
Setelah menyelesaikan malam indah kami, dia langsung tertidur pulas. Ku helakan napasku kasar, dia belum sempat mengeluarkan rayuan gombalnya padaku, menciumku bahkan mengucapkan terima kasih. Apa mungkin dia terlalu lelah karena akhir-akhir ini dia sering pulang malam? Ku angkat kedua bahuku kemudian ku turunkan kembali.
Aku mencium pipinya, dia tak bereaksi sedikit pun. Akhirnya aku langsung tidur di atas dadanya dan memeluknya erat sampai pagi menjelang.
...****************...
Pagi ini ku buka seluruh tirai di kamar ini, silaunya sinar matahari menembus ke dalamnya. Kini aku bisa dengan jelas melihatnya masih tertidur pulas. Sedangkan anak-anakku mereka sudah bangun dari tadi.
Aku gendong mereka satu persatu dan ku dekatkan di samping suamiku yang masih belum mau membuka matanya.
Tak butuh waktu lama ocehan Pinky pun mampu membuatnya bangun. Dia beberapa kali mengucek matanya lalu tersenyum ke padaku. Ku rapikan rambutnya yang berantakan, tapi dia menyudahi dan menciumi tanganku beberapa kali, menatapku dengan mata yang sayu dan berkata, "Maaf semalam aku ketiduran lagi, sentuhanmu benar-benar menghinoptisku!"
Aku menyembunyikan senyuman malu ku atas perlakuannya pagi ini. Dia duduk menciumi anak-anakku. Lalu dia melirikku, "Kamu mau juga?" Aku tak kuat menahan rasa malu ku, ku buang wajahku dari tatapannya. Dia menarik tanganku mendekat dengannya lalu mencium bibir ku.
Aku mendorongnya karena terlalu lama durasi ciumannya kali ini. "Sudah! Apa kamu tidak malu sama anak-anak?" Dahinya mengkerut, "Lihat Pinky dia menatap kita terus!"
"Mereka belum mengerti."
"Ya sudah, cepat mandi sana! Kamu tidak kerja hari ini?"
Dia menggaruk-garuk kepalanya, "Aku capek banget. Aku tidak masuk hari ini."
"Nanti Papa marah gimana?"
Mulutnya mengerucut, "Biarlah, aku sudah punya perusahaan sendiri. Kalau Papa marah dan menyuruhku berhenti, itu bukan masalah besar untukku."
Ku kerutkan dahiku. "Maksudnya, kamu sudah membeli perusahaan tempat kerjamu dulu?" Dia menganggukan kepalanya.
"Cepat sekali?" Dia mengangkat kedua bahunya.
"Kamu lusa mau ikut kesana? Cuma penyambutan dan perkenalan saja kok. Aku sudah menunjuk orang untuk mengelolanya."
Aku membuang muka dan berpikir sejenak. Seketika aku mengingat wanita itu. Jika dia tau suamiku sekarang pemilik perusahaan tempatnya bekerja pastilah dia akan lebih aktif menggodanya.
"Tidak, tidak ini tidak boleh terjadi." Ku gelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Kamu tidak ikut?"
"Haaah," Aku terlonjak kaget dengan pertanyaannya. "A-aku ikut." Dia mengangguk kebingungan.
Tiba-tiba ponselnya di meja berbunyi, aku meraihnya dan memberikan padanya. Tapi dia malah mengembalikannya padaku. "Siapa yang telepon? Kenapa tidak diangkat?"
"Papa." Dia menarik selimutnya kemudian tidur kembali. "Aku sudah bilang sama Papa, hari ini aku libur. Kepalaku mau pecah rasanya. Kerjaan yang Papa berikan padaku seperti ingin mencekikku."
Ku helakan napasku, "Kan cuma kamu anaknya, jadi ya kamu yang bisa di percaya." Dia menutupi wajahnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku bawakan sarapan kesini ya?" Dia hanya berdehem.
Ku gendong anakku keluar dan kembali pada kamar mereka untuk tidur kembali karena dari petang mereka sudah terbangun.
Ku siapkan sepotong roti dengan selai coklat diatasnya. Aku juga menyiapkan secangkir kopi susu untuknya.
Ku buka perlahan selimutnya. Dia membuka matanya dan duduk menatapku. Dengan cepat dia menghabiskan roti dan kopi itu.
"Kamu mandi sana!"
Dia mendekatkan mulutnya di telingaku dan berbisik, "Mandinya sama kamu ya? Kita sudah lama tidak main air berdua." Ku picingkan mataku. Dia mengangkat kedua alisnya. Dan mencium tanganku. Aku hanya bisa mengangguk malu. Dia tersenyum lebar dan menggigit bibir bawahnya.
Tok tok tok tok
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang keras dari pintu kamar kami. Dia mengerutkan dahinya. "Rey," Suara itu sangatlah tidak asing bagi kami. Dia menjambak rambutnya.
"Oh Papa," teriaknya dengan geram.
"Rey bangun, buka pintunya!" teriak Papa. Dia beberapa kali mengusap gusar wajahnya.
Aku berlari mengambil celana pendek untuknya. Dengan cepat dia memakainya dan berjalan membuka pintu.
Papa melihatnya dari ujung kepala sampai kaki dengan bola mata yang sepertinya ingin keluar. Ya penampilan suamiku kali ini masih dengan rambut berantakan, telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendeknya.
Papa berteriak, "Kamu belum siap? sebentar lagi ada meeting."
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang kemarin, hari ini aku tidak masuk Pa."
"Mentang-mentang sudah punya perusahaan sendiri sekarang kamu lari dari tanggung jawabmu." Dia menjambak-jambak rambutnya. "Harusnya Papa tidak perlu membantumu untuk mendapatkan perusahaan itu."
"Iya, iya. Aku siap-siap dulu."
"Satu jam lagi meeting dimulai, jika kamu belum sampai di kantor Papa tidak akan lagi membantumu!" Papa langsung pergi meninggalkan kami. Dia hanya ternganga mendengarnya.
"Menyebalkan," gerutunya. Aku mengusap-usap bahunya untuk membantu menurunkan emosinya kali ini. "Maaf ya sayang, kita tidak bisa main air berdua pagi ini!"
Ku kerutkan dahiku, "Ya sudah cepat mandi! Aku siapkan bajumu." Aku berjalan menyiapkan semua keperluannya. Namun tiba-tiba dia memelukku dari belakang, dan mencium pipiku berulang kali. "Masih sempat-sempatnya, kamu sudah telat. Dimarahi Papa lagi nanti!"
"Kalau capek juga bakal diem sendiri."
Aku melepaskan pelukannya dan ku kerutkan dahiku. Dia mengaruk-garukan kepalanya lagi. Sepertinya sudah mengerti maksudku dan berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi seperti biasa aku membantunya mengenakan kemeja dan dasinya. "Kamu yang semangat dong, tanpa Papa kamu tidak mungkin seperti ini. Kamu mau jadi karyawan biasa kayak dulu?"
"Mau, asal sama kamu."
Ku picingkan mataku, "Iiiihhh, mau apa? Ngeluh terus gitu dimaki-maki bos mu."
"Beda ceritanya, dia itu cemburu sama aku. Dia pikir aku punya hubungan sama Andini. Tapi tenang saja, sudah ku bungkam mulutnya sekarang."
"Terus wanita itu masih kerja di perusahaanmu sekarang?" Wajahku cemberut. Seperti ada rasa takut di dalam dada ini.
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
Like ❤