
Iyan mengantar Rara pulang ke kosan Mirna, setelah perceraian itu terjadi Rara tinggal bersama sahabatnya. Bukan untuk bersembunyi tapi ia butuh waktu untuk menata ulang kehidupan barunya. Dia juga tidak ingin bertemu dengan mantan suaminya karena ia belum siap melihat kenyataan bahwa mereka tidak lagi berjodoh. Bukan karena menyel telah bercerai dari Erwin, tapi ia merasa sakit mengingat dirinya telah banyak di sakiti. Rara sendiri memutuskan untuk tidak tinggal di rumah orang tuanya karena pasti akan mudah bagi Erwin menemukan dia di sana, maka dari itu Rara putuskan untuk tinggal bersama Mirna untuk semantara waktu.
Di tempat barunya kini Rara bisa menemukan seberkas sinar harapan dalam hidup, perlahan kembali bangkit dari keterpurukan. Meski Rara sendiri belum ingin keluar kemana pun karena dirinya sudah banyak di kenali warga. Setelah video itu viral banyak sekali simpati mengarah padanya sampai potretnya di kait kaitnya sebagai wanita tersedih di dunia. Rara pun tak bisa berbuat banyak karena dia tidak bisa melawan media masa. Jika kenyataan memang seperti itu bagaimana dia akan menghapus berita tentang perselingkuhan suaminya itu. Yang bisa di perbuatkan kini hanya menghindari warga demi ketenangan jasmani dan rohani. Sebenarnya sudah cukup hukuman atas perselingkuhan mantan suaminya tapi madia semakin membulatkan perkara menjadi semakin menyekitkan dengan kata kata tersedih mereka.
Sesampainya di depan kosan Mirna Iyan langsung menghentikan motor "Sampai kapan kamu tinggal di sini? Bukankah lebih baik kamu pulang " Tanya Iyan sambil menoleh ke belakang, melihat Rara yang handak turun dari motor.
"Emm.....belum tau juga. Aku masih belum siapa ketemu orang di luar sana, tatapan mereka seolah mengiba terhadapku padahal aku sendiri sudah baik baik saja. Aku hanya butuh sedikit waktu lagi menguatkan diri terlebih dahulu" jelasnya.
"Cepat atau lambat kamu harus menghadapi dunia, tidak usah perdulikan seiba apa orang terhadap kamu. Karena hidup akan terus berjalan meski setelah luka sekali pun. Lebih baik kamu pikirkan tawaranku tadi..." Kalau di tanya apakah Iyan menaruh harapan pad Rara untuk kembali menjalin kisah, tentu saja iya. Selama bertahun lamanya Iyan tidak mau membuka hati untuk wanita lain karena cihtanya hanya untuk satu wanita, satu persinggahan, yaitu cinta seorang Niara.
"Aku masih butuh waktu sebentar lagi, nanti kalau aku sudah siap pasti aku hubungi kamu"
"Oke aku tunggu kesiapan kamu" Ujar Erwin sembari mengulas senyum.
"Maaf ya aku nggak bisa suruh kamu mampir saolnya Mirna masih di luar. Nggak baik kan kalau seorang janda seperti aku berduaan di kosan sama kamu, takut timbul fitnah" jelas Rara memberitahu.
"Iya, nggak apa apa aku juga mau langsung pulang aja"
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu makasih ya udah mau repot nganterin aku pulang " Ucap Rara sambil melepas helm, tapi sepertinya ia kesulitan.
Iyan melihatnya kesulitan lantas menawarkan diri "Biar aki bantu..." di lepasnya tali pengaman di bawah dagu Rara. Pandangan keduanya bertemu dan saling memendang sejanak.
" Makasih " segera Rara membuang pandang katika di dalam mata Iyan terlihat jelas rasa cinta untuknya. Tali pada helm sudah terlepas tinggal melepas helm dari kepala.
"Biar ku bantu" dengan sigap Iyan melepas helm itu lalu tak sengaja ada beberapa helai rambut tersangkut di tangan Iyan "Maaf, maaf, sakit ya" mengusap kepala Rara.
Rara memundurkan langkah seraya menunduk "Tidak apa apa, sekali lagi terima kasih. Aku masuk dulu" Membuka gembok lalu masuk meninggalkan Iyan di depan kosan sendirian. Iyan pun segera meninggalakan tempat itu.
Drt.....
"Siapa sih..." dia mendapatkan kabar dari pak pos bahwa suaminya tidak lagi tinggal di tempat itu, beliau hanya meletakkan surat di bawah kolong pintu.
"Ku kira dia tinggal di rumah itu, lalu mereka tinggal di mana sekarang?" Setelah kejadian itu kelaurga Erwin tidak lagi mau menerimanya sebagai seorang anak. Dari kejadian itu harga diri keluarga Erwin telah di coreng oleh putra mereka sehingga mereka menolak menerima putra dan menantu barunya masuk dalam kehidupan mereka.
"Mas kenapa sih kamu nggak cari kerja yang gajinya gede kaya dulu lagi? Tiap hari pulang kerja cuma bawa duit satu lembar doang mana cuma pecahan lima puluh ribu lagi, emang cukup buat makan Nggak , kan? Kerja di mana gitu gih mas jangan males jadi suami...." Icha mengomel pada Erwin yang duduk bersila tengah menyeruput secangkir kopi hitam.
__ADS_1
Erwin tidak mengindahkan omelan sang istri, ia hanya bisa diam dan terus menyeruput kopinya.
"Kamu dengar aku tidak sih, mas?" Nada bicara Icha semakin meninggi hingga membuat Erwin langsung melihat ke arahnya. "Kamu itu taunya cuma ngomel terus tiap hari, bisa diam nggak sih kamu. Suami pulang kerja mau menikmati secangkir kopi aja kok nggak bisa" sangking kesalnya Erwin meletakkan cangkir kopinya sedikit keras hingga terdengar bunyi gelas menyentuh lantai.
"Jelas aku ngomel dong, mas. Setelah kita menikah kamu nggak pernah kasih aku kebahagiaan justru malah sebaliknya, hanya penderitaan saja. Kapan sih aku bisa kaya dulu bisa belanja ke maal, makan di cafe mahal, ke salon dan bisa jalan jalan kemana aja" sambil memperagakan kedua tangan membayangkan saat dulu enaknya jadi simpanan Erwin, selalu mendapatkan apa yang dia mau. Tapi, sekarang kenyataan tidak lagi sama seperti sedia kala.
Mendengar ucapan Icha seolah menyudutkan Erwin tentang kesalahannya seketika Erwin bangkit menatap kedua mata sang istri dengan tajam "Kamu pikir semua terjadi atas kemauan ku? kalau bukan kamu penyebabnya semua ini tidak akan pernah terjadi seperti ini. bukankah saat itu aku sudah memperingatkan kamu supaya tidak menemuiku Lalu kenapa kamu datang ke kantor dan menggoda aku, kenapa? Kalau ada yang harus di salahkan itu bukan aku tapi kamu, ngerti!" Tegas Erwin.
Icha membulatkan kedua bola mata "Oh.....jadi kamu kira ini salahku, mas? Eh(mendorong bahu Erwin) semua ini penyebabnya adalah si cewek sialan itu, kalau saja dia tidak berbuat seperti itu pasti kamu nggak akan kehilangan pekerjaan dan aku nggak perlu hidup menderita kaya gini" membalikkan fakfa demi menjatuhkan yang lain. Setelah kejadian itu kehidupan Erwin menjadi sangat berantakan, tidak hanya kedua orang tua saja yang meninggalkan dia tapi juga dia kehilangan pekerjaan serta harga diri. Dulu kehidupannya lumayan enak, tinggal di rumah sendiri makan apa aja bisa, uang banyak, kerjaan enak, tapi sekarang dia hanya bisa menjadi kuli panggul di pasar. Mana kerjanya keras, harus panas panasan, hujan kehujanan, duitnya juga sedikit. Pokonya beda dari yang dulu.
Mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Icha "Stop! Stop, kamu menyalahkan dia lagi. Bukan dia yang salah tapi kita" kali ini Erwin benar benar marah. Dia juga baru tau watak asli Icha saat ini, wanita yang dia kira mempunyai kualitas terbaik dalam segi apa pun ternyata bukan seperti yang di bayangkan. Icha bukan wanita penyabar, lemah lembut, dan penuh cinta seperti dulu, sekarang ini Icha berubah menjadi wanita tamak akan harta, bengis, dan selalu mempermasalahkan hal kecil menjadi seperti bom.
"Terus aja kamu belain dia, mas. Sekalian kamu balikan sama dia" Keduanya saling memperlihatkan emosi masing masing.
Kedua tangan Erwin mengepal erat menahan amarah dalam diri "Kalau saja kesempatan itu ada pasti aku sudah kembali bersamanya" ketusnya saraya meninggalkan Icha.
Jawaban Erwin membuat Icha tertampar keras sampai kakinya melemas, perlahan tubuhnya melemah dan ia terduduk di atas lantai beralaskan tikar kecil "Kamu jahat sekali mas tega bicara seperti itu" Air mata Icha menetes mengeluh kesakitan.
__ADS_1