Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Apa fungsinya?


__ADS_3

"Nanti aku anterin pulang ya Om!" tanya anak kecil yang mulutnya sibuk menguyah ini.


"Kamu tidak betah tinggal disini?"


"Betah, tapi aku ingin pulang. Nanti kapan-kapan aku tidur sini lagi!" Kami hanya tersenyum mendengarnya. Suamiku menganggukan kepalanya dan memasukkan satu suap nasi ke mulutnya.


Nasi goreng yang dipiring Els sudah habis. Aku menyuruhnya untuk segera mandi. Dia mengangguk dan pergi dalam rumah. Hanya tinggal kami berdua di pinggir kolam renang.


"Kamu tidak sarapan?" tanyanya dengan mengerutkan dahi. Raut wajahnya seperti ingin memakanku. Aku tak berani menatapnya dan hanya ku geleng-gelengkan kepalaku. "Diet lagi? Apa ucapanku semalam sudah kamu lupakan?" teriaknya. Dia menghembuskan napasnya kasar dan membuang mukanya.


"Bukan begitu, yang penting kamu makan dulu. Aku bisa sarapan nanti."


Bola matanya membulat seketika seperti ingin keluar dan mencolokku. "Yang menyusui itu aku apa kamu? Gimana mau keluar susunya kalau tidak mau makan?"


"Ya sudah kamu saja yang menyusui sana! Makan yang banyak!"


Mulutnya ternganga. Tiba-tiba ada pengasuh anakku yang menggendongnya karena sudah bangun dan memberikan anakku di pangkuanku.


"Haus itu!" teriaknya.


Aku hanya meliriknya dan mencoba menyusuinya. "Kamu lihat ini dadaku, leherku! Coba kalau ada melihat pas aku menyusui gini, mau ditaruh dimana mukaku? Punya suami otaknya mesum, tidak mau ngalah sama anaknya!"


Mulutnya lagi-lagi ternganga, "Tidak usah lebar-lebar buka mulutnya, jadi gemes pengen masukin bola kasti kesana!"


"Tidak sekalian bola basket? Aku cuma membantumu. Anggap saja itu imbalannya."


Ku kernyitkan mukaku, ku lihat anakku masih menyusu. "Keluar tidak susunya?" Ku angkat kedua bahuku kemudian ku turunkan lagi.


"Kamu saja yang nyusui! Kamu punya juga kan." Dia menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Aku tertawa pelan melihatnya.


"Aku juga bingung sebenarnya ini fungsinya apa ya?"

__ADS_1


"Munurutmu?" tanyaku.


"Apa buat aksesoris gitu ya? Dari pada polos bingung bedakan mana punggung dan mana dada," ucapnya dengan mulut yang dimanyunkan.


Aku tidak sanggup menahan tawaku. "Perutku sakit, serasa ada yang menggelitik."


"Eh kamu dilarang ketawa!"


"Kamu tuh yang buat aku ketawa!"


Dia mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya, "Ya sudah makan dulu! Sini aku suapin!" Dia mengambil satu sendok nasi dan menyuapiku. "Ceritanya sepiring berdua lagi nih, kismin lagi!" Ku kerutkan dahiku.


"Kinaaaaan,"


Ku lihat arah suara yang tak asing itu. Mataku berbinar melihatnya. Wina berlari ke arahku dan memelukku.


"Astaga," teriaknya sambil menutupi wajahnya. Aku dan Rey saling pandang dan keheranan melihatnya.


"Ada apa?" tanyaku dengan membuka paksa tangannya.


Aku masih memaksa untuk membuka tangannya saat suamiku selesai menutupi tubuhnya. Kami mulai berbincang-bincang banyak. Suamiku, dia memilih meninggalkan kami dan seperti akan masuk rumah. "Sayang hari ini kamu mau kerja?" Aku menghentikan langkahnya.


"Iya, aku cuma sebentar. Nanti aku akan pulang cepat! Aku juga harus mengantar Els juga kan."


"Ya sudah, aku bantu persiapkan bajumu dulu. Nitip anakku bentar Win!"


Dia mengangguk dan masih sibuk mengajak bicara anakku.


Suamiku, dia berjalan ke kamar mandi. Dengan cepat aku menyiapkan semua keperluannya.


Aku membantu mengenakan baju dan dasinya. Dia memegang pinggangku dan matanya terus menatapku, aku hanya mampu meliriknya.

__ADS_1


Kemudian dia memegang kedua pipiku dan memiringkan kepalanya. Semakin mendekat dan dia mencium bibirku. Aku berusaha menghindarinya.


"Dasimu masih berantakan!" Dia mengerucutkan mulutnya.


"Ponselmu aku bawa ya? Nanti aku belikan lagi," tanyanya.


"Bawa saja! Asal jangan nyimpen nomor cewek!"


"Siap."


"Kalau ada wanita yang menggodamu, kamu harus bilang sama aku!"


"Oke, mau kamu jambak lagi ya? Tenang nanti aku bantuin!"


Dia terkekeh, aku memukul pelan dadanya. Aku berjinjit membenahi sedikit rambutnya dan semua sudah beres. Aku mencium tangannya, dia mencium puncak kepalaku lalu memelukku.


"Aku mencintaimu." Aku tersenyum malu dan ku tenggelamkan wajahku di pelukannya. Tidak pernah bosan aku mendengar ungkapan perasaan yang keluar dari mulutnya.







Di like seneng banget,


Di coment apalagi. 🥰

__ADS_1


Aku kasih bonus nih! 🤭 💑



__ADS_2