
Perselingkuhan Erwin masih tersimpan rapat dari keluarga besar mereka. Rara sengaja tidak memberirahu pihak keluarga Erwin karena takut penyakit jantung yang di derita ibu mertuanya kambuh. Apa lagi kondisi ayah Erwin saat ini tidak terlalu baik, beliau mengalami diabetas dan tekanan darah tinggi, sedikit saja beliau merasa stres akan berpengaruh buruk bagi kesehatannya. Sekejam apa perlakuan Erwin pada Rara tidak akan membuatnya menutup rasa simpati kepada kedua mertuanya itu.
Sepulangnya Mirna, dia langsung masuk ke dalam kamar. Hingga suatu ketika tepat pukul jam 20:00 wib pintu rumah di ketuk. Rara masih terdiam diri di atas ranjang sambil melihat layar hp, ia tengah asik melihat drama korea yang mengisahkan tentang perselingkuhan dan di balas berkali lipat. Terdengar lagi ketukan pintu, di sangkanya itu adalah Erwin, jadi dia tidak segera membukakan pintu.
"Masih ingat pulang juga ternyata...." Setelah beberapa kali pintu terus di ketuk, Rara beranjak keluar. Di bukanya pintu dengan memasang wajah datar.
"Untuk apa pulang?"
Kedua orang di depan pintu saling menatap, tidak tau apa yang di maksud menantunya tersebut.
"Siapa yang tidak pulang?"
Betapa terkejutnya Rara kala melihat dua orang berdiri menatap penuh tanya, tatapan penuh selidik itu membungkam mulut Rara.
"Mama, papa, silahkan masuk." Mempersilahkan kedua mertuanya masuk. "Silahkan duduk, ma, pa. Maaf tadi Niara sedang di kamar mandi jadi agak lama bukain pintunya"
"Tidak apa apa, nak. Kami yang harusnya minta maaf datang tidak kasih kabar lebih dulu. Tau sendiri mama kamu kalau sudah punya keinginan harus cepat di laksanakan kalau tidak papa bisa kelaparan, tidak di buatkan makanan" ucap Ayah mertua dengan menatap sang istri.
Ibu mertua mencubit lengan suaminya "Namanya kangen anak pasti harus di turutin, memangnya papa nggak ada sedikit pun kangen sama anak"
"Bukan tidak kangen cuma papa menunggu waktu yang tepat datang kemari, tau sendiri anak kita itu pengantin baru. Lagi sayang sauangnya masa mau di ganggu" ujar Ayah mertua menghibur Rara.
(Kalau saja kalian tau apa yang mas Erwin perbuat di belakang ku, pasti saat ini kalian akan sangat kecewa) Rara tak bisa berkata banyak hanya tersenyum hambar penuh kepalsuan yang ia suguhkan kepada kedua orang tua Erwin. Dalam diamnya terselip luka yang amat menyakitkan. Tidak ada satu pun dari mereka tau rasa sakit itu. Rara pun tenggelam dalam lamunan.
"Nak, ada apa?" Tanya Ibu mertua melihat ada kejanggalan di mata menantunya.
"Tidak apa apa ma. Oh iya mama sama papa mau minum apa? Mau teh atau kopi"
"Nanti saja kami baru saja minum kopi di warung depan sana sambil nunggu angkutan umum" jawab Ayah mertua.
__ADS_1
Rara kembali terdiam, di lema antara bilang atau tidak.
"Nak, apa kamu sedang ada masalah sama suami kamu? Apa dia menyakiti kamu atau dia...." kepanikan di wajah ibu mertuanya membuat Rara tidak enak hati mengungkap kebenaran itu. Seorang wanita paruh baya dengan kondisi fisik lemah membuat Rara iba, sampai tak enak hati mengatakan kebenarannya.
"Niara, kenapa kamu diam saja nak?" Sambung Ayah mertua sambil menaruh barang bawaan mereka. Setiap kali mereka detang pasti membawa buah tangan.
Rara kelihatan kebingungan sambil menggaruk garuk tepi wajahnya "Niara baik baik saja kok ma, pa. Hanya saja Niara kesal sama mas Erwin karena hampir setiap hari kerja lembur terus..." Dusta Rara menutupi inti permasalahan mereka.
"Maklum lah Ma, tau sendiri pengantin baru masih anget angetnya jadi pengennya deket terus, nempel kaya perangko" ucap Ayah mertua berusaha menggoda menantu satu satunya itu. Ya, Erwin anak tunggal dari seorang mantan kontraktor besar. Karena sering sakit sakitan jadi beliau mengundurkan diri dari pekerjaannya sejak beberapa tahun lalu.
Sang ibu mertua mengusap lengan menantunya "Kamu harus kasih tau Erwin biar dia jangan kerja lembur terus, kan kita udah kepingin nimang cucu"
Deg....
Ucapan itu bagaikan sebilah pisau yang menusuk hati, dengan seketika air mata Rara jatuh.
"Bukan begitu, ma. Niara cuma ingin mewujudkan impian kalian secepat mungkin" rasanya semakin sakit ketika harus berpura pura tidak apa apa di depan mereka, padahal aslinya perasaan Rara hancur berkeping. Dalam pelukan mertuanya, ia curahkan semua air mata sampai hatinya sedikit tenang.
"Kok jadi sedih gini sih, mending kamu telepon suami kamu suruh dia cepat pulang. Tadi mama kamu masakin makanan kesukaannya, sampai masaknya saja pake hati..." Ucap Ayah mertua sambil memberikan tempat makan yang sudah ada di atas meja.
"Niara tebak pasti isinya cumi pedas sama kepiting saus manis iya kan, ma?" Tebak Rara. Mereka berdua tersenyum.
"Kalau begitu Niara telepon mas Erwin dulu, mama sama papa bisa istirahat di kamar" jelas Rara sambil memegang hp.
"Ya udah kalau begitu mama sama papa istirahat di kamar dulu, ya. Oh iya, tolong nanti juga panasin sayur buat papa di tempat yang satunya, khusus makanan papa sama mama" Mengusap bahu menantunya.
Rara mengangguk. Meski putra mereka paling suka seafood tapi mereka tidak bisa makan itu sejak keduanya terkena penyakit dalam. Bukan tidak boleh hanya saja mereka menjaga kondisi fisik supaya tetap sehat. Makanan mereka serba sayur hijau, buah, dan beras merah.
"Kamu bisa pulang sekarang tidak? Mama dan papa datang ke rumah. Mereka menanyakan kapan mas akan pulang" ucap Rara pada suaminya di telepon. Bukannya jawaban yang di dapat tapi suara hening dan beberapa saat ada suara ******* di sana. Sontak kedua bola mata Rara membulat, emosinya kembali memuncak.
__ADS_1
"Kurang ajar" kesalnya sambil menutup telepon. Hp di tangan ia lempar ke atas meja, sangking kesal dan sakit hatinya di perlakukan seperti itu.
"Bisa bisanya mereka mendesah di saat aku berurai air mata, oke mas kalau begitu kita lihat saja apa balasan bagi orang peselingkuh seperti kamu" tatapan kebencian seolah mengundang petaka untuk suaminya sendiri.
"Bagaimana nak? Apa Erwin bisa pulang sekarang" Rara terkejut mendengar suara dari belakang.
"Mama, sejak kapan mama di sana?"
"Baru saja mama keluar mau ambil tas sekalian mau ganti baju..." jelas beliau.
(Untung saja mama tidak mendengar semuanya) rasa sakit Rara tertutup rapat dengan senyum manisnya. Mereka tidak akan pernah menyangka jika di balik senyuman itu ada banyak derita dan air mata.
"Ya sudah kalau begitu mama mau ganti baju dulu" Setelah mengambil tas segera beliau kembali masuk ke dalam kamar.
"Iya, ma" Rara pun segera menghangatkan makanan sambil membuatkan minuman hangat untuk mertuanya.
"Kenapa sayang?" Erwin baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Icha tersenyum sambil memutar hp miliknya. Icha merasa berhasil menambahkan bahan bakar pada api yang sudah berkobar. ******* tadi adalah rencana Icha untuk membuat Rara semakin sakit hati.
"Em....nggak apa apa kok mas, aku cuma lagi seneng aja bisa terus sama kamu" tuturnya seraya menghampiri Erwin.
"Sayang, biar aku bantu keringkan rambut kamu, ya" Dengan perlahan Icha mengusap kepala Erwin dengan handuk kecil. Sambil memijit pelan membuat kenyamanan tersendiri bagi Erwin.
Semua hidangan sudah tersaji di meja ruang tamu, beserta teh hangat kesukaan kedua mertuanya itu.
"Erwin belum juga pulang?" Tanya Ayah mertua yang baru saja keluar dari kamar. Rara menoleh ke arah suara "Em...itu pa, mas Erwin lagi banyak kerjaan. Mungkin lusa baru pulang. Tapi, makanan dari mama sudah Niara sisihkan di kulkas buat mas Erwin nanti kalau sudah pulang." Terpaksa Rara terus berbohong demi menutupi aib suaminya.
"Memang dari dulu si Erwin itu pekerja keras banget lho nak, sampai punya istri pun dia tetap kerja keras, rela lembur pula. Memang anak mama itu suami idaman" Puji Ibu kandung Erwin.
Rara menoleh ke samping seolah menbuang muka dengan menjulurkan sedikut lidahnya (huek....suami idaman? Suami buangan kali)
__ADS_1