Persinggahan Kedua

Persinggahan Kedua
Bab 6


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Erwin menyusun sebuah rencana, banyak melibatkan pihak lain demi menutupi perselingkuhan itu. Dia juga meminta bantuan dari salah satu temannya di bandung. Perjalanan panjang dari bandung menuju jakarta memakan waktu yang panjang sampai malam pun menjelang, tepatnya pukul sepuluh malah dia baru sampai di jakarta, jalanan ibu kota yang padat di tambah malam ini adalah malamnya para remaja. Setiap malam minggu hampir seluruh jalan di ibu kota padat merayap. 


"Hah ancur rasanya ni badan, seharian bolak balik jakarta bandung, bandung jakarta. Gini amat sih nasib gue" kesal Erwin yang susah begitu kelelahan. Di tambah jalanan begitu macet dan perutnya terasa lapar karena dia belum sempat makan siang. "Bang bungkusin nasi goreng special dua ya, seperti biasa" ucapnya pada seseorang di telepon. Setelah keluar dari jalan padat sampailah dia di jalan menuju ke rumahnya, dia berhenti di depan sebuah ruko tempat mangkal nasi goreng langganannya. 


"Pasanannya udah bang?" Tanya Erwin dari dalam mobil, si abang penjual nasi gireng tersenyum sambil membawa pesanan Erwin. "Sudah mas..." jelasnya sambil memberikan pesanan tersebut. Erwin pun mengeluarkan duit lima puluh ribu "Ambil saja kembaliannya...."  segera dia meluncur menuju rumah, di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan "Sudah jam setengah duabelas apa dia sudah tidur ya" berulang kali melihat whatssapp sang istri, di mana dari siang tadi tidak online. 


Sesampainya di rumah, Erwin mengetuk pintu beberapa kali. "Sayang ini mas buka pintunya" tak berapa lama pintu pun terbuka, terlihat mata sembab sang istri seperyinya dia banyak mengeluarkan air mata sampai kedua matanya seperti mata panda.


"Hei sayang kenapa sih, jangan begitu dong" Erwin meraih tangan Rara ketika dia hendak berbalik kembali masuk ke dalam kamar. Rara melihat tangan kekar itu menempel di lengannya, dan seketika Rara melepaskan tangan suaminya. Dia masih tetap diam tanpa kata.


"Sayang kamu marah ya? Mas bisa jelasin, jangan marah dulu" sekarang Erwin memasang badan di depan Rara untuk menghalangnya masuk ke dalam kamar. "Maaf kalau mas bohong sama kamu, sebanarnya mas itu...."


Kedua tangan Rara mengepal erat "Sebenarnya apa? Sebenarnya sedang bersama wanita lain? Iya, itu yang mau mas bilang sama aku" 


"Wanita apa? Mas itu benar benar pergi kerja sampai mas rela bolak balik jakarta bandung, demi apa? Demi menjelaskan kesalah pahaman antara kita berdua. Mana ada wanita lain di hati mas selain kamu seorang " menyentuh dagu istrinya tapi kembali di tepis " Sayang please jangan marah seperti ini, kalau kamu tidak percaya mas bisa telepon orang yang mempekerjakan mas"

__ADS_1


"Alah udah lah mas nggak usah ngeles terus. Tadi siang aku udah telepon kantor kamu katanya kamu masih ambil cuti sampai satu bulan, lalu kenapa kamu bohong sama aku, ha kenapa...." tiba tiba saja air mata Rara berjatuhan. Tak mau habis akal Erwin segera memeluknya meski mendapat beberapa kali penolakan "lepas, jangan sentuh aku lagi, aku benci kamu mas" pukulan demi pukulan ia layangkan di dada suaminya. Semua kesal dan kecewa ia luapkan sebisa mungkin, tapi Erwin tetap diam pasrah.


"Tidak apa apa pukul sepuas kamu sayang sampai amarah kamu mereda. Mas akan menerima semuanya meski mas sama sekali tidak melakukan hal yang kamu tuduhkan" 


"Terserah kamu, aku mau kita cerai mas" ucapan Rara seolah menusuk relung hati Erwin"Apa kamu bilang? Cerai?"


Seolah menantang Rara mendekatkan wajahnya "Iya, aku mau pisah aja sama kamu, percuma mas kita menikah kalau kamu punya wanita lain di luar sana. Mending kamu nikahi saja dia"


Amarah Erwin tak lagi bisa di kontrol sampai meja di sampingnya di tendang "Cukup Ra, cukup. Kamu sudah melewati batas kesabaranku. Wanita mana yang kamu sebutkan? Asal kamu tau aku menggunakan sisa cuti kerja bukan untuk hal yang kamu tuduhkan tapi aku mengambil kerjaan lain di luar sana. Kalau kamu masih belum percaya kamu bisa tanya sama orang ini, dia adalah sesorang yang meminta ku mengerjakan proyek rumahnya. Biar aku telepon dia supaya kamu percaya" benar saja Erwin melakukan video call dengan salah satu orang, di tengah malam seperti ini dia menyiapkan sebuah rencana besar untuk meyakinkan hati sang istri. Erwin juga meminta laki laki itu menunjukkan hasil proyeknya "Jadi mas benar benar hanya kerja?" Tentu saja Rara luluh dengan pengakuan itu.


Sempat ragu dengan pengakuan itu tapi melihat reaksi suaminya ia jadi yakin kalau suaminya itu benar tidak bersalah "Mas maaf ya aku salah sangka sama kamu..." di peluklah tubuh Erwin. 


"Puas kamu...." ucapnya dengan nada tinggi. 


"Mas, jangan marah maafkan aku ya, aku yang salah sudah salah sangka sama kamu. Maaf ya mas" kata maaf terus terucap dari mulutnya. Erwin pun membalas pelukan Rara sambil tersenyum "Iya mas maafin kamu, tapi jangan lakuin kesalahan ini lagi ya? Awalnya mas nggak mau kamu tau kalau mas ambil kerja di luar kantor supaya kamu nggak begitu khawatir sama mas. Kamu tau sendiri kan mas harus mulai kumpulin duit yang banyak demi masa depan kita nantinya"

__ADS_1


Rara menatap wajah suaminya dengan senyum manis "Maaf ya mas gara gara aku terlalu takut kehilangan kamu sampe aku marah nggak jelas kaya tadi" Rara pun kembali memeluknya penuh cinta.


"Ya sudah kita lupakan yang tadi, tapi jangan ulangin lagi ya. Apa lagi sampai ngucap kata kata kaya tadi, mas nggak suka. Janji ya jangan gitu lagi" menyentuh kedua pipi Rara lalu mencium keningnya.


"Iya mas aku janji nggak bakal kaya gitu lagi" 


Krukkkkk...


Rara kembali menatap suaminya kala terdengar suara perut "Mas belum makan?" 


"Belum lah sayang, gimana mau makan kalau istri tercinta mas ini lagi marah. Dari siang lho mas nggak makan karena kepikiran kamu terus" dusta Erwin. 


"Ah....mas Erwin aku jadi tambah bersalah kan. Ya udah biar aku masakin dulu ya" 


"Nggak usah sayang, tadi mas udah pesen nasi goreng di langganan mas. Kamu tinggal panasin bentar aja mas mau bersih bersih dulu" Rara mengangguk lalu menuju dapur hendak memanaskan nasi goreng.

__ADS_1


__ADS_2