
Usai mengantar Icha, seperti biasa Erwin pulang ke rumahnya. Malam ini dia sangat lelah. Seharian penuh harus bekerja, di tambah sorenya menemani Icha belanja. Remuk redam badan Erwin saat ini sekaligus juga kantongnya bisa jebol. Bagaimana tidak? Biasanya saat Erwin belanja bersama kekasih haramnya itu banyak menghabiskan uang. Memang pada dasarnya Icha paling hobi shoping, makan di luar, sering minta yang aneh aneh, berbangding terbalik dengan Rara. Tidak semua keinginnya harus terpenuhi karena dia masih memikirkan bagaimana perjuangan suaminya demi menghasilkan uang, jadi Rara akan pikir panjang kalau mau belanja sesuatu. Barang branded yang kerap di pamerkan teman temannya di anggap sebagai angin lalu. Bukan tidak punya keinginan untuk memiliki, tapi dia sadar bawah dia harus mengontrol hawa nafsunya sendiri demi masa depan keluarganya.
"Sayang...." panggil Erwin ketika pintu rumah tertutup rapat, sepertinya terkunci dari dalam.
"Sayang buka pintunya" berulang kali mengetuk pintu tapi tidak ada respon dari dalam. Tapi, dari luar terdengar suara tv di ruang tamu. Rara yang duduk sambil melihat tv hanya tersenyum sinis. Ujung bibirnya terlihat sedikit naik dengan menatap ke arah pintu kayu di sampingnya.
"Kalau ada pintu lain sengaja kamu buka kenapa masih mengetuk pintu rumah ku? Dan apakah pintu rumah ini harus ikut terbuka saat setia tak kau miliki, mas? Sungguh kejam kamu, mas." Lirihnya sambil terus melihat tv, Seolah tak perduli dengan ucapan sang suami di luar pintu. Bukanya membuka pintu Rara malah semakin mengeraskan volume tv. Rara masih diam di ruang tamu mendengar keluh kesah suaminya di depan pintu, sampai terdengar suara mobil kembali di nyalakan. Jarak ruang tamu dan pintu tidaklah jauh, jadi Rara bisa melihat dari tirai jendela kepergian suaminya itu.
"Sekarang waktunya" Tak berapa lama Rara mematikan tv berlarian kecil menuju kamar, meraih tas lalu keluar dari rumah. Di depan jalan sudah ada seorang tukang ojek yang tadi dia sewa untuk mengintai suaminya itu. Sedangkan Mirna lebih dulu mengikuti mobil Erwin. Setelah menempuh jarak sekitar satu setengah jam sampailah Erwin di sebuah Villa sederhana ke arah puncak. Mirna lebih dulu sampai segera mengabari Rara titik lokosi mereka berada saat ini. Benar saja tidak lama kemudian Rara datang.
"Kembalinya ambil saja bang" ucap Rara pada tukang ojek itu.
"Makasih banyak neng, kalau gitu saya pergi dulu" Setelah si tukang ojek tadi pergi, Mirna dan Rara mengendap endap melihat lebih dekat. Mereka takut ketahuan satpam di Villa itu. Biasanya setipa villa punya keamanan sendiri, tapi betuntung di villa itu tidak ada penjagaan ketat.
"Villanya yang mana Mir?" Tanya Rara sambil melihat dua buah Villa bersebelahan dengan halaman tidak terlalu luas namun di kalangan menengah kebawah, sebuah villa itu sudah sangatlah mewah. Kalau di banding dengan kos pasti sangat jauh berbeda.
Mirna menunjuk villa itu "Yang di sampingnya ada kolam kecil itu"
"Ehem...." seseorang berdehem di belakang mereka, membuat keduanya langsung berbalik.
__ADS_1
"Kalian ini siapa ya? Kenapa mengendap endap seperti maling?" Tanya laki laki yang berada di hadapan mereka. Mirna melongo melihat ketampanan laki laki itu sampai matanya tak mau berkedip. Mulutnya membentuk huruf O.
"Mir, Mirna..." senggolan lengan Rara membuatnya tersadar. Cepat cepat Mirna menepuk pipinya sendiri sambil berbisik dalam hati (malaikat hidupku sudah turun ke bumi) wajahnya terus tersenyum senyum tenggelam dalam lautan khayalan.
"Mirna...." sekarang Rara mencubit lengan sahabatnya. Bagaimana Rara tidak kesal di saat genting seperti ini Mirna masih bisa menatap kagum laki laki di depannya itu. Bukannya mencari tau tentang suaminya malah asik mengkhayal.
"Sekali lagi saya tanya, kalian ini siapa dan sedang apa?" Tanya laki laki itu kembali.
"Kami sedang menjadi mata mata"
Rara menginjak kaki Mirna karena dia kelepasan bicara "Husssttt....apa apaan sih, Mir?"
Laki laki itu mengerutkan kedua alis sambil melihat kedua wanita di depannya, tapi pandangan itu dominan ia lempar para diri Rara. Di lihat dari segi wajah, Rara tidak hanya cantik tapi juga manis. Lesung pipi dan gigi gingsulnya membuat para laki laki langsung terkesima.
Deg....
Darah seolah berhenti mengalir, nafas pun ikut melemah, hawa dingin menyelimuti ujung kaki hingga ujung kepala. Begitu mendengar kata kata si laki laki itu. Tiba tiba badan Rara sempoyongan seperti hendak pingsan.
"Hei....." sigap si lali laki menahan badan Rara yang hampir terjatuh.
__ADS_1
"Rara, kamu kenapa? Kalau kamu nggak sanggup kita pulang aja yuk dari pada kamu kenapa kenapa nantinya. Masalah cowok buaya kampung itu biar Tuhan yang atasi" ucap Mirna sambil mengambil alih badan Rara yang menggelayut di badan laki laki asing itu.
"Nggak, Mir. Pokoknya malam ini aku harus tau yang sebenarnya" ucapnya sambil berusaha kuat menahan rasa sakitnya itu. Bagai luka berduri tak berbadah tak bernanah, tapi lukanya begutu dalam dirasa.
"Tunggu tunggu maksud dari semua ini apa ya?"
Awalnya Mirna menjelaskan titik permasalahannya, meski Rara kerap melarangnya berkata jujur, tapi dia terus mengoceh dari A sampai Z. Bercerita bagaimana kejamnya seorang suami yang baru saja menikahi istrinya lalu dia malah memiliki wanita lain di hidupnya.
"Oh jadi anda korban dari perselingkuhan? Kalau di ijinkan saya bisa bantu kalian. Kebetulan dua villa ini milik ayah saya. Sengaja saya tinggal di sini untuk menghindari keramaian ibu kota." Jelasnya memberitahu.
"Ha....? Ini villa kamu?" Lagi lagi Mirna terkagum pada laki laki itu.
"Bukan punya saya, tapi punya Ayah saya. Oh iya perkenalkan saya Rama" sambil menyodorkan tangan pada Rara, tapi di sambut hangat oleh Mirna. "Ah....aku Mirna dia sahabat ku namanya Rara" sambil menjabat tangan si Mirna tersenyum.
Rara tidak bergerak sedikit pun kala dia melihat pemandangan di luar dugaan. Ketika tirai kamar yang di sewa suaminya itu terbuka, di lihatnya dua orang saling berpelukan di tepi jendela dengan kedua tangan saling memeluk pinggang. Tatapan keduanya beradu menjadi satu pandangan panas, dan tidak lama setelah itu kecupan manis di tepi bibir wanitanya.
Seketika itu pula mata Rara terpejam dalam. Hatinya sungguh hancur, air matanya tak lagi mampu ia sembunyikan. Dia sudah tidak mendengar obrolan Mirna dan Rama. Mata dan hatinya tengah terluka oleh pemandangan tidak manusiawi itu. Rara berbalik arah lalu menarik lengan Mirna "Kita pergi dari sini, aku nggak mau melihat dosa besar itu..." Mirna dan Rama saling menatap sebelum keduanya melihat ke arah jendela Villa Erwin dan kekasih haramnya.
"Tega sekali laki laki itu, gue sumpahin dia bakal nyesel udah buat lu kaya gini" kesal Mirna. Rama menghampiri mereka yang sudah nangkring di atas motor "kalian tenang saja, saya akan membantu kalian dalam hal ini. Tapi sebelumnya bolehkan saya minta nomor kalian?"
__ADS_1
Tanpa basa basi Mirna memberikan monor hpnya "Nanti kamu langsung chat saja ya, masalah nomor Rara nanti aku kirim"
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut dengan hati yang luka.