
Zia melesat ke arah Bright, dan pemuda itu menatap Ken yang tergeletak tak sadarkan diri, pria itu terluka tepat di bagian kepala, sepertinya ada seseorang yang ingin menghancurkan gedung baru milik ayah Lea,
"Zia"
"Kau baik baik saja"? Tanya Zia
" Jangan gila, cepat pergi" usir Bright dia tidak mau Zia ikut celaka
"Ayo bangun" ucap Zia membantu Bright
Sedangkan Micke berdiri memapah Ken, sedangkan jay, Vox dan green dalam keadaan shock namun mereka baik baik saja,
"Apa yang terjadi, ini terlalu cepat" ucap Vox
"Entahlah ayo kita pergi" ucap Jay
"Duaaaarrr"
Mereka semua lari berhamburan, dan melupakan Zia yang sedang memapah Bright, terpaksa Zia menggendong Bright, meskipun berat, namun Zia tidak bisa meninggalkan pria itu,
"Zia, turunkan aku, kau tidak boleh lelah, aku berat Zia" ucap Bright mencoba turun dari gendongan Zia
"Kau diam b0doh" bentakan Zia berhasil membuat Bright diam dan tak melawan lagi, Zia terlihat sangat keren, dan sangat memperdulikan nya,
"Astaga aku melupakan Zia" ucap Micke
"itu dia" tunjuk Jay, berlari membantu Zia dan Bright
"Turun kan dia Zia, aku yang akan menggendongnya" ucap Jay, Zia pun menurunkan Bright dengan nafas yang ter engah engah
"haaahh, hahhhh, huuuffftt"
"Tarik nafas Zia" ucap Micke memberikan alat bantu pernafasan yang selalu dia bawa untuk Zia,
"Bright kakimu" ucap Jay
"Aku baik baik saja" ucap Bright memandang kaki nya yang berdarah,
"Apa yang terjadi sebenarnya"? tanya Green heran,
" Biar saja, aku akan menelpon Ayah ku untuk membantu" ucap Bright menekan ponselnya dan memberi tahu Gun apa yang baru saja terjadi,
"Malang sekali Lea, ayahnya baru saja membangun tempat itu, namun kini sudah kembali menjadi tanah yang rata" ucap Vox menghela nafas
Bright melihat Zia yang sedang mengatur nafasnya dengan bantuan Micke dan Jay di sana, dia jadi merasa bersalah dan sangat berterima kasih kepada gadis itu,
"Zia, kau baik baik sajaa" teriak Bright
Zia memberikan lambang oke ke arah Bright, pertanda bahwa dia baik baik saja,
"Kenapa kau melakukan itu Zia, tubuh kecilmu ini terbuat dari apa, kau bisa mengangkat Bright yang begitu berat"? Ucap Jay menekan alat pernafasan Zia,
Micke diam, menatap keadaan Zia yang memprihatinkan, gadis itu lemah, namun rasa perdulinya sangat tinggi, namun ada yang mengganjal dalam hati pria kaku itu, kenapa Zia bisa melesat seperti para anggota Yakuza, hanya itu pertanyaan yang ada didalam hatinya saat ini,
" Karena dia baik baik saja, maka aku pamit pulang" ucap Zia, memegang tangan micke untuk berdiri,
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Bright singkat,
"Hemm" sahut Zia menganggukkan kepala, dan Micke pun memapah Zia kembali menuju tempat dimana motornya diparkirkan,
...****************...
Zia dan micke sudah sampai di apartemen mereka, Micke masih diam membisu, dan Zia sedang terkulai lemas di sofa
"Apa kau percaya sekarang, jika aku mengatakan bahwa aku adalah Freya"? Tanya Zia
Micke menoleh, dan menatap dalam mata Zia,, antara percaya dan tidak percaya, dia masih ragu untuk mengakui nya,
" Aku dan Zia sama sama mati pada saat bersamaan, tapi Jiwa Zia mendorongku masuk kedalam raganya ini, dia ingin aku menolongnya untuk memperbaiki sifat nya yang buruk dia hanya ingin arwahnya tenang di alam sana" ucap Freya menjelaskan
"Apakah hal yang mustahil itu akan terjadi"? tanya Micke
" Itulah yang terjadi kak, meskipun kau menolak untuk percaya sekalipun" ucap Zia
"Greppp"
Tanpa di duga, Micke memeluk Zia dengan erat, tubuhnya bergetar, Micke menahan agar tangisnya tidak pecah, namun airmatanya tidak dapat dibendung juga
"Hiks, Hiks"
"Menangislah kak Mickey Xander " ucap Zia
Micke semakin memeluk Zia dengan erat, karena hanya Freya lah yang tau nama lengkap nya, tidak ada yang tau walau Winter sekalipun
"Adik ku masih hidup" ucap Micke mendekap wajah Zia dengan lembut
***
Bright di larikan ke rumah sakit, luka di kakinya lumayan parah, dan membuat sebagian tulangnya retak, padahal kondisi kaki Bright sudah mulai membaik, namun karena peristiwa tadi malam,kaki Bright jadi harus kembali berada dalam kondisi buruk,
"Aku memang ditakdirkan untuk lumpuh selama nya" ucap Bright datar
"Tidak nak, kau akan sembuh" ucap Yuri mengusap air mata nya,
Keluarga Axelo langsung berlari menuju rumah sakit setelah Bright memberi tau mereka tentang hal yang telah menimpanya,
"Lalu bagaimana dengan Zia, bagaimana pun dia lah yang telah menolongmu" ucap Gun
"Dia pulang bersama micke, dia baik baik saja" sahut Bright
"Bro, kami pulang dulu, om, tante kami pamit, besok harus kembali kuliah, " ucap Green pamit
"Baik terimakasih untuk kalian semua nak" ucap Gun, lalu sahabat Bright pun pamit kecuali jay, yang memang seorang dokter disana,
"Apa kau bisa mengobati Zia"? tanya Bright
" Mustahil Bright, dia memiliki riwayat sakitnya dari lahir,kenapa kau jadi perduli padanya"? Tanya Jay, saat ini hanya tinggal Jay, Sun dan Bright dalam ruangan itu, Keluarga Axelo pamit pulang dan hanya Sun yang tinggal disana untuk menjaga Bright
"Kau mulai tertarik padanya Bright"? Tanya Sun menambahkan
" Aku, tidak tau" ucap nya
__ADS_1
"Kau masih punya rasa itu Bright, kejarlah sebelum kau terlambat, jangan sampai kau menyesal" ucap Jay
"Gadis itu banyak berubah, kurasa dia gadis yang baik saat ini" ucap Sun menambahkan
Ucapan Jay dan Sun masuk kedalam relung hati Bright, dia membenarkan ucapan mereka berdua, Bright ingat, Green juga menyukai Zia, dan dia tidak ingin bersaing dengan sahabatnya sendiri, namun dia juga bingung karena dia tidak pandai mengekspresikan kan diri,
...****************...
Keesokan harinya, Zia dan micke kembali ke kampus, namun Bright masih absen, Green dan vox sendiri sudah nongkrong di dekat parkiran
"Hai Zia, apa kau baik baik saja"? tanya Green
"am oke,bagaimana dengan si pria dingin"? ucap Zia
" Hmm maksudmu Bright"?
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia, si kulkas empat pintu" ucap Zia
"Hahahaha,, kurasa jika dia mendengar ucapan mu, wajahnya akan berubah mendung dan gelap" ucap Vox terbahak bahak
"Tulang kaki nya retak, padahal kakinya sudah mulai ada kemajuan, gara gara kejadian semalam, Bright kembali dalam situasi yang buruk" ucap Green mengingat betapa menderitanya Bright
"Apa aku boleh bertanya"? ucap Zia
" Ya, apa itu"?
"Kenapa si pria dingin bisa duduk di kursi roda"? tanya Zia serius
Vox, dan Green saling lirik, mereka tidak berani memberitahukan Zia, karena takut Zia marah
" Katakan saja, apapun itu, aku siap mendengarkan" ucap Zia penasaran
"Hemm, kami tidak berani Zia, sebaiknya kamu bertanya kepada tuan Gun atau nyonya Yuri, kurasa lebih sopan jika kau bertanya kepada mereka" ucap Green segan
"Oke" ucap Zia singkat, dan pamit masuk kedalam kelas, dengan Micke yang setia menjaga nya dari belakang
"Apa kau lihat, pria kaku itu, wajahnya selalu saja datar dan tanpa ekspresi, apakah orang orang keren selalu bersikap seperti itu, contoh nya Bright, dia keren dan tampan, dia juga memiliki wajah yang kaku seperti Micke" ucap Vox
"Kau benar, sepertinya hanya orang orang keren saja yang akan menampakan wajah garang, tuan Gun dan tuan Winter juga sama garang nya , hiiiiihh membayangkan wajah mereka saja aku ngeri" ucap Green bergidik
"sudah lah, ayo masuk, sudah waktunya belajar" ucap Vox, dan Green pun mengikutinya dari belakang,.
...****************...
Ada apa dengan Bright yaa,apa yang terjadi di masa lalu??
Apa kalian penasaran,,??
Tungguin up selanjutnya yaaaaa..
Jangan lupa like, suscribe dan bintang 5 nya yaaa,, vote juga weeyyy jangan pelit๐๐๐
Baca elitt
Komen syulittt ahhh,, pelitttt๐ ๐
__ADS_1