
"Mas kamu ini kenapa? Bukankah kamu sendiri yang bilang sama aku kalau kamu mencintai aku, lalu untuk apa mengiba di depan wanita ini, seolah kamu mengemis cinta darinya, mengapa? Sekarang aku sudah siap menikah denganmu, mas. Mari kita menikah sayang. Aku tidak mau kalau harus masuk penjara" Di raihlah tangan Erwin sambari memeluknya.
Bagi Icha hukuman pernikahan itu akan membuatnya bahagia, padahal di dalam kehidupan barunya nanti akan ada masalah besar. Apa lagi yang di dapatkan saat ini bukan miliknya melainkan milik orang lain, uatu saat nanti tidak akan menutup kemungkinan dia pun akan mengalami nasib seperti yang Niara rasakan saat ini.
"Icha, lepaskan aku...." berusaha melepas diri tapi malah Icha semakin mengeratkan kedua tangannya.
Terlihat Niara berbalik badan melihat suaminya dalam pelukan wanita lain, meski di luar merelakan tapi hatinya masih terasa sakit. Air mata Icha langsung di sambut oleh ibu kandungnya. Beliau bisa merasakan bagaimana perasaan Niara saat ini.
"Kemarilah nak" memeluk putri tunggalnya kemudian menyeka air mata berharga itu. "Jika jalan yang kamu tempuh terlalu sulit untuk apa menapaki jalan itu, di sebrang jalan sana ada banyak persimpangan, pilih kembali jalan hidupmu. Percayalah, kesakitan kamu akan segera berlalu"
Rara langsung memeluk ibunya dengan erat berusaha bersembunyi dari luka yang di dapat. Tapi, dia sadar bersembunyi bukan satu satunya jalan keluar. Sesakit apa pun luka itu harus di hadapi sebisa mungkin. Jika ia mengingat perselingkuhan itu membuatkan kembali tersukut emosi. "Baiklah Niara akan mengambil jalan lainnya, Ma. Doakan Niara kuat mengadapi semua ini" Niara kembali menatap ke arah suami dan wanita selingkuhan suaminya tersebut. Kedua mata menatap keduanya bergantian dengan tatapan tajam bak seekor burung elang hendak menerkam mangsa.
"Dan saya mau pernikahan itu di laksanakan secara agama di sini sekarang juga(dengan dana sedikit di tekan)"
Sontak Erwin melepas Icha dengan sedikit mendorong sampai ada jarak antara keduanya "Nggak bisa, ini salah. Pokoknya aku tidak akan menikahi dia" sembari menunjuk ke arah Icha yang saat ini di rangkul oleh ibu kandungnya.
"Hah.....kamu bilang apa, mas?" Memicingkan mata.
__ADS_1
"Iya, ini salah sayang. Aku nggak bisa menikah dengan dia karena aku tidak mau menikahinya. Nggak baik memaksa suami menikahi wanita lain, Mas mohon jangan paksa mas untuk melakukan ini" meraih kedua tangan Rara, meminta sebuah permohonan.
"Jadi kamu membahas apa yang salah dan apa yang benar? Oke, kalau begitu sekarang aku tanya sama kamu mas apakah perselingkuhan kalian ini karena terpaksa? Dan menurut kamu apakah perselingkuhan kamu ini suatu kebenaran? Ayo jawab mas, aku mau dengar pandapat kamu" kesabaran menusia ada batasnya. Jika kepercayaan tak lagi di jaga dan setia tak ada artinya satu satunya jalan adalah lepaskan saja. Sesungguhkan bukan kalian yang tidak pantas untuknya, melainlan dia yang tidak pantas untuk kalian. Sampah akan di tempatkan pada tempat sampah dan permata akan menumukan Tuannya cepat atau lembat.
Mulut Erwin serasa terkunci rapat, lidahnya kaku, seluruh badan membeku dengan pertanyaan itu. Erwin pun hanya bisa menggeleng kepala dengan meneteskan air mata. Di hadapan semua orang ia bersimpuh di bawah kaki sang istri, wajahnya menunduk dan tangan menyentuh ujung kaki Rara.
"Iya kamu benar semua yang telah ku lakukan adalah kesalahan. Mas mohon ampun sayang, mas janji akan meninggalkan wanita itu dan kita bisa kembali bersama sama...." mendongak melihat wajah sang istri.
Rara memundurkan langkah "Maaf, mas. Tapi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu, jika klaian bisa mendesah bersama kenapa nggak berani menikah? Lucu, bukan?" Berbalik arah sambil menyeka air mata yang menetes.
"Sayang aku mohon....."
Plak......
Tamparan keras mendapat ke wajahnya "Apa kamu pernah berfikir sebelum kamu seligkuh dengan wqnita itu? Apa kamu memikirkan bagaimana kamu menghancurkan harga diri kedua orang tua kamu? Dan apakah kamu juga Niara akan memaafkan kamu setelah apa yang terjadi?"
Erwin tidak berani menatap ayahnya, bahkan ia tak ampu membuka mulutnya.
__ADS_1
"Pa......sudahlah papa tenang ingat kesehatan papa" ucap Niara sambil membawa sang ayah mertua duduk kembali.
"Mbak Niara, lalu keputusannya bagaimana ini apakah kita jadi menikahkan mereka atau malaporkan mereka ke pihak berwajib?" Tanya salah satu perangkat desa.
Sebelum memutuskan Niara melihat kedua orang tua dan juga sabahat baiknya. Anggukan kepala dari mereka menjadi kekuatan terbesar Rara saat ini. Perlahan ia menutup mata sejenak lalu membuka mata kembali "Saya ingin mereka menikah"
"Tidak aku tidak mau" tukas Erwin.
"Baiklah hukuman telah ditetapkan, sekarang kita akan menikahkan mereka sekarang juga." Keputusan Rara saat ini adalah Final. Tidak akan bisa di rubah walau air mata darah kelair dari mata Erwin sekali pun.
Semua persiapan telah di siapakan dengan bantuan beberapa warga. Tak berapa lama bapak penghulu datang "Kita mulai sekarang" menjabat tangan Erwin. Oh iya sebelum pak penghulu datang Erwin sudah mamakai baju dan begitu pula dengan Icha. Keduanya duduk di depan pak penghulu.
"Kamu harus kuat" bisik Mirna.
"Pasti" sambil menggenggam tangan Mirna. Telapan tangan Rara berkeringat dan wajah terlihat seperti menahan sakit.
Sebelum pernikahan terlaksana kedua orang tua Rara mengajaknya pergi dari tempat itu. Mereka tidak sanggup melihat putri mereka terluka melihat pernikahan tersebut.
__ADS_1
"Mari kita pulang sayang, sekarang kamu kembali menjadi tanggung jawab kami. Setelah ini kita tinggal menunggu prososes perceraian kamu dengannya." Sang ayah langsung membawa putrinya pergi dari tempat itu. Kebetulan mereka menyewa mobil dari rental "Ayo kita pergi, nak"