
Kinan POV
Setelah semua kejadian tadi, aku tidak menyangka Rey akan mengajakku mandi bersamanya. Aku sangat canggung dengan permintaannya. Tapi dia berhak untuk ini dan aku tidak mau berdosa untuk menolaknya. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana dia menahan sakit perasaannya selama ini. Semoga ini bisa membuatnya bahagia.
Dia membuka kemeja kerjanya dengan tatapan tajam penuh senyuman padaku. Terlihat otot dada, lengan serta bahunya yang aku rasa wanita mendambakan bisa memeluknya. Jantungku rasanya berdegup kencang. Dia hampir sempurna, kulitnya putih bersih dan tubuhnya atletis. Bahkan aku tidak yakin dengan tubuhku, aku sangat tidak percaya diri melihatnya.
Dia bersiap membuka celananya, "Tunggu dulu Rey! Dimana busa mandinya?" tanyaku.
"Jangan bilang busa mandi itu untuk menutupi rasa malumu juga! Kan sudah ada bunga-bunga mawar." tegasnya.
"Tidak, kamu memberiku hanya beberapa tangkai dan itu tidak cukup untuk menutupi bak mandi ini."
"Kenapa kamu tadi tidak minta padaku satu kebun bunga? Sudahlah aku kan pernah melihatnya, kamu tidak perlu malu!" Aku tidak memperdulikannya dan mataku tetap berkeliling mencarinya.
"Nih." Dia memberikan padaku dengan mengerutkan dahinya.
"Kenapa tidak bilang daritadi?"
Aku mengambil dari tangannya dan semua sudah siap, setidaknya busa-busa ini membantuku untuk menutupi rasa maluku.
Ku tutupi mukaku dengan kedua tanganku, karena dia sudah membuka seluruhnya dan berjalan menuju bak mandi.
Kini dia membuka tanganku paksa, "Kamu ini kenapa sayang? Lihat aku!" pintanya.
"Heeeuuh," setidaknya dia sudah masuk di dalam bak mandi itu, tubuh bawahnya tertutup oleh busa dan kelopak bunga mawar yang aku tabur tadi.
Dia menggodaku, "Ayo sini kita berendam berdua!"
Deg! Deg!
Jantungku berdegup kencang lagi kali ini mendengar pintanya.
Dia mengamatiku sedari tadi dengan kepala yang dia sandarkan di ujung bak mandi itu. "Tunggu tutup matamu dulu Rey! Aku malu membukanya di depanmu."
Ku lihat wajahnya cemberut seketika, "Apalagi?"
Ku berjalan mengambil sehelai handuk kecil dan mengikatkan ke kepalanya untuk menutupi matanya.
"Sayang, jangan membuatku penasaran seperti ini. Cepatlah!" pintanya yang membuatku semakin gugup.
Akuu masuk perlahan-lahan dan duduk di depannya. Dia tersenyum menangkap tubuhku dengan mata yang masih terikat. Ku buka perlahan-lahan ikatan itu. Dia menatapku dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Aku menunduk malu, "Kamu tau pipimu lagi-lagi merah," ucapnya. Aku langsung membalikan badanku dan membelakanginya.
Dia memelukku dari belakang dan menciumi telinga, leher serta bahuku bergantian yang membuatku seperti tersengat.
Napasku mulai terengah-engah saat tangannya mulai menyentuh perutku dan tangannya yang satunya meremas pelan payudaraku. Ingin rasanya aku menjerit saat ini namun aku tahan dengan ku gigiti bibir bawahku.
"Berhenti menggigiti bibir bawahmu, nanti akan terluka!" Dengan cepat dia menggantikan gigitan bibirku dengan bibirnya. Saat ini nyawaku jangan ditanya lagi, seperti ingin lepas dari sarangnya.
Lumayan lama dia menciumi bibirku dan bermain-main dengan lidahnya di mulutku. Aku sangat kesulitan untuk bernapas. Dadaku kembang kempis di buatnya.
Namun tiba-tiba dia menghentikannya. "Naiklah diatasku!"
"Haaah?" Aku terdiam melihatnya.
Deg! Deg! Deg!
"Ya sudah kalau kamu malu." Dia langsung merubah posisinya menjadi diatasku. Yang otomatis menumpahkan air dan busa ke lantai kamar mandi karena gerakanya. Dia memelukku sangat erat, dan menciumi bibirku lagi.
Aku bisa melihat beberapa kelopak bunga dan busa menempel di punggungnya membuatku bergairah menikmati sore ini bersamanya.
Aku kembali terengah-engah menikmati setiap sentuhan tangannya. Ku remas-remas rambutnya yang sedang mengecupi leherku dan itu semakin membuat rambutnya berantakan, menambah ketampanannya berkali-kali lipat.
"Aku hanya menyentuhnya. Kamu tidak apa-apa? Ya sudah kita bercumbu saja dulu! Aku tidak akan teruskan jika kamu belum siap, aku tidak ingin memaksamu."
Ku geleng-gelengkan kepalaku, kenapa dia sabar sekali? "Lakukan!" pintaku lirih.
Kedua tanganya memegang pipiku, "Benar? Jangan mengingat masa lalumu! Aku akan melakukan pelan-pelan. Aku coba masukkan jariku dulu ya!" Aku hanya bisa mengangguk. Jarinya mulai menyentuh lagi area sensitifku.
Deg! Deg! Deg!
"Aaaaaaaaaahk." Dia memasukkan ke dalam sana.
"Sakit?" tanyanya dengan lembut.
"Tiba-tiba aku teringat ...."
Dia menutup mulutku dengan jari telunjuknya. "Lupakan itu! Dan jangan menggigit bibir bawahmu terus!" Aku hanya mengangguk dan menahannya. Dia kembali menciumi bibirku, lagi-lagi lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku mengajak menari-nari bersama di dalamnya.
Aku yang memejamkan mata dan terlena tidak menyadari jika dia sudah mengganti jarinya dengan kejantanannya dan mendorongnya perlahan di bawah sana.
Aku hanya bisa merintih tertahan karena bibirnya masih menciumiku. "Sayang, aku sebelumnya sudah membayangkan dan ini lebih dari bayanganku. Kenapa kamu nikmat sekali? Kita harus melakukan ini sampai pagi esok."
__ADS_1
Mataku membulat seketika, "Tidak Rey, kamu sudah gila apa?"
"Ya aku sudah gila, aku tergila-gila padamu sejak dulu." Dia memacu lebih cepat. Aku sudah tidak bisa menahan lagi. Ku coba untuk mengeleng-gelengkan kepalaku.
"Kenapa?"
"A-ku ...." belum selesai berbicara dia sepertinya sudah mengerti.
"Tunggu aku!" bisiknya ditelingaku yang semakin membuatku seperti ingin menjerit.
Tak selang berapa lama dia menekan lebih dalam dan kuat, aku sudah tidak kuat dan mencakar lengannya. Kita keluar bersama-sama.
Napas kami berdua terpenggal-penggal. Dia memelukku erat. "Terimakasih sayang," bisiknya yang membuat tubuhku rasanya ingin tenggelam ke dalam bak mandi dan kini aku belum mampu membuka kedua mataku.
Tiba-tiba Rey sudah memakai sehelai handuk untuk menutupi bagian tubuhnya yang bawah. "Kamu ingin minum?" tanyanya dengan lembut dan mengelus kepalaku.
"Heem," Dia berjalan keluar kamar mandi. Dan ku ambil jubah mandi untuk menutupi tubuhku. Ku rapikan rambutku di kaca.
"Haaaah, leherku, dadaku?" Mataku membulat melihatnya.
"Ada apa sayang?" tanya Rey yang tiba-tiba masuk membawa air minum. Dan memberikannya padaku.
"Rey kapan kamu memberi tanda merah sebanyak ini?"
"Kamu tidak menyadarinya daritadi?" Ku gelengkan kepalaku. "Karena kamu tadi begitu menikmatinya." Aku malu menundukan pandanganku dari kaca itu. Dia memelukku dari belakang dan melihat bayangan kita di kaca itu.
"Tapi aku malu Rey. Bagaimana jika ada yang melihat?"
"Tapi aku bangga. Biarkan orang berkata apa, yang penting kita bahagia." Tangannya sibuk merapikan rambutku yang berantakan dibuatnya.
"Aku sangat bahagia sekali sayang, kamu sekarang menjadi milikku seutuhnya. Apapun yang terjadi kedepannya jangan pernah tinggalkan aku!" Dia memelukku semakin erat dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Sekarang kita pulang ke rumah ya!" Lagi-lagi dia menciumi leherku. Yang membuatku ingin melayang lagi.
"Heem."
Aku tidak menyangka Rey sangat selembut ini padaku.
**Dukung terus Author,
Dengan like, coment, dan votenya**! ^_^
__ADS_1