Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Dompet kosong


__ADS_3

Pagi ini aku sudah mempunyai janji dengan Gerry. Dengan terpaksa hari ini aku akan mengajak Selena jalan-jalan keluar, untuk melancarkan usaha Gerry memasang CCTV di seluruh rumahku dan juga untuk sedikit demi sedikit mengungkap rahasia kehamilan Selena.


Semalaman suntuk aku sudah berusaha mengingat kembali kapan aku mabuk dan kapan aku bertemu dengannya. Aku menikah dengan Kinan sudah berjalan dua bulan ini. Dan dua bulan sebelum menikah aku menunggunya saat itu Pinky baru di lahirkan. Dan saat aku bersemangat untuk menikahinya. Mana mungkin aku mabuk.


Aku mengingat samar-samar, aku mabuk dan Selena mengikutiku saat aku akan bertunangan dengannya. Jika kandungan Selena baru 13 Minggu berarti tak selama itu. Ah aku pusing dengan hitung-hitungan ini. Ini bukan keahlianku. Namun aku semakin yakin akan rencanaku. Dia pasti menyembunyikan sesuatu dari ini semua.


Kinan, kenapa kamu belum pulang? Setiap pagi biasanya kamu selalu menyiapkan keperluan kerjaku, membantuku memakai baju, memakaikan dasiku, menyiapkan sarapan untukku tapi sekarang aku harus mengurusnya sendiri. Aku tidak tau harus bertahan berapa lama lagi.


Aku keluar dari kamarku. Dan ku lihat Selena sudah duduk di meja makan dengan menebar senyum ke mataku yang membuatku semakin muak. "Kenapa tidak sarapan dulu Sel?" tanyaku dengan penuh basa basi.


"Nungguin Kamu Rey."


"Oh, ya sudah ayo makan!"


Ku lihat dia makan dengan lahapnya, "Sudah tidak mual lagi?" tanyaku.


"Enggak sudah hilang, kan deket kamu." wajahnya memerah seperti kepiting rebus lagi.


"Baguslah, kamu hari ini mau kemana? Mau tidak jalan-jalan denganku?" Ku minum susu di depanku dan ku tatap matanya tajam.


"Mau Rey," teriaknya kegirangan.


Ku letakan pisau dan garpu dipiring. "Ya sudah ayo sekarang berangkat!"


Dia langsung mengiyakan ajakanku. Dan kami keluar rumah. Ku bukakan pintu mobilku untuknya. Ku lihat Gerry sudah menunggu di dekat rumahku. Ku beri kode senyum tipisku pada Gerry. Dan Ku kemudikan mobilku dengan segera.


Mungkin ini hari yang menyebalkan. Lagi-lagi dia mengajakku berbelanja. Bakal terkuras lagi dompetku seperti dulu.


Sungguh sangat membosankan berputar-putar memborong baju, sepatu, tas. Dan jangan tanya Aku sibuk apa? Seperti dulu menjadi budaknya menenteng belanjaannya.


Diperjalanan pulang, ku lihat dia sering menerima telepon tapi tidak menjawab telepon itu dan terlihat gugup di depanku. "Telepon dari siapa Sel? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku yang membuat mukanya pucat seperti mayat.


"Nomor tidak dikenal." Dia memberiku senyuman palsu.


"Eem Rey, aku mau ke dokter kandungan sebentar boleh? Kamu kalau mau kerja, aku turun disini saja tidak apa-apa," ucapnya.


"Aku akan mengantarmu," ucapku padahal dalam hati berharap dia menolaknya.

__ADS_1


"Eeeeh, ti-dak perlu. Aku bisa sendiri. Aku minta uang saja boleh. Soalnya kartu-kartuku disita Papa." Dahiku mengkerut mendengarnya.


"Berapa?"


"sepuluh juta," ucapnya dengan santai.


"Haaah," mulutku ternganga.


Sepertinya dia kaget, "So-alnya dok-ter langgananku ini dokter terbaik Rey. Aku kan ingin anak kita sehat dan pin-tar. Dan perutku sudah mulai membesar aku butuh baju lagi."


"Kan tadi sudah beli," teriakku kesal.


"Aku butuh banyak Rey soalnya gampang berkeringat. Harus gonta-ganti baju." Ku pegangi dahiku. Benar-benar sial hari ini.


Mobil Ku hentikan di depan ATM. Sudah menguras habis isi dompet masih belum puas. Ku ambil uangku di mesin itu dan Ku berikan untuknya. Dia pergi dengan penuh kemenangan.


Ku lihat mobil Gerry bersiap mengikuti Selena. Ku berikan senyum tipis padanya lagi. Aku berharap hari ini juga dia bisa memberiku informasi secepatnya. Dan aku segera kembali ke kantor.


Tok tok tok


tanyaku dengan melipat tanganku di atas meja.


Dia memberiku ponselnya yang berisi rekaman Selena dengan seorang laki-laki. Terlihat di video itu Selena memberi sejumlah uang padanya. Wajahku mengkerut seketika.


"Maaf Pak Rey, Saya tadi tidak bisa merekam dari jarak dekat. Karena keadaan tempat disana sepi. Jadi video itu tanpa suara. Saya tidak mau dia curiga. Tapi Saya berjanji akan segera mencari tau siapa laki-laki itu." ucap Gerry.


Ku elus daguku, "Jadi dia tidak pergi ke dokter hari ini?"


"Tidak Pak," jawabnya singkat dengan menggelengkan kepalanya.


"Oke, aku percaya kamu akan segera menyelesaikannya."


"Lalu bagaimana soal CCTV tadi?" tanyaku.


"Semua sudah terpasang aman Pak Rey, bahkan di kamar mandi."


"Dimana dia sekarang?"

__ADS_1


"Dia sudah di rumah, dan anak buah Saya masih memantaunya."


"Bagus, lanjutkan kerjamu!"


"Baik Pak, Saya permisi dulu!"


"Heem,"


Gerry pergi meninggalkan ruangan kerjaku, "Sial, berani bermain api denganku kamu Sel?"


Sesampainya di rumah lagi-lagi aku harus memainkan drama ini lagi. Dan hatiku seperti tertusuk saat wanitaku belum pulang juga.


"Sudah pulang Rey," tanyanya dengan penuh basa basi.


Ku berikan senyum palsuku padanya, "Sudah," jawabku singkat. " Bagaimana tadi ke dokternya? Apa kandunganmu baik-baik saja?"


"Eh, eeem iya baik kok Rey. Kata dokter aku harus sering bahagia seperti tadi. Belanja, jalan-jalan, makan bareng Kamu. Itu membuat anak kita tenang." Dia mengelus-elus perutnya. Ku buang muka ini darinya. Sering-sering katamu? Bisa terkuras habis hartaku.


"Ya sudah Sel, aku mau mandi dulu!" Ku tinggalkan dia begitu saja. Aku bosan mendengar ocehannya.


Kali ini aku langsung mandi dan berusaha membasahi seluruh kepalaku dengan air. Sungguh aku butuh kamu sekarang sayang. Aku sangat merindukanmu. Biasanya kita sering mandi bersama di bawah shower ini.


Ku sandarkan kepalaku di tembok. Aku seperti tidak kuat menahan ini. Ku ambil sabun cair dan kali ini aku akan bermain sendiri dan masih kamu yang akan jadi objek fantasiku Kinan.


Aku tidak puas dengan semua ini, tapi setidaknya aku tidak menahan sakitnya. Setelah selesai, aku mengecek rekaman CCTV hari ini. Mataku membulat seketika, melihat Selena mengendap-endap masuk kamarku dan membuka laciku siang tadi. Ya sangat jelas dia sedang mengambil perhiasan Kinan.


Ku cek suama perhiasan Kinan yang tidak dia bawa sama sekali. Dan benar saja semua perhiasannya hilang tanpa tersisa satu pun.


Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Selena. Bagaimana bisa anak orang kaya dari keluarga terpandang sepertinya mencuri. Apa benar Papanya tidak memfasilitasinya lagi? Hidupnya terlalu banyak di habiskan untuk berfoya-foya dan belanja tidak jelas.


Jika wanita ini ku biarkan lama-lama di rumahku bisa-bisa habis hartaku di curinya. Semoga besok Gerry memberiku informasi yang tak kalah penting. Karena aku tidak sabar ingin segera mengusirnya dari rumahku.


"Aaaaaaarrrhhk," Ku usap gusar wajah ini.


**Dukung terus Author,


Dengan like, coment, n vote** ^_^

__ADS_1


__ADS_2