelahnya. "Wah ini nggak bisa di biarin Ra, lu harus labrak suami lu kalau perlu lu hajar sampai bonyok" sangking gemasnya sampai Mirna meremas kepalan tangannya sendiri.
Tatapan Rara mulai melemah, di sudut matanya tergenang air. Perlahan air itu terurai membasai pipi "Tidak perlu membalas luka dengan amarah, itu hanya akan merusak diri kita. Kalau dia berani silingkuh halus di belakang maka sekarang aku akan bersikap halus di depan mereka. Kita lihat saja...." sambil menguspa air mata, berusaha kuat dengan semua bukti yang ada.
Rara dan Mirna sengaja mencari tempat duduk di dekat sekumpulan taman Erwin itu, dan mereka duduk membelakangi Erwin berserta temannya. Tak lama setelah itu Iyan datang menuju ke meja mereka.
__ADS_1
"Ra kamu kenapa?" Ucap Iyan sambil duduk di samping Rara.
"Stttt...." Mirna mengacungkan jari telunjuk di bibirnya sendiri guna memberi kode diam pada Iyan.
"Kenapa?" Bisik Iyan. Pandangannya tidak lepas dari wajah Rara. Terlihat beberepa kali air mata jatuh di pipinya, pasti ada hal buruk terjadi sampai wanita yang jarang menangis ini mengeluarkan air mata.
Dengan bahasa bibir, Mirna menunjuk ke arah belakang sambil bilang kalau di belakang itu ada suaminya sedang bersama wanita lain. Iyan pun tersentak ketika melihat laki laki dengan seorang wanita tengah saling merangkul satu sama lain, mereka tengah berpose melakukan mengabadian moment hari ini. Ya, mereka berfoto dan tanpa di sadari ada sebuah punggung wanita ikut terkena kamera, punggung itu tidak lain adalah Rara, istri sah Erwin. Tapi sejauh ini Erwin belum sadar kalau istrinya duduk di belakangnya.
"Ih kalian itu pasutri paling the beast deh" puji salah satu dari mereka.
Seketika itu Rara memejamkan mata merasakan sakit luar biasa, bagaimana dia tidak sakit kalau suaminya di aku sebagai suami orang lain. Sangking sakitnya air mata Rara pun jatuh. Iyan yang tidak tega melihatnya langsung memasang bahu untuk wanita yang di cintainya itu. Rara menyendarkan kepala di bahu Erwin dengan masih menangis.
Tak berapa lama seorang mc memanggil nama Erwin untuk maju ke panggung, memintanya membawakan sebuah lagu. Dulu Erwin paling suka dunia tarik suara sampai sekarang dia juga suka musik.
"Maju, maju, maju maju...." Teriak banyak orang di sana. Awalnya ia menolak maju karena sudah lama tidak mengasah fokal takut lupa lirik. Tapi atas desakan teman temannya juga semua orang di sana Erwin pun maju ke panggung.
"Oke, oke, saya akan bernyanyi khusus buat para alumni sekalian, dan khususnya buat wanita berbaju merah marun di sana (Menunjuk ke arah Icha) lagu ini aku persembahkan untuk kalian dan istri ku tercinta, Ericha Silvia." Ucap Erwin lantang. Semua orang bertepuk tangan lalu Erwin mulai memainkan gitar.
Hati Rara bertambah hancur, tapi dia harus berusaha tegar. Air mata terus mengalir menggambarkan betapa sakitnya hati Rara saat ini.
"Ra, kalau menurut gue lu harus balas semuanya dengan cara apa pun juga hari ini di sini...gimana kalau....." Mirna membisikkan sesuatu padanya.
Rara segara lepas dari pundak Iyan, dengan sigap Iyan menyeka air mata Rara sambil mendukung setiap keputusan yang di ambil.
__ADS_1
"Aku mau bantu kamu dengan senang hati" Iyan pun menawarkan diri untuk membantunya.